Sabtu, 28 Juni 2014

KEJUTAN MARET

1 Maret 2013 :

Seminggu yang lalu kupu-kupu gajah  coklat itu berputar-putar mengelilingi ruang tamu. Kadangkala hinggap di jendela, di ternit, di dinding dan bertengger di sudut sofa. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya di sana. Dia menari, bercengkrama menikmati kesendiriannya. Hingga anak bungsuku, Naima membangunkan lamunanku.
“Bunda... Bunda lihat ada kupu gajah coklat besar sekali di sudut ruang solat, jangan diganggu Bunda... biarkan dia beterbangan sesuka hatinya.” Kudekati dia dan segera kubelai rambutnya yang agak bergelombang dengan penuh kasih. Nampak masih ada sisa-sisa peluh yang membasahinya karena habis bermain-main dengan teman sebayanya di halaman sana.
“Ya ya...indah sekali ya, Nak... Bunda tidak akan mengganggunya. Biarkan dia hidup lepas...” sahutku. Si bungsupun menari-nari dan bernyanyi dengan riangnya. Tanpa beban. Suaranya lepas. Menumpahkan ekpresi jiwanya. Indah ... semua menjadi indah.
 Kupi kuwi tak incupe, mung mabure ngewuhake
 Ngalor ngidul, ngetan balik ngulon
 Mrono mrene, mung separan-paran
 Sopo bisa ngincupake, mentas mencok cegrek
 Banjur mabur bleber
Itulah lagu kupu yang sempat dinyanyikan anak bungsuku. Kelihatannya dia berbakat menyanyi. Keceriaan yang disuguhkan anak bungsuku di hari itu menghapus segala duka nestapa yang kadang datang tidak diminta.
“Bunda ... Bunda.. kata orang, kalau ada kupu besar pertanda akan dapat rejeki yang banyak ya, Bun? Apa benar itu, Bunda?”  Pertanyaannya kembali membangunkan lamunanku.
“Ya itu hanya gugon tuhon. Hanya kebetulan saja, Nak. Tapi, ucapanmu Bunda amini ya, Nak. Siapa tahu Allah bakal memberi rejeki pada keluarga kita.”
“Ya ya ... semoga ya, Bun. Dia menimpali sambil menari-nari dengan riangnya.”

2 Maret 2013 :
Dering suara telpon memecah keheningan di siang itu. Segera kuangkat gagang telpon dan ternyata dari suamiku. Dia mengabariku bahwa nanti sore akan ada tamu. Segera kubergegas pulang dari tempat kerjaku. Membeli ini dan itu untuk menghormat para tamu yang bakal datang. Tak lupa bersih-bersih rumah agar indah dipandang mata.   Malam ahad akhirnya datang juga. 11 tamuku  membuat ramai sekali rumahku di malam itu. Canda tawa melengkapi keakraban yang tercipta ketika sedang berkumpul.
Tiba-tiba, kami berempat duduk bersama di ruang makan dan memulai pembicaraan. Aku, suamiku, anak sulungku, ayah mertua dan ibu mertuaku terlibat dalam pembicaraan tentang pendidikan anak-anak.
Mau meneruskan kemana anakmu? Yach, anak sulungku menjawab secara langsung. Dengan penuh semangat dia menunjuk salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.
“Yang namanya kemauan anak itu harus didukung, kita sebagai orang tua harus Tut Wuri Handayani. Jangan sampai cita-cita anak dipatahkan. Dia berani memilih jurusan itu sudah mengukur kemampuannya.” Kuiyakan saja semua kata-kata ayah mertuaku. Sambil menunduk, aku dengarkan saja semua kata-katanya yang meluncur deras dari bibirnya. Tatapannya teduh. Suaranya rendah dan pelan penuh makna. Menunjukkan bahwa beliau sudah kenyang dengan asam garam kehidupan.
Aku memang masih butuh bimbingan dan masukan dari para orang tua. Tidak ada salahnya aku menjadi pendengar yang baik pada malam itu. Hingga akhirnya, Ayah mertua membantu dukungan material untuk persiapan kuliah anakku. Sungguh tidak kuduga. Rejeki memang misteri. Dan Allah memberi rejeki dari jalan yang  tidak pernah kita sangka asalnya. Rp. 10.000.000,- bukan jumlah yang sedikit. Ini bukan hutang. Ini rejeki nomplok.
Ya Allah, Alhamdulillah. Engkau Maha Kaya, Maha Baik... Maha segalanya. Selalu memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa. Aku, suamiku dan anak sulungku menangis sesenggukan karena terharu. Bahagia  dan terharu bercampur aduk jadi satu. Ada secercah harapan untuk menggapai asa. Kejadian di malam itu, sungguh tidak mungkin dilupakan selamanya. Kenangan indah... kenangan manis... Sekali lagi, terima kasih Ya Allahku, sesembahanku. Kau Maha Baik, baik sekali.

3 Maret 2013 :
            Assalamualaikum... bunyi bel rumah menggema. aku sedang shalat Dhuha saat itu. Ketiga putriku berlari melihat siapa tamu yang datang. “Eeee... budhe Saadah. Waalaikum salam... mari masuk,  dengan siapa budhe? Anak-anakku segera berjabat tangan dan mencium tangan budhenya dengan lembut.
Sendirian, kan pakde sudah meninggal, sehingga sudah tidak ada yang mengantar lagi”  “Ya, ya budhe, jawab anak-anakku”. Segera kutemui budheku yang sudah agak uzur. Kasihan juga melihatnya, wajahnya yang renta menandakan perjuangannya yang berat dalam menjalani kehidupan.
Sehat budhe?” kataku membuka percakapan.
Alhamdulillah, sehat.” Jawabnya pendek. Segera kusuguhkan segelas minum teh hangat dan camilan seadanya.
 Percakapan beralih ke masalah keluarga tentang anak-anak dan orang tua. Suasana akrab begitu tercipta. Cerita-cerita lucu masa kecil juga menghiasi pertemuan kala itu. Akhirnya, kami sepakat untuk menziarahi makam ayah dan bunda tercinta. Sambil mendoakan beliau agar diampuni segala dosanya serta dilapangkan tempat baginya. Seraya mengingat-ingat bahwa suatu saat nanti, kami semua juga akan mati. Maka pergunakanlah waktumu dengan sebaik-baiknya sebelum ajal datang menjemput.
Ada tiga hal yang tidak akan putus ketika anak Adam meninggal yaitu : shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang selalu mendoakan orang tuanya. Tiga hal ini hendaknya ditanamkan di dalam hati sanubari setiap orang Islam. Budheku menutup pembicaraan di siang itu dengan kata taushiahnya yang baik dan pantas untuk direnungkan.

4 Maret 2013 :
Dua gadis mengucapkan salam di siang nan panas. Segera aku jawab, “Waalaikum salam. Siapa ya?”
“Akan ada kejutan untuk Ismi putri ibu.”  Kata-katanya kompak bagai koor.
Memangnya kejutan apa?” kataku dengan suara tenang.
“Hari ini kan Ismi ulang tahun, sweet seventeen, teman-teman mau kesini.” “Walah, ya sudah masuk masuk sini. Biasanya hari Senin les sampai Maghrib.” kataku.”
 “Ini baru muter-muter dengan teman kok, Bu. Tidak ada les khusus hari ini.” Segera kubergegas ke dapur. Bagaimanapun tamu harus dihormati, batinku.         Apalagi ini anak-anak baru pulang sekolah, pasti lapar. Segera aku persiapakan gelas untuk membuat minuman. Tamu 20 orang itu tidak sedikit. Aku langsung meluncur dengan sepedaku untuk mencari sesuatu. Sementara dua tamuku kutinggal di rumah. Aku yakin mereka anak-anak yang baik, sehingga bisa menjaga amanah.
Tepat jam 14.30, anakku tiba di rumah bersama teman-temannya. Seperti acara di TV saja. Ternyata teman-temannya sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Ada tulisan Sweet Happy Birthday di kertas yang besar, roti tart sampai dengan nyanyian yang khusus diperuntukkan untuk putriku. Sungguh ini baru seumur hidup terjadi dalam keluargaku. Sebab bertahun-tahun kami tidak pernah mengadakan acara seperti ini. Biasanya hanya ada gudangan dan doa bersama saja sambil dibagikan ke tetangga terdekat.
Biarlah, dia menikmati usia ke 17-nya dengan cara yang berbeda. Toh tidak ada yang berlebihan, dan semua sudah disekenario oleh teman-teman sekelasnya. Hanya makan bersama dan diakhiri shalat ashar berjamaah.
Selamat ulang tahun putriku tersayang. Selamat berjuang untuk meraih masa depan yang cemerlang. Selalu semangat dalam berbuat baik, semoga menjadi generasi penerus bangsa yang membanggakan serta sholihah.



0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan