Jumat, 04 Juli 2014

URGENSI KONTEKSTUALITAS PENDIDIKAN AKHLAK

Di era global, pengaruh pergaulan cepat berembus ke berbagai belahan dunia. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Maka diperlukan benteng yang kuat, agar anak tidak terjebak dengan pengaruh negatif yang akhirnya akan menjadi kebiasaannya. Untuk mengeleminir pengaruh negatif, perlu kiranya kita mengkaji ulang peran Nabi Muhammad yaitu Innamaa buitstu liutammima makaa rimal akhlak (Hadits) yang bermakna: Tidakkah Aku diperintahkan untuk memperbaiki akhlak? Untuk dapat berakhlak mulia harus kembali kepada  Garis Besar Haluan Illahi (GBHI ) yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Banyak faktor yang mempengaruhi akhlak manusia. Pengaruh tersebut dapat berasal dari dalam diri manusia ( internal) dan pengaruh dari luar ( eksternal).  Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, berasal dari Bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat. Ada empat hal yang harus ada apabila seseorang ingin dikatakan berakhlak yaitu : 1) perbuatan yang baik dan buruk, 2) kemampuan melakukan perbuatan, 3) kesadaran akan perbuatan itu dan 4) kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik dan buruk. Manusia itu dibekali dengan fitrah ( potensi). Potensi yang ada pada diri manusia itu perlu diarahkan dan dibiasakan untuk selalu berbuat baik. Tiga pakar di bidang akhlak yang perlu dijadikan  teladani  yaitu Ibnu Maskawih, Al-Ghazali dan Ahmad Amin  menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Sudah sepantasnyalah, para tokoh akhlak dijadikan teladan bagi manusia agar dapat selamat.
Dewasa ini kenakalan remaja semakin tidak terkontrol. Dapat dikatakan bahwa kenakalan remaja berada pada titik nadir atau titik kulminasi yang sangat memprihatinkan.  Realita yang berkembang di lapangan antara lain merebaknya  seks bebas ( free sex) dan minuman keras atau miras serta narkoba. Hubungan badan pada usia sekolah bukan hal yang tabu, bahkan hal itu dapat terjadi ketika siswa siswi masih berpakaian seragam yang dilakukan di kamar mandi atau toilet sekolah. Bahkan siswa SMP pun sudah tidak merasa risih atau malu berboncengan ala mama dan papa. Ketika bertemu dengan bapak ibu guru, siswa tersebut dengan tenangnya menyapa dengan tersenyum. Adegan-adegan panas dan intim ala anak SMP dan SMA dapat dilihat Ini  diketahui melalui tampilan yang dapat diunggah di You Tube. Mereka beranggapann tidak gaul kalau berpacaran belum berhubungan badan. Tidak hanya itu demi mengejar penampilan agar ok dan percaya diri para remaja putri terjebak dalam bentuk-bentuk prostitusi, baik yang terang-terangan maupun yang terselebung. Penulis pernah mewawancarai siswi yang bergabung dengan gang. Dia menuturkan bahwa untuk dapat kencan dengan siswi tersebut, nilai Rp 10.000, jadilah. Mereka tak pernah berfikir jauh tentang agama dan kesehatan, yang penting happy dan gaul. Dan jangan heran, jika didalam tas siswa terkadang ditemukan – maaf-- kondom. Hal ini tentu membutuhkan perhatian dan jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Semakin berat sajalah tantangan pendidikan akhlak di masa kini dan masa yang akan datang.
Banyak strategi dalam pendidikan akhlak. Strategi pendidikan akhlak antara lain melalui cara alami, mujahadah dan riyadhah serta suri tauladan. Pertama, Strategi alami, dimana akhlak yang baik diperoleh bukan melalui pendidikan, pengalaman atau latihan, tetapi diperoleh melalui insting atau naluri. Kedua, Strategi mujahadah dan riyadhah digunakan agar siswa menjadi penyantun, penyabar dan penyayang maka jalannya dengan membiasakan bersedekah. Ketiga,  strategi teladan, yaitu mengambil contoh atau meniru orang yang dekat dengannya yang berfungsi sebagai model. Pada saat ini dipandang perlu untuk mendidik akhlak melalui pembelajaran yang kontekstual, yang tidak sekedar teori.  Apalah artinya, seorang siswa mendapatkan nilai 90 namun ternyata mencuri, menyontek, berbuat tidak senonoh, perokok aktif, bahkan lebih ironis ketahuan hamil. Pembelajaran yang kontekstual atau Contectual teaching and learning (CTL) adalah pembelajaran yang menghubungkan antara dunia teori  dengan dunia nyata atau das sein dan das sollen.
 Tujuan pembelajaran berbasis CTL adalah lebih mendekatkan diri antara dunia teori dan praktek, agar pembelajaran lebih bermakna. Salah satu contoh pembelajaran CTL yang paling sederhana adalah  dengan media foto-foto tokoh, fenomena yang memprihatinkan yang terjadi di masyarakat, bencana alam untuk menjadi efek jera terhadap akan kuasa Allah SWT. Melalui media tersebut, siswa diberi kesempatan untuk berfikir kritis seraya menggali pesan moral yang tersirat dalam foto-foto tersebut.  Harapannya,  pesan positif dari foto-foto tersebut, yang positif diambil keteladanannya, sedangkan yang negatif harus dieliminir  dengan penuh kesadaran.


REFLEKSI HARI IBU

Begitu penting kedudukan wanita di dalam masyarakat. Oleh karena itulah Islam menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Wujud kongritnya, adanya satu surah yang membahas tentang  bab wanita, yaitu surat An-Nisaa’. Di samping itu, Islam juga sangat menghormati kedudukan ibu, buktinya yaitu penghormatan tiga banding satu dibanding ayah.
Sebagai wanita Indonesia, tentunya tidak lupa bahwa pada tanggal 22 Desember kita memperingatinya sebagai Hari Ibu. ( Belum ada hari bapak, bahkan mungkin tidak akan pernah ada, hari anak tanggal 23 Juli, Red).  Hari ibu terhitung mulai 22 Desember tahun 1928 yang lalu. Dalam teori, para wanita boleh bernafas lega atas segala bentuk penghormatan tersebut. Baik dari segi agama maupun legalitas pemerintah. Pada hari itu, idealnya para ibu diberi kesempatan untuk menikmati hari yang indah dengan menikmati hari ibunya. Para bapak pada hari tersebut gantian terjun ke dapur mempersiapkan keperluan rumah tangga yang jarang dilakoninya. Apakah bapak-bapak mau melakoninya? Banyak jawaban tentunya! Banyak variabel yang melingkupinya. Dari jawaban itu bukan tugasnya, tidak terbiasa, sampai kesibukan yang beraneka ragam. Bahkan kenyataannya pada hari tersebut, para ibu tetap saja berperan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, sebab jarang anak-anak dan suami yang sekedar mengucapkan kata “ Selamat hari ibu, mama”. Padahal itu sebenarnya penting juga. Sekedar memberikan perhatian pada pasangan hidup walau kecil dan terkesan tidak penting. Bukankah cinta dapat dibangun dari hal-hal yang kecil.
Selama tiga dasawarsa terakhir, wanita lebih berperan di masyarakat. Kalau dahulu kala peran wanita hanya sebatas peran domestik ( di dalam rumah tangga) saja, kini merambah ke peran publik ( di luar rumah tangga). Benar prediksi dari John Naisbit dan Patricia Aburdence di dalam buku “ Megatrend 2000” bahwa abad ini merupakan “ Women leadership”, era kepemimpinan wanita.  Kini kita saksikan para wanita yang ikut andil membangun bangsa di hampir semua ranah kehidupan. Ada yang berprofesi sebagai guru, dokter, polisi, perawat, penulis, bahkan sebagai pilot. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan yang sempat dienyamnya dan faktor-faktor lain yang memicunya, antara lain perkembangan informasi yang begitu deras diprediksi menjadi salah satu faktor penyebab. Disamping faktor ekonomi tentunya. Dengan dalih membantu suami dan meningkatkan kesejahteraan, wanita ikut bekerja sesuai dengan bidangnya. Tentunya akan berbeda apabila suatu rumah tangga ditanggung berdua semua kebutuhannya dengan apabila ditanggung sendirian. Ibarat kata pepatah: Berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Wanita yang bekerja juga akan memiliki kepercayaan diri yang lebih dibanding yang hanya mengurusi rumah tangga saja.
Bagi yang berpendidikan cukup, untuk dapat bekerja  kiranya tidak akan menjadi masalah, sebab memiliki modal pengetahuan yang cukup sesuai dengan ketrampilan yang dimilikinya. Namun, kenyataan di lapangan banyak wanita yang harus merelakan bekerja jauh dari keluarnya. Bahkan sampai keluar negeri untuk menjadi Tenaga  Kerja Wanita (TKW) atau Tenaga Kerja Indonesia ( TKI). Miris juga apabila mendengar berita tentang TKW atau TKI yang bekerja di luar negeri. Ada yang harus kehilangan kehormatan, menerima perlakuan kasar dari majikan atau anggota keluarga majikan, tidak menerima gaji bahkan sampai pembunuhan.
 Melihat tayangan RCTI tanggal 20 Desember 2012, memaparkan bahwa TKW yang bernama Indarti binti Haryo Mungin, berasal dari Grobogan meninggal di tempat tugasnya. Pihak majikan mengklaim bahwa kematian Indarti disebabkan oleh penyakit. Namun, ternyata setelah dicek, ada pendarahan otak yang disebabkan oleh kekerasan dan penganiayaan. Ditambah lagi selama dua tahun bekerja, Indarti tidak menerima gaji yang sudah seharusnya dia terima. Astaghfirullah... ternyata masih banyak masalah yang membutuhkan perhatian dan jalan keluar dari warga dan pemerintah. Masih banyak kasus-kasus serupa yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan secara manusiawi. Sungguh sedih, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, ternyata keropos tidak memilik sumber daya manusia yang dapat dihandalkan. Rasanya PJTKI tidak bergeming dan tidak kuasa memberikan bantuan dan solusi  atas segala permasalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Masalah pendidikan dan kesejahteraan lagi-lagi merupakan masalah yang rumit. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perlakuan TKI di negara manca. TKI yang berpendidikan rendah relatif rentan terhadap perlakuan yang kurang manusiawi. Hal ini disebabkan lemahnya penguasaan bahasa dan kemampuan lainnya. Benar kata pepatah : “ Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri seberang “. Hanya embel-embel pahlawan devisa saja yang melekat pada diri TKW ataupun TKI...

Para ibu dan calon ibu yang terhormat, sebagai tulisan akhir dari saya marilah kita emban tugas mulia kita dengan sebaik-baiknya. Wanita berperan sebagai ibu bagi anak-anak kita tersayang, sebagai istri bagi suami tercinta dan sebagai anggota masyarakat yang menjadi membawa perubahan positif. Semoga ... Amien Ya Rabb...

DESEMBER CERIA DI BUMI BANDUNGAN

Siang itu terasa begitu berat. Tumpukan tugas-tugas yang begitu banyak membuat badan terasa letih dan loyo selama 2 minggu yang lalu. Yach... maklumlah jarak tempuh rumahku yang harus kulalai ke tempat tugas memang agak jauh untuk ukuran wanita sepertiku, walaupun hanya 17 KM.  Namun tetap kulewati hari-hariku dengan penuh suka cita. Aku tetap merasa menjadi orang yang dikasihi Gusti Allah sesembahanku. Di usiaku sekarang ini aku sudah merasa mendapat nikmat yang luar biasa besar dari-Nya. Hampir semua yang kuimpikan dikabulkan oleh-Nya. Apakah ini bukan suatu kenikmatan yang wajib disyukuri? Teringat aku akan salah satu kalam Illahi di dalam Al-Qura’an Surat Ibrahim ayat 7 berikut ini:

7. dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Aku berusaha menjadi hamba-Nya yang mensyukuri akan semua nikmat-Nya. Mensyukuri nikmat-Nya dengan caraku sendiri tentunya yang tidak bertentangan dengan aturan dari-Nya. Sebisa mungkin. Bukankah iman berjalan bertambah dan berkurang seiring dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya? Kupacu sepedaku ke tempat pelatihanku di bumi Bandungan di siang itu. Derasnya air hujan menambah dinginnya suasana kala itu. Rasanya ingin kuurungkan saja agenda hari itu yang akan berjalan selama 4 hari. Namun, bayangan-bayangan akan bertemu banyak teman-teman yang senasib seperjuangan serta indahnya mencari ilmu menjadi motivasi tersendiri. Yach ... dijalani saja dengan senang hati. Bukankan janji Allah haq adanya? Allah akan mengangkat derajat oang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Sungguh! Aku ingin menjadi hamba-Nya yang dicintai-Nya. Aku ingin selalu dalam rengkuhan-Nya. Dekat... dekat dan dekat dengan-Nya, terasa indah dan menentramkan jiwa. Dingin dan sejuknya bumi Bandungan kembali menyeruak di hati ini. Pagi itu, kutelusuri bumi Bandungan  dengan melihat dan menikmati berbagai tumbuhan serta bunga-bunggan yang yang berjajar rapi sepanjang jalan Bandungan- Sumowono. Warna-warni bunga, daun dan batang menambahnya indahnya suasana bumi Bandungan. Merah, kuning, hijau, pink alangkah indahnya ciptaan-ciptaan-Nya. Subhanallah... bumiku serasa surga... tidak salah kalau orang asing memaknai Indonesia sebagai gugusan surga. Hari ini, aku akan merampungan pelatihanku. Entahlah... terasa lama sekali menanti sore tiba. Pulang dan kembali ke keluargaku tercinta. Ocehan buah hatiku yang manja dan butuh perhatian dariku kembali menari-nari di pelupuk mata. Sabar nak... ibu akan segera kembali dan berkumpul seperti hari-hari yang lalu. Baitii jannatiii... rumahku adalah surgaku... tempatku mengukir sejarah hari ini, esok dan masa-masa yang akan datang.



TIPS BELAJAR SUKSES

Perjalanan satu semester begitu cepat. Tidak terasa Ulangan Akhir Semester I ( UAS ) Tahun 2012/2013 sudah di depan mata. Semua murid tentunya ingin memperoleh nilai yang baik dan optimal bukan? Eit... tunggu dulu, sebagai seorang guru dan penulis ( baru berlatih nich ), tentu memiliki pengalaman tersendiri untuk di share. Mau tahu ? inilah pengalaman pribadi yang terangkum dalam tulisan berikut ini. Penulis bukan termasuk kategori orang yang cerdas ataupun pandai. Hanya seseorang yang biasa-biasa saja. Karena , ia juga dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja. Namun, keinginan untuk merubah nasib dan kondisi keluarganyalah yang memotivasinya untuk berubah dan berubah ke arah yang lebih baik. Kira-kira begitulah, motivasi dari dalam diri untuk berubah menjadi satu kebulatan tekad untuk terus maju menimba ilmu. Itulah yang mengantarkannya bisa menyelesaikan sekolah dan kuliah tanpa adanya kendala yang berarti. Namun, bukan berarti tidak ada rintangan dan halangan lho. Tentunya tetap ada bentuk-bentuk rintangan dan halangan tergantung cara menyikapinya saja. Bicara tentang tips belajar yang baik, jadi teringat salah satu guru Bahasa  Inggrisku sewaktu SMP dulu. Namanya Bapak Ilham Widodo. Beliaulah yang menjadi guru idolaku saat itu. Kata-katanya selalu saja menyulut semangat untuk terus belajar dan belajar terus. Seperti iklan bola lampu Philip  saja yach... terang terus... terus terang... Kata-kata yang keluar darinya masih terekam indah di hati ini. Tentu saja tentang tips atau kiat belajar yang baik. Sebagian dari petuahnya saya pakai sampai sekarang dan saya share kan ke murid-muridku, tempat untuk berbagi. Semoga murid-muridku masih mau membaca dan meniru sebagian ilmu ini, agar lebih bermakna. Sebab ilmu tanpa dilakukan akan hilang. Sebagai orang Jawa tulen, penulis ambil cuplikan lagu Macapat ( Pucung ) berikut ini. Yach... kebetulan penulis adalah seorang guru yang senang bernyanyi. Nggak ada salahnya menyanyi sambil berdakwah kan...?
Ilmu iku kelakune kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani

Intinya, di dalam mempelajari suatu ilmu, langkah berikutnya adalah diamalkan dan dipraktekkan. Dengan demikian ilmu yang kita pelajari akan inhern atau melekat dalam diri kita, dan selanjutnya akan menjadi suatu kebiasaan. Tentunya kebiasaan yang positif. Dengan ilmu yang ada pada kita, menjadikan kita kuat dan tegar dalam menghadapi tantangan hidup. Tidak mudah putus asa dan selalu positive thinking /berprasangka baik atas kejadian apapun. Agar belajar tepat sasaran rumusnya adalah : 1) Niat belajar, tanamkan untuk mempelajari ilmu dengan sungguh-sungguh karena mencari ridlo Allah SWT. Sebab orang-orang yang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah hingga beberapa derajat. 2) Belajar dengan senang hati, suasana belajar hendaknya mendukung proses belajar. Hati yang senang akan membantu proses penyerapan ilmu ke dalam otak. Bahkan nikmatnya belajar  akan terasa manis sekali ketika dapat memahami dan mengerjakan soal-soal yang ada. Inilah yang dinamakan dengan kepuasan batin dari proses belajar yang dilakukannya. 3) Belajar dari hal-hal yang sederhana ke yang sulit. Penuh kesabaran dan ketelitian serta keuletan untuk dapat memahami pelajaran. Jangan pernah ada kamus sulit dan cepat menyerah untuk memahami berbagai hal. 4) Belajar rutin. Walau sedikit tapi terus menerus dan ajeg ( istiqomah), akan lebih enak dan cepat dipahami. Istilahnya sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Jangan suka menunda-nunda pekerjaan. Kata bijak yang perlu diingat adalah : “ Never put off untull tomorrow what you can do today “.   5) Buat catatan-catatan kecil yang rapi dan mudah diingat. Misalnya dengan menggaris bawahi tulisan yang penting dengan warna merah. Atau membuat materi pokok ataupun membuat rangkuman. Hal ini akan membantu dalam balajar dan mengingat-ingat materi pelajaran. 6) Belajar di tempat yang sehat, maksudnya ventilasi yang cukup, sinar yang terang serta ruangan belajar yang bersih dan teratur. Cara belajar yang baik antara lain : Tidak belajar dengan tiduran, belajar di bus/ kendaraan dan belajar di tempat yang gelap. Sebab hal ini demi untuk menjaga kesehatan mata. 7) Bergaullah dengan teman yang pandai serta memiliki motivasi tinggi, sehingga menginspirasi untuk berbuat baik dan maju. Ada baiknya melakukan dengan belajar kelompok agar dapat saling mengisi dan berbagi. Jangan lupa yach... sehebat dan sepandai apapun seseorang, jangan pernah melupakan Yang Disana Allah SWT, Dzat Yang Maha Pandai dan Maha segalanya. Berdoa dan berdoa itu sangat penting. Sebab tanpa Ridha-Nya, mustahil manusia mampu menerima ilmu dari bapak ibu guru ataupun dari sumber lain untuk dapat menyerapnya. Semoga bermanfaat...



Kamis, 03 Juli 2014

MENEJEMEN WAKTU MENURUT AL-QUR’AN


Islam amat menekankan betapa pentingnya makna “waktu” bagi kehidupan. Namun ironisnya, justru umat Islamlah yang belum mempergunakan waktu secara optimal dan benar. Menurut laporan, waktu efektif yang digunakan oleh orang-orang Eropa masa kini lebih dari tujuh jam, sedang waktu efektif yang dipergunakan oleh orang Muslim tidak lebih dari 30 menit.[1] Dampaknya adalah timbul sinisme terhadap kinerja orang muslim Padahal semua orang tahu bahwa hanya orang yang dapat mengatur waktunya dengan baik sajalah yang dapat mencapai kesuksesan.
Jarang manusia yang mau bersusah payah untuk menggapai keberhasilan. Seperti yang dikatakan oleh Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin) seorang pemikir Islam dari Swiss, kontradiksi besar manusia ialah bahwa menghendaki hal yang banyak tetapi enggan bersusah payah, ia menghendaki kenisbian menuju kemutlakan, namun enggan menanggung penderitaan akibat tantangan-tantangan berat perjalanannya, ia menghendaki kekebasan tetapi menolak keterbatasan, seolah-olah kebebasan itu dapat terwujud tanpa pembatasan dan seakan-akan bidang datar yang luas yang terukur namun tanpa batas.[2]
Tak dapat dipungkiri bahwa mempersiapkan diri untuk memasuki masa depan sesungguhnya merupakan etos yang sangat dominan di kalangan umat Islam, sebab Islam memiliki dinamika yang sangat mengesankan. Seperti yang ditulis Robert n. Bellah : etos yang dominan pada komunitas (umat) ini (Islam) ialah giat di dunia ini, aktivitas, bersifat sosial dan politik... dan secara relatif dapat menerima etos yang dominan pada abad ke duapuluh dan seterusnya.[3] Manusia mempunyai peran besar dalam menentukan masa depannya, maka pembinaan SDM menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan-tantangan pembangunan bangsa di masa depan. Manusia yang berkualitas di masa depan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memiliki iman dan takwa serta moralitas, 2) memiliki tanggungjawab pribadi dan sikap jujur, 3) memiliki fisik atau jasmani yang sehat, 4) menghargai ketepatan waktu, 5) memiliki etos kerja yang tinggi, 6) memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya, dan 7) menghargai dan memiliki ilmu pengetahuan.[4]
Dari tujuh kriteria manusia berkualitas diatas, menghargai ketepatan waktu masuk di dalamnya, sehingga masalah manajemen waktu membutuhkan perhatian yang besar pada diri muslim, agar dapat mengembangkan potensi secara maksimal dan berkualitas. Rumusan ciri manusia yang berkualitas tersebut diatas, relevan dengan ciri manusia modern, yang dirumuskan oleh Alex Inkeles yaitu: 1) kecenderungan menerima gagasan-gagasan baru, 2) kesediaan menyatakan pendapat, 3) kepekaan pada waktu, dan lebih mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu tang telah lalu, 4) rasa ketepatan waktu yang lebih baik, 5) keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi, 6) kecenderungan memandang dunia sebagai suatu yang bisa dikalkulasi, 7) menghargai kekuatan ilmu dan teknologi, dan 8) keyakinan bahwa keadilan bisa diratakan.[5]

Pengertian Manajemen Waktu
Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.[6] Manajemen berasal dari bahasa Inggris,dari kata to manage yang sinonimnya antara lain to hand berarti ‘mengurus’, to control ‘ memeriksa’ to guide ‘ memimpin. Jadi, apabila hanya dilihat dari asal katanya, manajemen berarti pengurusan, pengendalian, memimpin atau membimbing.[7] Sebagai ilmu pengetahuan, manajemen juga bersifat universal dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang cenderung benar dalam semua situasi manajerial.[8] 
Sedangkan arti waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.[9] Menurut filsafat waktu yaitu ukuran atau gerak,[10] Dan pergerakan selalu berada waktu yang terukur, sementara kehidupan sebagai adanya gerakan selalu berada dan dapat diukur dengan waktu. Waktu pada dirinya bersifat absolut seperti hitungan satu jam adalah 60 menit. Namun waktu dalam kaitannya dengan eksistensi manusia dapat bersifat relatif. Pengertian waktu menurut Nurul Mubin adalah seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang maupun yang akan datang, sebagaimana dalam kajian bahasa Arab, ada masa lalu atau disebut dengan al-madzi, masa kini yang disebut al-aan, dan masa depan atau masa yang akan datang yang disebut mustaqbal.[11]

Waktu dalam Perspektif Islam
Begitu pentingnya keberadaan waktu, sehingga seseorang dikatakan merugi akibat menyia-nyiakannya. Demikian juga Allah SWT sebagai pencipta waktu juga bersumpah atas nama waktu. Maka, waktu tentu menjadi hal yang sangat penting bagi allah SWT, terlebih bagi hamba-Nya, yang mau berfikir dan merenungkan kesaksian Allah SWT atas nama waktu...[12] Penyebutan kata “waktu dengan sebutan al-waqtu banyak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an. 
Sebagai contohnya arti dari QS. Al-A’raf (7): 187

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku: tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang dilangit dan di bumi, kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[13]

 Beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata al-waqtu adalah QS. Al-Hijr (15): 38 “ Ila yaumil waqtil ma’lum” yang artinya sampai hari ( suatu) waktu yang telah ditentukan.[14]Untuk menjelaskan akan pentingnya waktu, Allah telah bersumpah dalam permulaan surat-surat Makkiyah, dengan beberapa hal yang berkaitan dengan waktu, seperti waktu pagi, siang, sore, karena waktu mengandung berbagai kemuliaan dan waktu juga mengandung berbagai bencana bagi umat manusia. Sumpah-sumpah Allah atas nama waktu dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: QS.Al-Lail (92):1-2, QS. Al-Fajr (89): 1-2, QS. Adh-Dhuha (93): 1-2 dan QS. Al-Ashr (103): 1-3. 
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa karakteristik waktu adalah: 1) cepat berlalu dan tidak akan kembali, 2) menjadi kekuatan bagi orang bijak, 3) kekayaan yang bernilai tinggi.[15]Waktu merupakan kekayaan yang nilainya sangat tinggi dibandingkan dengan segala benda dan harta kekayaan yang banyak sekalipun, belum tentu seseorang akan mendapatkan banyak kesempatan, karena waktu tidak dapat dibeli dengan emas dan perak. Hasan Al-Bana mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan, seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan menggunakan waktu tersebut. 
Dalam Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf Qordhowi, disebutkan ada dua situasi saat manusia merasakan penyesalan karena kehilangan waktu, pertama: ketika pencabutan ruh dari jasad ( kematian), tatkala manusia berpindah dari kehidupan di dunia dan menyongsong kehidupan akhirat. Seandainya diberikan masa pengunduran atau waktu penundaan ajal barang sebentar, ia berjanji akan memperbaiki apa-apa yang telah ia rusak selama ini. Ia akan mengejar kembali apa yang telah ia lewatkan, kedua: manusia akan menyesal ketika ia mendapatkan balasan atas apa yang telah ia lakukan di muka bumi. Kewajiban seorang muslim terhadap waktu adalah memanfaatkan waktu, membunuh waktu dan memanfaatkan waktu luang.[16] 
Dapat disebutkan kendala-kendala efisiensi waktu adalah sebagai berikut : 1) lalai, 2) menunda-nunda, 3) kekosongan hati. Dari kendala-kendala yang ada tersebut diatas, solusinya adalah 1) harakah ( pergerakan) terarah, 2) bergaul dengan masyarakat, 3) suka membantu orang lain, 4) membaca, 5) berdiskusi dan 6) bertamasya.[17]Dari paparan mengenai kendala-kendala mengefiesiensikan waktu, cara mengefektifkan waktu tersebut diatas, diharapkan dapat merubah mindset umat Islam. Dengan demikian kejayaan yang pernah diraih oleh para pendahulu akan dapat terulang kembali.

[1] Yusuf Al-Qaedhawi, Manajemen Waktu (Bandung: Pustaka, 2002),hlm.v.
[2] Nurkholis Madjid, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat ( Jakarta: Paramadina,20, hlm. 21.00)
[3] Shahrin Harahap, Islam Dinamis Menegakkan Nilai-nilai Ajaran Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia ( Yogyakarta: PT.Tiara Wacana Yogyakarta, 1007), hlm. 90.
[4] Ibid., hlm. 91.
[5] Myron Weiner, Modernisasi Dinamika Pertumbuhan ( Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1980 ), hlm. 29.
[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia ( Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 623.
[7] Ek. Mochtar effendy, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam ( Jakarta: Brataya Karya, 1986), hlm. 9.
[8] Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia ( Yogyakarta: BPFE, 1996), hlm. 6.
[9] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus ...hlm. 1123.
[10] Musa Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual ( Yogyakarta: LESFI,2002), hlm.47.
[11] Nurul Mubin, “ Wal ‘Ashr” Menyingkap Tirai Rahasia Sumpah Allah SWT Terhadap Masa ( Waktu) ( Yogyakarta: Diva Press, 2007), hlm. 16.
[12] Ibid., hlm. 16.
[13] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya ( Surabaya: CV. Pustaka Agung Harapan, 2006), hlm. 235.
[14] Ibid., hlm.357.
[15] Yusuf Al-Qardhawi, Manajemen... hlm. 14-17.
[16] Ibid., hlm. 14-17.
[17] Jasiem M. Badr al-Muthowi’, Efisiensi Waktu Konsep Islam, terj. M. Azhari Hatim, Lc, Rofi Munawar, Lc, Cet.3. ( Surabaya: Risalah Gusti, 2004), hlm. 73-77.


MEMBERSIHKAN DIRI SENDIRI

Membersihkan diri sendiri ada dua cara yaitu: membersihkan fisik dan non fisik. Membersihkan diri sendiri yang berupa non fisik antara lain membersihkan hawa nafsu. Hal ini dapat dilakukan dengan : 1) mengingat Allah ( dzikrullah), 2) mengerjakan shalat dan 3) berfikir tentang bahaya-bahaya akhirat. Barang siapa yang menghambakan dirinya kepada hawa nafsunya artinya mengerjakan apa saja yang diinginkan dengan didorong oleh hawa nafsu itu sudah termasuk musyrik.  Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur’an Surat Al-A’la ayat 13, yang artinya : “Sungguh berbahagia orang-orang yang membersihkan dirinya dari hawa nafsunya, ingat nama Tuhannya lalu shalat. Tetapi manusia kebanyakan masih memilih dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”
Ingat kepada Allah dengan sungguh-sungguh hingga lupa kepada lainnya, seakan-akan melihat Allah.  Ingat Allah di waktu berdiri, duduk, tidur serta di segala tempat an waktu.
Untuk selalu ingat kepada Allah dapat dilakukan dengan:
1.      Dalam menghadapi kesulitan membaca kalimat: “Laa ilaala illa llah” artinya tidak ada Tuhan selain Allah
2.      Dalam menerima kenikmatan membaca : “ Asy-syukrullah” Aku bersyukur kepada Allah atau membaca : “ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin”  artinya segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam
3.      Dalam rasa salah atau berdosa membaca : “Subhanallah” artinya Maha Suci Allah
Atau “ Astaghfirullahal ‘adhimi” artinya aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung
4.      Dalam keadaan ada musibah atau ujian kesusahan membaca : “ Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” artinya sesungguhnya segala sesuatu datangnya dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
5.      Dalam keadaan yang sangat sulit/ sempit membaca: “ Hasbunallah wani’mal wakil” artinya Allahlah yang mencukupi aku dan Dialah sebaik-baiknya yang diserahi.
6.      Apabila ingat kepada qada dan qadar Allah ( keadaan/ bagaimana nanti) membaca : “ Tawakkaltu ‘alallahi” artinya Aku berserah diri kepada Allah
7.      Apabila mendengar / mendapat ajakan taat ataupun godaan maksiat membaca : “Lahaula wala quwwata illa billah” artinya Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
8.      Apabila akan berbuat : gerak-gerik, tingkah laku yang baik membaca : “ Bismillahirrahmanirrahim” artinya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sedangkan cara kedua, dengan memperbanyak salat dapat dilakukan dengan : mengerjakan baik shalat maktubah / wajib maupun shalat sunah. Dengan mengerjakan shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar ( Q.S Al- Ankabut : 45), selain itu dengan shalat dan dzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang.
Cara ketiga , yaitu berfikir tentang bahaya akhirat. Dengan jalan antara lain : 1) bagaimanakah diriku pada hari akhir? 2) bagaimanakah aku nanti pasti akan menempuh / menghadapi perjalanan sesudah meninggalkan dunia yang fana ini!
·         Jasmani menjadi tanah
·         Rohani dipaksa ke alam gaib
·         Akan masuk ke alam yang gelap gulita yang belum pernah kita kesana
·         Menghadap mahkamah Yang Maha Agung

Materi ini ditulis sebagai bahan renungan pada tahun baru, 1 Muharram/ 1 Asyura 1434. Semoga kita selalu dalam rengkuhan Allah SWT, selalu dalam genggaman-Nya... tidak akan  pernah terlepas dari nur-Nya...


MENJAGA KESEHATAN JASMANI

Banyak resep yang ditawarkan kaitannya dengan kesehatan jasmani. Sedangkan resep Rasulullah untuk menjaga kesehatan jasmani meliputi: 1) melakukan diet, 2) membaca basmallah sebelum makan, 3) membiasakan diri meminum madu, 4) mengkonsumsi jinten hitam, 5) banyak minum air (putih/hangat). 6) meminum air zam-zam, 7) membiasakan diri berolah raga dan 8) banyak bersedekah.   
Yang dimaksud dengan diet/pencegahan  adalah menahan hawa nafsu dalam hal-hal sebagai berikut: 1) meninggalkan semua kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman yang membahayakan jasmani, 2) menahan diri dari marah/ emosi, 3) mengurangi jumlah porsi makanan dan minuman dari biasanya, terutama untuk menurunkan berat badan yang berlebihan, 4) tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang memang dilarang oleh  dokter akibat suatu penyakit.
Jika seseorang menderita penyakit darah tinggi (hipertensi) hendaknya, diet dengan tidak memakan daging kambing atau mengurangi garam. Penyebab penyakit jantung antara lain karena penyempitan pembuluh darah dan salah satu penyebabnya adalah tinggi rendahnya kadar lemak (kolesterol). Kolesterol darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara laian : 1) makanan yang banyak mengandung lemak, 2) berat badan berlebihan, stres, kurangnya olah raga dan karena usia.
Yang termasuk makanan dan minuman yang berkolesterol tinggi antara lain:1) jerhan kambing, sapi, ayam, kerbau, 2) otak, telur, keju, mentega, santan, minyak kelapa, 3) susu, kopi, cao( coklat), es krim, 4) makanan ala barat/ fast food.

Semoga badan kita tetap sehat, dengan berpola hidup sehat. 

BULAN MUHARRAM

Bulan muharram disebut juga permulaan tahun hijriyah, bulan yang terpuji, bulan mulia. Rasulullah saw menyebutnya sebagai bulan Allah. Kaitannya dengan bulan muharram, Rasulullah saw bersabda: “ Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kalian menyebutnya Bulan Muharram”.
  Dinamakan juga bulan asyura sebab, pada hari kesepuluh bulan itu Allah memulialkan ( mengaruniakan kemenangan, keselamatan dari bencana) kepada beberapa Nabi. Wujud kemuliaan Allah di hari Asyura ( hari yang dimuliakan), dalam Kitab Al-Jawahirul Makkiyah disebutkan sebagai berikut:
1.      Allah SWT menciptakan Nabiyullah Adam as, dan pada hari itu pula Adam diperintahkan untuk berdiam/ menempati surga “Darussalam”.
2.      Nabi Nuh as, mendarat di gunung Judiyyi saat terjadi banjir menggenangi seluruh permukaan bumi.
3.      Nabi Ibrahim diselamatkan dari bara api atas kekejaman Raja Namruz.
4.      Nabi Yunus as, dapat keluar dari perut ikan hiu setelah beberapa hari di dalamnya.
5.      Nabi Ayub as, dapat sembuh dari penyakitnya ( atas ijin Allah) yang menurut perhitungan manusia tidak akan dapat disembuhkan.
6.      Nabi Yusuf as, dikeluarkan dari sumur yang gelap karena perbuatan saudara-saudaranya yang dengki dan iri hati.
7.      Nabi Ya’kub as, disembuhkan penglihatannya karena memikirkan puteranya.
8.      Nabi Musa as, diselamatkan dari kejaran Fir’aun dan atas ijin Allah, dapat membelah laut sehingga pengikutnya dapat menyeberang dan Allah menenggelamkan Fir’aun dengan seluruh pengikutnya.
Sebagai rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa as, maka setiap tanggal 10 Muharram berpuasa, dan puasanya Nabi Musa as diteruskan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam bulan Muharram terdapat satu hari yang dianggap mulia jatuh pada tanggal 10 Muharram yang lazim disebut ‘Asyura. Nabi Muhammad saw bersabda:
1.      Hadits Riwayat Al-Bazar :
“ Asyura adalah hari raya Nabi yang sebelumnya semua, maka berpuasalah engkau semua pada hari itu”.
2.      Hadits Riwayat Bukhori :
“ Hari ini adalah hari ‘Asyura dan tidak diwajibkan atas kamu berpuasa sedang aku berpuasa. Oleh karena itu barang siapa mau hendaklah berpuasa dan barang siapa tidak mau boleh berbuka”.
3.      Hadits Riwayat Muslim :
4.       “ Rasul saw pernah ditanya tentang puasa ‘Asyura, maka beliau menjawab : Puasa ‘Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu”.
Allah memberikan tuntunan yang jelas cara menyambut tahun baru/ ulang tahun dan sejenisnya. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 18 berikut ini:
“ Wahai orang-orang yang beriman : Takutlah kepada Allah, hendaklah setiap  orang memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan  (perbuat)”.
Untuk mengisi kegiatan di bulan Muharram/ “Asyura dalam kitab kuning disebutkan antara lain sebagi berikut :
1.      Menghidupkannya dengan puasa 10 Muharram
2.      Mengunjungi saudara yang sedang tertimpa musibah
3.      Muhasabah / refleksi diri/ introspeksi
4.      Meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shalih
5.      Bersilaturrahmi
6.      Salat maktubah/ wajib dengan berjamaah
Semoga kita senantiasa dapat mendekatkan diri pada Al-Khaliq dengan mengerjakan amalan-amalan baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Amien...


You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan