Sabtu, 28 Juni 2014

KOTAK KARAKTER PENTINGKAH ?

Para pelaku pendidikan, pemerintah dan masyarakat dibuat gerah dengan perkembangan terkini pergaulan pelajar masa kini. Betapa tidak, banyak kasus kenakalan remaja yang dapat disimak melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, begitu mencengangkan. Bahkan hal ini dapat diketahui di sekolah masing-masing  yang tentunya beragam bentuknya. Mulai dari tawuran, narkoba, pergaulan bebas ( free sex) sampai pada tindakan kriminal. Miris juga dengan perilaku pelajar saat ini. Kalau disimak lebih jauh, sudah bukan rahasia lagi, sebagian pelajar SMP maupun SMA , apalagi mahasiswa melakukan tidakan asusila baik di luar sekolah maupun di  sekolah. Masih teringat di siang itu, penulis menyaksikan seorang siswa yang harus dikembalikan ke orang tuanya  karena telah melakukan tindakan ceroboh yang terlanjur telah dilakukannya. Masya Allah ... ada apa ini? Apa dan siapa yang salah? Terlihat orang tuanya begitu sayang dan care pada anaknya. bahkan orang tuanya sungguh tidak menyangka harus menerima aib yang begitu besar. Berulang kali beliau mengucapkan istighfar sambil menitikkan air mata, menandakan beban berat yang ditanggungnya.  Mengapa harus terjadi di usia sedini itu? Kasih sayang, ekonomi dan perhatian tak ada yang kurang dari orang tuanya, lalu? Teman sebayanyakah atau lingkungan? Entah... sulit untuk dijelaskan dan dirunut memang. Dengan air mata berlinang dan penyesalan yang dalam mereka meninggalkan bangku sekolah. Dan ternyata kasus ini hanyalah sebuah gunung es, di dalamnya masih banyak kasus-kasus serupa yang belum terdeteksi atau nampak di permukaan. Benar-benar mencengangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Para remaja yang masih duduk di bangku SMP maupun SMA yang seharusnya masih berkutat pada masalah akademik, ternyata mampu melakukan aktivitas yang sangat jauh menyimpang dari perkiraan dan  pemikiran para orang tua. Diakui atau tidak pendidikan karakter dan akhlak yang diberikan selama ini telah gagal dalam menanamkan dan menyemaikan nilai-nilai positif  ke hati sanubari para peserta didik. Dengan perkembangan teknologi yang super canggih dan era transparansi yang begitu kuat, punya imbas bagi para pelajar untuk meniru gaya hidup manusia modern yang kadangkala jauh dari nilai-nilai akhlak dan karakter bangsa. Walau teknologi itu netral, namun tidak dapat dipungkiri hal ini menjadi salah satu sebab merebaknya gaya hidup baru. Gaya hidup instan, permisif, hura-hura dan foya-foya itu sungguh jauh sekali dari ajaran agama dan nilai-nilai karakter bangsa. Pertanyaanya sekarang, kalau hal seperti ini sudah menjadi trend hidup masa kini, daripada pendidik harus mulai meminimalisir?  Disinyalir, para siswa mengalami split personality, sebuah kepribadian yang terbelah  sebab sungguh jauh berbeda apa yang diterima di sekolah dengan apa yang dilihatnya di alam nyata. Misalnya, di sekolah baru saja diajarkan hidup bersahaja dan sederhana, namun ketika keluar dari sekolah, siswa disuguhkan dengan pola hidup para pemuka agama dan masyarakat yang sangat jauh dari kata sederhana dan bersahaja. Mereka mempertontonkan hidup mewah dan boros. Di sekolah diajarkan tentang anti narkoba dan minum-minuman keras, dengan jargon “ Say No to Drug “ namun yang terjadi di lapangan, justru para penegak keadilan menjadi tersangka dan pelaku drug dan narkoba. Di sekolah diajarkan tentang hidup jujur dan amanah, sedangkan yang didapati di lapangan adalah tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme dari para pemuka agama, politik dan masyarakat. Di sekolah diajarkan hidup bersih dan menjaga diri, namun yang didapatinya di masyarakat banyak tempat-tempat mesum dan prostitusi yang dibiarkan hidup dan berkembang baik pada siang hari apalagi pada malam hari. Di sekolah diajarkan nilai-nilai keadilan, namun yang didapati di masyarakat adalah ketimpangan di bidang keadilan. Hukum selalu saja  memihak pada orang-orang yang berduit dan berdasi, sedangkan rakyat kecil hanya menjadi korban belaka. Semua kasus-kasus diatas membuat jiwa pelajar menjadi bingung dan diperkirakan , sulitnya tokoh anutan baik pada level nasional maupun di masyarakat saat ini juga ikut memperkuat terseretnya para pelajar untuk mengikuti saja apa yang ada pada diri teman-teman sebayanya maupun masyarakat di mana mereka tinggal. Sungguh tragis, kalau hal seperti ini dibiarkan berjalan terus apa yang akan terjadi. Penulis yakin, dengan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk merubah keadaan ini, bukan mustahil hal ini akan dapat diatasi. Perlahan tapi pasti, usaha yang diupayakan bersama antara rumah, sekolah dan masyarakat sebagai tempat terlaksananya pendidikan akan dapat berhasil. Sebagai tindakan nyata atau kontekstual pendidikan karakter, di lembaga pendidikan atau sekolah, khususnya di SMPN 5 Ambarawa, dipasang kotak kejujuran per kelas. Kotak kejujuran berfungsi sebagai bahan masukan bagi para walikelas di dalam memberikan pembinaan baik untuk pembinaan perkelas maupun individual. Tekniknya, siswa dapat menulis apa-apa yang terjadi di kelas tersebut meliputi kejadian  yang menyimpang dari teman sebayanya di kelas tersebut. Setiap murid di dalam satu kelas saling memonitor dan diharapkan hal ini akan mengurangi tindakan penyimpangan di kelas (mikro)  dan sekolah (makro). Selanjutnya pada saat perwalian, walikelas membuka kotak, lalu menganalisa dan memberikan jalan keluar maupun masukan positif kepada siswa maupun kelasnya demi untuk kebaikan. Disinilah fungsi guru ( walikelas)  semakin komplek, disamping sebagai pengajar, pendidik, juga sebagai bengkel pendidikan karakter di kelas. Disebut bengkel sebab guru bertanggung jawab atas pendidikan karakter di kelasnya masing-masing. Lebih jauh Sie pengembangn pendidikan karakter SMPN 5 Ambarawa  Ludi Hari Prihatini, S.Pd menjelaskan bahwa tujuan pengadaan kotak kejujuran adalah sebagai upaya pengendalian penyimpangan sosial sebaya. Inilah salah satu wujud kepedulian nyata sekolah terhadap kenakalan siswa-siswanya dewasa ini. Walau ini baru uji coba dan masih dalam taraf mencari format yang pas, diharapkan mempunyai efek jera siswa dalam mengurangi tindakan negatif yang dilakukannya. Semoga membawa suatu kebaikan bersama warga sekolah, masyarakat dan bangsa Indonesia.

                                                                                                           

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan