Kamis, 13 Februari 2014

BELAJAR SEJARAH DENGAN TIMELINE

Banyak orang yang tidak tertarik dengan pembelajaran sejarah. Pelajaran sejarah yang diberikan di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) serta Sekolah Menengah Atas (SMA), dirasa kurang bisa menimbulkan semangat belajar. Hal ini bukan salah siswa saja, mengapa mereka merasa bosan dan jenuh, namun sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi alasan mereka tidak tertarik belajar sejarah dan terkesan kurang menimbulkan”greget”. Faktor-faktor dominan timbulnya kebosanan belajar sejarah adalah bukan hanya pada tataran materi ajar saja, namun juga terletak pada cara penyajiannya. Metode yang cenderung monoton dan konvensional selalu saja menghiasi pembelajaran di kelas dan juga bahan ajar yang kurang terkemas dengan manis menjadi penyebab semua itu. Disamping faktor-faktor eksternal lainnya antara lain lingkungan yang selama ini kurang apresiatif terhadap sejarah .
Islam sangat menghargai sejarah. Bahkan ayat-ayat Al-Qur’an yang merupakan kitab suci kaum muslim yang berisi kumpulan introduksi fundamental  doktrin agama bagi umatnya, disamping berisi tentang kisah-kisah faktual.  Sudah selayaknya isi kandungan Al-Qur’an dipelajari, dipahami dan selanjutnya diaplikasikan oleh siswa dan kaum muslim dalam kehidupan sehari-hari.sehingga ruh dari sejarah benar-benar membumi dan menjadi spirit untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Sejarah menurut Roeslan Abdulgani adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian. Dalam hal ini segala sepak terjang dan hasil budayanya bisa dijadikan “ibrah” (pelajaran) yang bisa membangun karakter siswa. Belajar sejarah berarti juga melatih siswa untuk berfikir kritis dan mampu mengkaji setiap perubahan di lingkungan serta memiliki kesadaran akan perubahan dan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Belajar sejarah juga mampu merubah mindset siswa dari ketidaktahuan dan kesimpanngsiuran berita yang ada di masyarakat luas.
            Belajar sejarah dengan cara penggunaan timeline? Mungkin masih jarang yang mau melakukannya, karena dirasa tidak berguna dan sia-sia saja belaka. Namun, cara ini sebenarnya dapat membantu siswa dalam aspek kognitif. Materi yang dibaca dan dipelajari akan selalu ‘inhern” melekat di benak pembacanya. Timeline atau lebih dikenal kronologis akan memudahkan siswa dalam belajar sejarah. Istilah kronologis tidak asing lagi bagi siswa-siswi masa kini. Apa pasal? Sebab sebagian besar siswa  mulai dari siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) memiliki jejaring sosial, semisal facebook.  Di facebook ada lapak kronologis akan ditampilkan urutan kejadian  atau peristiwa lengkap dengan yang data hari tanggal bahkan hitungan menit sekalipun. Materi sejarah yang cocok menggunakan timeline antara lain Materi Sejarah Nabi Muhammad SAW ( materi Kelas VII SMP Semester1 ), Memahami Sejarah Nabi ( Materi Kelas VIII Semester II). Langkah-langkah dilakukan cukup sederhana. Siswa diberi tugas membaca materi sejarah. Selanjutnya setelah dibaca 1 sampai duka kali dan siswa merasa memahami, selanjutnya murid disuruh untuk membuattabel atau kolom. Kolom pertama  ditulis urutan no, kolom kedua taggal tahun peristiwa dan kolom ketiga kejadian. Langkah terakhir, siswa disuruh mengisi kolom atau tabel sesuai dengan kejadian atau peristiwa. Agar siswa merasa produknya dihargai, siswa disuruh mempresentasikan hasil timelinya di depan kelas. sederhana bukan?
  ini antara lainTentu saja tidak semua materi sejarah tepat dengan cara ini, sebab belajar sejarah ada yang menonjolkan aspek afektif dan psikomotor, yang tentunya menggunakan dengan metode dan strategi yang berbeda.


1 komentar:

M.A Utami mengatakan...

siiip

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan