1 Maret 2013 :
Seminggu yang lalu kupu-kupu gajah
coklat itu berputar-putar mengelilingi ruang tamu. Kadangkala hinggap di
jendela, di ternit, di dinding dan bertengger di sudut sofa. Aku tidak tahu apa
yang dilakukannya di sana. Dia menari, bercengkrama menikmati kesendiriannya.
Hingga anak bungsuku, Naima membangunkan lamunanku.
“Bunda... Bunda lihat ada kupu gajah coklat besar sekali di sudut ruang
solat, jangan diganggu Bunda... biarkan dia beterbangan sesuka hatinya.”
Kudekati dia dan segera kubelai rambutnya yang agak bergelombang dengan penuh
kasih. Nampak masih ada sisa-sisa peluh yang membasahinya karena habis
bermain-main dengan teman sebayanya di halaman sana.
“Ya… ya...indah sekali ya, Nak... Bunda tidak akan mengganggunya. Biarkan dia hidup lepas...” sahutku. Si bungsupun menari-nari dan bernyanyi
dengan riangnya. Tanpa beban. Suaranya lepas. Menumpahkan ekpresi jiwanya. Indah ... semua menjadi
indah.
Kupi kuwi tak incupe, mung mabure ngewuhake
Ngalor ngidul, ngetan balik ngulon
Mrono mrene, mung separan-paran
Sopo bisa ngincupake, mentas mencok cegrek
Banjur mabur bleber
Itulah lagu kupu yang sempat dinyanyikan anak bungsuku.
Kelihatannya dia berbakat menyanyi. Keceriaan yang disuguhkan anak bungsuku di
hari itu menghapus segala duka nestapa yang kadang datang tidak diminta.
“Bunda ... Bunda.. kata orang, kalau ada kupu besar pertanda akan dapat rejeki yang banyak ya, Bun? Apa benar itu, Bunda?” Pertanyaannya
kembali membangunkan lamunanku.
“Ya… itu hanya gugon
tuhon. Hanya kebetulan saja, Nak. Tapi, ucapanmu Bunda amini ya, Nak.
Siapa tahu Allah bakal memberi
rejeki pada keluarga kita.”
“Ya… ya ... semoga ya, Bun. Dia menimpali sambil menari-nari dengan riangnya.”
2 Maret 2013 :
Dering suara telpon memecah keheningan di siang itu. Segera kuangkat
gagang telpon dan ternyata dari
suamiku. Dia mengabariku bahwa nanti sore akan ada tamu. Segera kubergegas
pulang dari tempat kerjaku. Membeli ini dan itu untuk menghormat para tamu yang
bakal datang. Tak lupa bersih-bersih rumah agar indah dipandang mata. Malam
ahad akhirnya datang juga. 11 tamuku
membuat ramai sekali rumahku di malam itu. Canda tawa melengkapi
keakraban yang tercipta ketika sedang berkumpul.
Tiba-tiba, kami
berempat duduk bersama di ruang makan dan memulai pembicaraan. Aku,
suamiku, anak sulungku, ayah mertua dan ibu mertuaku terlibat dalam pembicaraan tentang pendidikan anak-anak.
”Mau meneruskan kemana anakmu? Yach, anak sulungku menjawab secara langsung. Dengan penuh
semangat dia menunjuk salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
“Yang namanya kemauan anak itu harus didukung, kita sebagai orang tua harus
Tut Wuri Handayani. Jangan sampai cita-cita anak dipatahkan. Dia
berani memilih jurusan itu sudah mengukur kemampuannya.” Kuiyakan saja semua
kata-kata ayah mertuaku. Sambil menunduk, aku dengarkan saja semua kata-katanya
yang meluncur deras dari bibirnya. Tatapannya teduh.
Suaranya rendah dan pelan penuh makna. Menunjukkan bahwa beliau sudah kenyang
dengan asam garam kehidupan.
Aku memang masih butuh bimbingan dan masukan dari para orang tua. Tidak ada
salahnya aku menjadi pendengar yang baik pada malam itu. Hingga akhirnya,
Ayah mertua membantu dukungan
material untuk persiapan kuliah anakku. Sungguh tidak kuduga. Rejeki memang
misteri.
Dan Allah memberi rejeki dari
jalan yang tidak pernah kita sangka
asalnya. Rp. 10.000.000,- bukan jumlah yang sedikit. Ini bukan hutang. Ini rejeki nomplok.
”Ya Allah, Alhamdulillah. Engkau Maha Kaya,
Maha Baik... Maha segalanya. Selalu memberikan jalan bagi
hamba-hamba-Nya
yang mau berusaha dan berdoa. Aku, suamiku dan anak sulungku menangis sesenggukan karena terharu. Bahagia
dan terharu bercampur aduk jadi satu. Ada secercah harapan untuk menggapai asa. Kejadian di
malam itu, sungguh tidak mungkin dilupakan selamanya. Kenangan indah...
kenangan manis... Sekali lagi, terima kasih Ya Allahku,
sesembahanku. Kau Maha Baik, baik sekali.
3 Maret 2013 :
Assalamualaikum... bunyi bel rumah menggema. aku sedang
shalat Dhuha saat itu. Ketiga putriku berlari melihat siapa tamu yang datang.
“Eeee... budhe
Saadah. Wa’alaikum salam... mari masuk, dengan siapa budhe?” Anak-anakku segera berjabat tangan dan mencium tangan budhenya dengan lembut.
”Sendirian,
kan pakde sudah meninggal, sehingga sudah tidak ada yang mengantar
lagi” “Ya, ya… budhe, jawab anak-anakku”. Segera kutemui budheku yang sudah agak uzur. Kasihan
juga melihatnya, wajahnya yang renta menandakan perjuangannya yang berat dalam
menjalani kehidupan.
”Sehat budhe?”
kataku
membuka percakapan.
”Alhamdulillah, sehat.”
Jawabnya
pendek. Segera
kusuguhkan segelas minum teh hangat dan camilan seadanya.
Percakapan beralih ke masalah
keluarga tentang anak-anak dan orang tua. Suasana akrab begitu tercipta.
Cerita-cerita lucu masa kecil juga menghiasi pertemuan kala itu. Akhirnya, kami sepakat untuk menziarahi makam ayah dan bunda tercinta. Sambil
mendoakan beliau agar diampuni segala dosanya serta dilapangkan tempat baginya.
Seraya mengingat-ingat bahwa suatu saat nanti, kami semua juga akan mati. Maka
pergunakanlah waktumu dengan sebaik-baiknya sebelum ajal datang menjemput.
Ada tiga hal yang tidak
akan putus ketika anak Adam meninggal yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang
bermanfaat dan anak sholih yang selalu mendoakan orang tuanya. Tiga hal ini
hendaknya ditanamkan di dalam hati sanubari setiap orang Islam. Budheku menutup
pembicaraan di siang itu dengan kata taushiahnya yang baik dan pantas untuk
direnungkan.
4 Maret 2013 :
Dua gadis mengucapkan salam di siang nan panas. Segera aku jawab, “Waalaikum salam. Siapa ya?”
“Akan ada kejutan untuk Ismi putri ibu.”
Kata-katanya
kompak bagai koor.
”Memangnya kejutan apa?” kataku dengan
suara tenang.
“Hari ini kan Ismi ulang tahun, sweet seventeen, teman-teman mau kesini.” “Walah, ya sudah masuk masuk sini. Biasanya hari Senin les sampai Maghrib.” kataku.”
“Ini baru
muter-muter dengan teman kok, Bu. Tidak ada les khusus hari ini.” Segera kubergegas ke
dapur. Bagaimanapun tamu harus dihormati,
batinku. Apalagi ini anak-anak baru pulang sekolah, pasti lapar.
Segera aku persiapakan gelas untuk membuat minuman. Tamu 20 orang itu tidak
sedikit. Aku langsung meluncur dengan sepedaku untuk mencari sesuatu. Sementara
dua tamuku kutinggal di rumah. Aku yakin mereka anak-anak yang baik, sehingga
bisa menjaga amanah.
Tepat jam 14.30,
anakku tiba di rumah bersama teman-temannya. Seperti acara di TV saja. Ternyata
teman-temannya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Ada tulisan Sweet Happy Birthday di kertas yang besar, roti tart sampai dengan nyanyian
yang khusus diperuntukkan untuk putriku. Sungguh ini baru seumur hidup terjadi
dalam keluargaku. Sebab bertahun-tahun kami tidak pernah mengadakan acara
seperti ini. Biasanya hanya ada gudangan dan doa bersama saja sambil dibagikan
ke tetangga terdekat.
Biarlah,
dia menikmati usia ke 17-nya dengan cara yang berbeda. Toh tidak ada yang
berlebihan, dan semua sudah disekenario oleh teman-teman sekelasnya. Hanya
makan bersama dan diakhiri shalat ashar berjamaah.
”Selamat
ulang tahun putriku tersayang. Selamat berjuang untuk meraih masa depan yang cemerlang. Selalu semangat dalam berbuat baik, semoga menjadi
generasi penerus bangsa yang membanggakan serta sholihah.”


0 komentar:
Posting Komentar