Para pelaku pendidikan,
pemerintah dan masyarakat dibuat gerah dengan perkembangan terkini pergaulan pelajar
masa kini. Betapa tidak, banyak kasus kenakalan remaja yang dapat disimak
melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, begitu mencengangkan. Bahkan
hal ini dapat diketahui di sekolah masing-masing yang tentunya beragam bentuknya. Mulai dari
tawuran, narkoba, pergaulan bebas ( free
sex) sampai pada tindakan kriminal. Miris juga dengan perilaku pelajar saat
ini. Kalau disimak lebih jauh, sudah bukan rahasia lagi, sebagian pelajar SMP
maupun SMA , apalagi mahasiswa melakukan tidakan asusila baik di luar sekolah
maupun di sekolah. Masih teringat di
siang itu, penulis menyaksikan seorang siswa yang harus dikembalikan ke orang
tuanya karena telah melakukan tindakan
ceroboh yang terlanjur telah dilakukannya. Masya
Allah ... ada apa ini? Apa dan siapa yang salah? Terlihat orang tuanya
begitu sayang dan care pada anaknya. bahkan
orang tuanya sungguh tidak menyangka harus menerima aib yang begitu besar.
Berulang kali beliau mengucapkan istighfar
sambil menitikkan air mata, menandakan beban berat yang ditanggungnya. Mengapa harus terjadi di usia sedini itu?
Kasih sayang, ekonomi dan perhatian tak ada yang kurang dari orang tuanya,
lalu? Teman sebayanyakah atau lingkungan? Entah... sulit untuk dijelaskan dan
dirunut memang. Dengan air mata berlinang dan penyesalan yang dalam mereka
meninggalkan bangku sekolah. Dan ternyata kasus ini hanyalah sebuah gunung es,
di dalamnya masih banyak kasus-kasus serupa yang belum terdeteksi atau nampak
di permukaan. Benar-benar mencengangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Para
remaja yang masih duduk di bangku SMP maupun SMA yang seharusnya masih berkutat
pada masalah akademik, ternyata mampu melakukan aktivitas yang sangat jauh
menyimpang dari perkiraan dan pemikiran
para orang tua. Diakui atau tidak pendidikan karakter dan akhlak yang diberikan
selama ini telah gagal dalam menanamkan dan menyemaikan nilai-nilai
positif ke hati sanubari para peserta
didik. Dengan perkembangan teknologi yang super canggih dan era transparansi
yang begitu kuat, punya imbas bagi para pelajar untuk meniru gaya hidup manusia
modern yang kadangkala jauh dari nilai-nilai akhlak dan karakter bangsa. Walau
teknologi itu netral, namun tidak dapat dipungkiri hal ini menjadi salah satu
sebab merebaknya gaya hidup baru. Gaya hidup instan, permisif, hura-hura dan foya-foya itu sungguh jauh sekali dari
ajaran agama dan nilai-nilai karakter bangsa. Pertanyaanya sekarang, kalau hal
seperti ini sudah menjadi trend hidup masa kini, daripada pendidik harus mulai
meminimalisir? Disinyalir, para siswa
mengalami split personality, sebuah
kepribadian yang terbelah sebab sungguh
jauh berbeda apa yang diterima di sekolah dengan apa yang dilihatnya di alam
nyata. Misalnya, di sekolah baru saja diajarkan hidup bersahaja dan sederhana,
namun ketika keluar dari sekolah, siswa disuguhkan dengan pola hidup para
pemuka agama dan masyarakat yang sangat jauh dari kata sederhana dan bersahaja.
Mereka mempertontonkan hidup mewah dan boros. Di sekolah diajarkan tentang anti
narkoba dan minum-minuman keras, dengan jargon “ Say No to Drug “ namun yang terjadi di lapangan, justru para penegak
keadilan menjadi tersangka dan pelaku drug dan narkoba. Di sekolah diajarkan
tentang hidup jujur dan amanah, sedangkan yang didapati di lapangan adalah
tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme dari para pemuka agama, politik dan
masyarakat. Di sekolah diajarkan hidup bersih dan menjaga diri, namun yang
didapatinya di masyarakat banyak tempat-tempat mesum dan prostitusi yang
dibiarkan hidup dan berkembang baik pada siang hari apalagi pada malam hari. Di
sekolah diajarkan nilai-nilai keadilan, namun yang didapati di masyarakat
adalah ketimpangan di bidang keadilan. Hukum selalu saja memihak pada orang-orang yang berduit dan
berdasi, sedangkan rakyat kecil hanya menjadi korban belaka. Semua kasus-kasus
diatas membuat jiwa pelajar menjadi bingung dan diperkirakan , sulitnya tokoh
anutan baik pada level nasional maupun di masyarakat saat ini juga ikut
memperkuat terseretnya para pelajar untuk mengikuti saja apa yang ada pada diri
teman-teman sebayanya maupun masyarakat di mana mereka tinggal. Sungguh tragis,
kalau hal seperti ini dibiarkan berjalan terus apa yang akan terjadi. Penulis
yakin, dengan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk merubah
keadaan ini, bukan mustahil hal ini akan dapat diatasi. Perlahan tapi pasti,
usaha yang diupayakan bersama antara rumah, sekolah dan masyarakat sebagai
tempat terlaksananya pendidikan akan dapat berhasil. Sebagai tindakan nyata atau
kontekstual pendidikan karakter, di lembaga pendidikan atau sekolah, khususnya
di SMPN 5 Ambarawa, dipasang kotak kejujuran per kelas. Kotak kejujuran
berfungsi sebagai bahan masukan bagi para walikelas di dalam memberikan pembinaan
baik untuk pembinaan perkelas maupun individual. Tekniknya, siswa dapat menulis
apa-apa yang terjadi di kelas tersebut meliputi kejadian yang menyimpang dari teman sebayanya di kelas
tersebut. Setiap murid di dalam satu kelas saling memonitor dan diharapkan hal
ini akan mengurangi tindakan penyimpangan di kelas (mikro) dan sekolah (makro). Selanjutnya pada saat
perwalian, walikelas membuka kotak, lalu menganalisa dan memberikan jalan
keluar maupun masukan positif kepada siswa maupun kelasnya demi untuk kebaikan.
Disinilah fungsi guru ( walikelas) semakin komplek, disamping sebagai pengajar,
pendidik, juga sebagai bengkel pendidikan karakter di kelas. Disebut bengkel
sebab guru bertanggung jawab atas pendidikan karakter di kelasnya
masing-masing. Lebih jauh Sie pengembangn pendidikan karakter SMPN 5
Ambarawa Ludi Hari Prihatini, S.Pd
menjelaskan bahwa tujuan pengadaan kotak kejujuran adalah sebagai upaya
pengendalian penyimpangan sosial sebaya. Inilah salah satu wujud kepedulian
nyata sekolah terhadap kenakalan siswa-siswanya dewasa ini. Walau ini baru uji
coba dan masih dalam taraf mencari format yang pas, diharapkan mempunyai efek
jera siswa dalam mengurangi tindakan negatif yang dilakukannya. Semoga membawa
suatu kebaikan bersama warga sekolah, masyarakat dan bangsa Indonesia.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.
Pages - Menu
Popular Posts
-
Belum ada listrik. A danya oncor yang dibawa oleh jamaah. Senter juga belum banyak dipakai pada saat itu. Suasana kelam, gelap dan sunyi....
-
1 Maret 2013 : Seminggu yang lalu kupu-kupu gajah coklat itu berputar-putar mengelilingi ruang tamu. Kadangkala hinggap di jendela, ...
-
Suara jangkrik masih saja terdengar. Nampak laron beterbangan dan menari kesana kemari tiada henti di tiang pal listrik dan di bola lampu...
-
Banyak orang yang tidak tertarik dengan pembelajaran sejarah. Pelajaran sejarah yang diberikan di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah ...
-
Perjalanan satu semester begitu cepat. Tidak terasa Ulangan Akhir Semester I ( UAS ) Tahun 2012/2013 sudah di depan mata. Semua murid ten...
-
Ir. Soekarno, lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno. Sebagai seorang orator ulung sekaligus sebagai Presiden Republik Indonesia (RI)...
-
”Lihat! Ada berita panas! Seorang dosen tersengat listrik sampai tewas!” Bu Endah, seorang Kepala Sekolah yang terkenal cantik dan ramah ...
-
Banyak resep yang ditawarkan kaitannya dengan kesehatan jasmani. Sedangkan resep Rasulullah untuk menjaga kesehatan jasmani meliputi: 1) ...
-
Para pelaku pendidikan, pemerintah dan masyarakat dibuat gerah dengan perkembangan terkini pergaulan pelajar masa kini. Betapa tidak, ban...
-
Membersihkan diri sendiri ada dua cara yaitu: membersihkan fisik dan non fisik. Membersihkan diri sendiri yang berupa non fisik antara la...

0 komentar:
Posting Komentar