Sabtu, 28 Juni 2014

SANG BINTANG KAMPUS

”Lihat! Ada berita panas! Seorang dosen tersengat listrik sampai tewas!” Bu Endah, seorang Kepala Sekolah yang terkenal cantik dan ramah mengulurkan koran pada beberapa guru yang tengah menikmati waktu istirahat di ruang guru dengan berapi-api. Mereka, para guru berebutan ingin membaca yang pertama kali.
Sementara itu, Bu Nadia baru saja selesai menunaikan kewajiban shalat dhuhur di Musholla. Bu Nadia melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya.  Bu Nadia melihat beberapa teman yang sedang   asik berbincang tentang berbagai hal serta beberapa yang lain bergiliran membaca koran.
“Bu Nadia, kau kenal dengan Bapak Hafidz, yang seorang dosen di Salatiga ?”  Bu Endah menepuk bahu kirinya  dengan lembut, namun ucapan dan tepukannya barusan sempat mengagetkanya. Bu Nadia tahu, pasti Bu Kepala Sekolah ini sedang tidak main-main. Wajahnya serius, hidung bangir dan kulit putihnya sungguh aduhai.  Namun tegas bila bertutur kata. beliau juga terkenal pemurah, senang memberi pada sesama. Seketika itu juga, Nadia jadi teringat salah satu sahabat baiknya saat masih kuliah dulu, Hafidz. Kenangan indah masa kuliah tahun 1900-an silam menari-menari di pelupuk matanya.
“Ya, Bu, saya kenal baik dengan beliau, memangnya ada apa Bu?
Baca sendiri berita di koran hari ini!” dengan langkah seribu, Bu Endahpun berlalu dari pandangan untuk melakukan agenda kerja lainnya.
“Ya, Ibu, terimakasih banyak informasinya, jawab Bu Nadia. Bu Nadia jadi penasaran. Sebenarnya ada apa yang terjadi dengan Hafidz. Dia memang sahabat baiknya. Namun sudah puluhan tahun berlalu tidak  pernah bertemu.
 Segera koran diraihnya, dicarinya head news agar cepat pada sasaran bacanya. Nadia sungguh kaget. Rasanya baru kemarin dia duduk berdampingan di acara wisuda. Senyuman sahabatnya  mengembang manis, senyuman khas seorang Hafidz yang cuek, ganteng, cool dan pintar. Dia adalah wisudawan terbaik seangkatannya dulu, 15 April 1995 silam.
 “Ya Allah... Inna lillahi wa innaa ilaihi roojiuun.” Bu Nadia masih terus memegangi koran tersebut, ada butiran-butiran lembut yang keluar dari kelopak matanya. Butiran lembut yang mengalir tanpa diberi aba. Reflek… apa adanya…
 Siapa yang meninggal, Bu?
  “ Dia… dia… sahabat baikku!
“Sahabat atau pacar? Mosok sahabat saja sampai menangis gitu?” gurauan teman-temannya  masih jelas terngiang di gendang telinganya. Gurauan teman-temannya di tahun 2006 silam. Mereka terus aja meledeknya dan bicara lepas tanpa beban. Nadia menjawab dengan sedikit nada sumbang.
“Dia itu benar sahabatku, sahabat karibku dulu.Sahabat istimewa yang luar biasa talentanya.
Otak Bu Nadia berputar-putar seperti gangsingan tanpa kendali, mengapa hal ini bisa terjadi di saat karirnya menanjak? Sayangan hafidz masih terlintas jelas di memorinya. senyumannya, tatapan matanya, cara bicaranya. gaya penampilannya, gaya bicaranya.
 Ahh... mengapa saya melamunkannya, gumamnya.
 “Benarkah ini sahabatku, sahabat baikku? Sahabat tempat aku berbagi ilmu?” Bu Nadia berbicara sendiri. Beberapa pertanyaan bergejolak di dada Bu Nadia. Rasanya tidak percaya, tapi nyata adanya.  Untuk meyakinkan kebenaran.  Bu Nadia berulang kali membaca koran tersebut dan ternyata benar, dia memang sahabatnya, sahabat karibnya. Judulnya jelas sekali, “Hafidz Meninggal Dunia Karena Aliran Listrik.
Hati Nadia bergetar, teriris-iris, sakit, ada rasa kehilangan yang mendalam. Maklumlah sahabatnya tadi adalah teman sekelas, teman belajar, teman organisasi, teman dalam suka dan duka.
Dia teringat seorang sosok teman yang begitu popular seangkatannya kuliah dulu. Seorang sosok yang terkesan cuek bebek namun memiliki talenta Bahasa Arab dan Bahasa Inggris yang luar biasa. Itulah stempel yang  melekat  padanya. Walau sebenarnya dia mau berbagi dan memberi apa yang dia punya.
 Kenangan pada sahabatnya puluhan tahun silam sempat muncul di memorinya. Mereka  memang tidak pernah berkomunikasi sejak wisuda sampai dengan siang itu. Hanya sekali bertemu di kampus, ketika Bu Nadia legalisir Ijazah di kampusnya untuk kepentingan Penerimaan Calon Pegawai Negeri ( CPNS). Mereka memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Bu Nadia langsung berumah tangga dan sibuk dengan urusan rumah tangganya.  Sedangkan Hafidz diberi kesempatan untuk mengajar di almameternya karena prestasi yang diraihnya dan studi lanjut, yang tentunya sudah sibuk luar biasa.
Siapa yang tidak kenal dengan Hafidz? Semua mahasiswa seangkatannya pasti mengenalnya. Jarang mahasiswa yang memiliki talenta di bidang bahasa.  Siapapun pasti salut dan kagum padanya. Secepat itukah dia meninggalkan dunia yang fana ini? Dus, sungguh tragis sekali! Siapa yang menyangka seorang bintang kampus meninggal dunia dengan cara yang mengejutkan, tersengat aliran listrik. Saat kejadian, tidak seorangpun berani memberikan pertolongan  sebab takut tersengat juga, hingga akhirnya tubuhnya terbakar dan jiwanya melayang. Gosong dan hitam!
 Semua memang misteri. Tidak seorangpun yang tahu kapan maut akan menjemput. Sekali lagi Bu Nadia mengucapkan kalimat tarji’ Inna lillaahi wa innaa ilaihi roojiuun. Sesungguhnya semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Bahkan yang lebih tragis, di akhir hayatnya, dia belum sempat menikah dengan kekasihnya yang telah dirajutnya bertahun-tahun. Entah apa yang dicarinya selama ini.  Banyak orang terbengong-bengong dengan pilihan hidupnya. Semuanya dia punya, wajah yang tampan, otak yang brilian, kekasih yang cantik, karir yang menanjak. Koran itupun masih digenggam Bu Nadia terjatuh ke lantai. Dia baru tersadar, bahwa dirinya terlalu jauh mengenal Hafidz. 
Hafidz oh Hafidz, Kau sungguh malang, bisikku.
***
Tahun 1990-an. Bu Nadia jadi teringat masa-masa indah di kampus tercinta.
Hari  itu nampak begitu cerah. Sang surya bersinar terang. Awan putih berarak berkejar-kejaran di langit biru, tanpa adanya kabut hitam yang menyelimutinya.   Harum bunga nan asri  berbaris rapi di sepanjang kampus menambah indahnya panorama siang itu. Makrus, salah satu teman yang terkenal sebagai mahasiswa vokal  dan berkulit hitam kerempeng berbicara dengan nada lantang.
“ Horee! Horee.... Saudara saudara sekalian, karena Pak Dosen ada tugas mendadak, Acara perkuliahan hari ini kosong!” 
 Sontak kata-katanya menimbulkan komentar yang bervariasi dari mahasiswa yang sejak sejam lalu menunggu perpindahan jadwal kuliah. Ada yang menggerutu dengan nada-nada kecewa, namun ada juga yang senang  sebab, hari itu terbebas dari mata kuliah Bahasa Inggris. Walau di mata mahasiswa, sang dosen bukan kriteria seorang dosen yang killer, namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian mahasiswa kurang menyukai mata kuliah yang diampunya.
  Para mahasiswa yang sedang menunggu kehadiran sang dosen segera bergegas menghamburkan diri. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang asyik mengobrol kesana kemari dengan topik yang beraneka ragam. Ada yang menuju ruang perpustakaan untuk mencari referensi, membaca dan meminjam buku serta mengembalikan buku. Ada yang mengerjakan tugas kelompok dan ada pula yang hanya berjalan kesana kemari dan mondar mandir untuk menghabiskan waktu.
Nadia, salah satu mahasiswi di kampus itu, segera bergegas mencari sahabat karibnya yang klik tentang mata kuliah yang kosong tersebut. Kecewa juga sih, walau kurang menguasai dengan baik, ternyata rasa suka menimbulkan minat untuk mempelajarinya lebih jauh. Tidak heran ia berkumpul dengan teman-teman yang memiliki interest yang sama di bidang tersebut di sebuah organisasi.
Disanalah dia menimba banyak ilmu yang tidak didapatinya dari para dosen. Sahabatnya yang berpenampilan parlente itu adalah Hafihz. Dia alumni dari Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. Sebuah pesantren modern yang sangat terkenal untuk level Asia Tenggara. Tidak heran jika banyak teman yang menyukainya untuk berteman dan bersahabat dengannya. Enak memang, walau cuek dan acuh tak acuh kesan darinya, namun apabila  bisa mengambil hatinya, dia akan senang membantu dan berbagi berbagai.
 “Hai Hafihz, kita belajar menyanyi aja yook!” Hafihz yang selalu cuek bebek itu hanya terdiam. Hafidz yang saat itu membawa gitar hanya terdiam terpaku. Tatapannya kosong. Mungkin baru ada something wrong dengan kekasih hatinya.Wajahnya bersungut-sungut. Tatanan rambutnya awut-awutan. kepulan rokok berjalan liar ke atas meliuk-liuk seperti ular naga.
“Oke, diam itu berarti setuju lho!” Nadia berbicara sendiri. Hafidzpun tidak bisa menolak ajakannya. Karena memang baru memiliki waktu luang, merekapun belajar bersama dengan beberapa temannya yang memiliki hobby sama, menyanyi. Sebuah lagu barat untuk melatih pronounciation
dipelajari di siang itu, lagunya berjudul “Boulevard.” Segera Nadia membuka sebuah buku dan menuliskan kata-kata ataupun syair lagu tersebut. Hafidz yang mengucapkan, sedang Nadia menuliskannya di buku agar tidak lupa.
Sesekali Hafidz menengok tulisan di buku Nadia, walau suka Bahasa Inggris tapi sekali lagi Nadia belum lincah berbahasa Inggris. Rumusnya hanya suka dan suka. Syair lagu meluncur cepat dari bibir Hafidz...
I don’t know why. You said goodbye.
Just let me know you didn’t go forever my love
Please tell me why, you make me cry
I beg you please all memory, if that what you want me too...
Semuanya memang sudah berlalu, seiring perjalanan waktu. Kenangan di siang itu tidak mungkin terlupakan. Hafidz  benar-benar telah mengucapkan kata berpisah untuk selamanya, meninggalkan Nadia, sahabatnya, teman, handai taulan, sanak saudara dan semuanya yang ada di dunia ini.
Terimakasih banyak sahabat, telah banyak membantu belajar dan belajar tentang berbagai hal. Akhirnya, Selamat tinggal sahabat baik. Semoga mendapat tempat yang layak disisi-Nya, Allah SWT. Amien...







UJIAN DAN COBAAN HIDUP

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 35
“ ... Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada Kamilah kalian kembali”.
Kebanyakan manusia menganggap bahwa cobaan atau ujian hidup terbatas pada hal-hal yang tidak menyenagkan, seperti bencana alam, pailit/ bangkrut, kesedihan, sakit, kecelakaan atau hal lain yang lazim disebut musibah. Paling tidak nasihat untuk bersabar dan tabah menghadapi cobaan hidup umumnya dikemukakan pada saat-saat seseorang menghadapi masalah-masalah yang dirasakan seperti tersebut di atas. Tidak terlintas dalam benak kita bahwa nikmat berupa kesehatan, kekayaan, kesenangan, jabatan dan kemewahan merupakan ujian serta cobaan sebagaimana Firman Allah tersebut di atas. Bahkan, ujian berupa kesenangan dan kenikmatan hidup pada hakikatnya lebih berat dari ujian berupa kesukaran hidup.
Banyak orang yang sukses dalam ujian kesusahan, tetapi gugur dalam ujian kenikmatan. Hal ini terjadi karena manusia tidak memahami kenikmatan dan kesenangan itu sebagai cobaan. Akibatnya, pada saat manusia dalam keadaan sehat, kaya dan kesenangan lainnya menjadi lupa daratan, lupa diri bahkan lupa pada Tuhan-Nya. Kenikmatan dan kesenangan ini pada akhirnya justru menjadi sumber malapetaka bagi dirinya.
Rasulullah saw bersabda: “ Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan atas kalian, akan tetapi aku justru khawatir kalau-kalau kemegahan dunia yang kalian dapatkan, sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian bergelimang dalam kemewahan itu sehingga binasa,sebagaimana mereka bergelimang dan binasa pula.”
Inilah hakikat ujian kehidupan yang harus kita pahami agar tidak terbuai dengan kegembiraan di kala senang dan tidak larut dalam kesedihan disaat susah. Pribadi seorang mukmin adalah pribadi yang menakjubkan dalam menghadapi pasang surut yang mengantarkan manusia pada ketenangan lahir dan batin. Tentang cobaan dan kesabaran Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 155-157.
Sebagai orang beriman, kita mempercayai bahwa di balik segala sesuatu yang terjadi pada manusia pasti ada hikmahnya. Semua yang dialami dalam hidup ini adalah cobaan Allah supaya manusia dapat membuktikan sikapnya dalam menghadapi segala macam cobaan, untuk mengetahui seberapa jauh iman manusia dapat mengendalikan dirinya. Allah menjadikan makna dan jangka waktu kehidupan manusia sejak lahir sampai tutup usia. Kehidupan manusia didunia ini adalah untuk menguji manusia siapa di antara yang terbaik amalnya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 2: “ Yang menjadikan hidup dan mati, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya...”
Semoga kita dapat melewati berbagai macam cobaan dan ujian hidup di dunia ini dengan sikap sabar dan tawakal. Karena sesungguhnya dunia ini adalah permainan yang menipu. Kehidupan yang abadi adalah kehidupan yang akhirat nanti.


KOTAK KARAKTER PENTINGKAH ?

Para pelaku pendidikan, pemerintah dan masyarakat dibuat gerah dengan perkembangan terkini pergaulan pelajar masa kini. Betapa tidak, banyak kasus kenakalan remaja yang dapat disimak melalui berbagai media baik elektronik maupun cetak, begitu mencengangkan. Bahkan hal ini dapat diketahui di sekolah masing-masing  yang tentunya beragam bentuknya. Mulai dari tawuran, narkoba, pergaulan bebas ( free sex) sampai pada tindakan kriminal. Miris juga dengan perilaku pelajar saat ini. Kalau disimak lebih jauh, sudah bukan rahasia lagi, sebagian pelajar SMP maupun SMA , apalagi mahasiswa melakukan tidakan asusila baik di luar sekolah maupun di  sekolah. Masih teringat di siang itu, penulis menyaksikan seorang siswa yang harus dikembalikan ke orang tuanya  karena telah melakukan tindakan ceroboh yang terlanjur telah dilakukannya. Masya Allah ... ada apa ini? Apa dan siapa yang salah? Terlihat orang tuanya begitu sayang dan care pada anaknya. bahkan orang tuanya sungguh tidak menyangka harus menerima aib yang begitu besar. Berulang kali beliau mengucapkan istighfar sambil menitikkan air mata, menandakan beban berat yang ditanggungnya.  Mengapa harus terjadi di usia sedini itu? Kasih sayang, ekonomi dan perhatian tak ada yang kurang dari orang tuanya, lalu? Teman sebayanyakah atau lingkungan? Entah... sulit untuk dijelaskan dan dirunut memang. Dengan air mata berlinang dan penyesalan yang dalam mereka meninggalkan bangku sekolah. Dan ternyata kasus ini hanyalah sebuah gunung es, di dalamnya masih banyak kasus-kasus serupa yang belum terdeteksi atau nampak di permukaan. Benar-benar mencengangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Para remaja yang masih duduk di bangku SMP maupun SMA yang seharusnya masih berkutat pada masalah akademik, ternyata mampu melakukan aktivitas yang sangat jauh menyimpang dari perkiraan dan  pemikiran para orang tua. Diakui atau tidak pendidikan karakter dan akhlak yang diberikan selama ini telah gagal dalam menanamkan dan menyemaikan nilai-nilai positif  ke hati sanubari para peserta didik. Dengan perkembangan teknologi yang super canggih dan era transparansi yang begitu kuat, punya imbas bagi para pelajar untuk meniru gaya hidup manusia modern yang kadangkala jauh dari nilai-nilai akhlak dan karakter bangsa. Walau teknologi itu netral, namun tidak dapat dipungkiri hal ini menjadi salah satu sebab merebaknya gaya hidup baru. Gaya hidup instan, permisif, hura-hura dan foya-foya itu sungguh jauh sekali dari ajaran agama dan nilai-nilai karakter bangsa. Pertanyaanya sekarang, kalau hal seperti ini sudah menjadi trend hidup masa kini, daripada pendidik harus mulai meminimalisir?  Disinyalir, para siswa mengalami split personality, sebuah kepribadian yang terbelah  sebab sungguh jauh berbeda apa yang diterima di sekolah dengan apa yang dilihatnya di alam nyata. Misalnya, di sekolah baru saja diajarkan hidup bersahaja dan sederhana, namun ketika keluar dari sekolah, siswa disuguhkan dengan pola hidup para pemuka agama dan masyarakat yang sangat jauh dari kata sederhana dan bersahaja. Mereka mempertontonkan hidup mewah dan boros. Di sekolah diajarkan tentang anti narkoba dan minum-minuman keras, dengan jargon “ Say No to Drug “ namun yang terjadi di lapangan, justru para penegak keadilan menjadi tersangka dan pelaku drug dan narkoba. Di sekolah diajarkan tentang hidup jujur dan amanah, sedangkan yang didapati di lapangan adalah tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme dari para pemuka agama, politik dan masyarakat. Di sekolah diajarkan hidup bersih dan menjaga diri, namun yang didapatinya di masyarakat banyak tempat-tempat mesum dan prostitusi yang dibiarkan hidup dan berkembang baik pada siang hari apalagi pada malam hari. Di sekolah diajarkan nilai-nilai keadilan, namun yang didapati di masyarakat adalah ketimpangan di bidang keadilan. Hukum selalu saja  memihak pada orang-orang yang berduit dan berdasi, sedangkan rakyat kecil hanya menjadi korban belaka. Semua kasus-kasus diatas membuat jiwa pelajar menjadi bingung dan diperkirakan , sulitnya tokoh anutan baik pada level nasional maupun di masyarakat saat ini juga ikut memperkuat terseretnya para pelajar untuk mengikuti saja apa yang ada pada diri teman-teman sebayanya maupun masyarakat di mana mereka tinggal. Sungguh tragis, kalau hal seperti ini dibiarkan berjalan terus apa yang akan terjadi. Penulis yakin, dengan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak untuk merubah keadaan ini, bukan mustahil hal ini akan dapat diatasi. Perlahan tapi pasti, usaha yang diupayakan bersama antara rumah, sekolah dan masyarakat sebagai tempat terlaksananya pendidikan akan dapat berhasil. Sebagai tindakan nyata atau kontekstual pendidikan karakter, di lembaga pendidikan atau sekolah, khususnya di SMPN 5 Ambarawa, dipasang kotak kejujuran per kelas. Kotak kejujuran berfungsi sebagai bahan masukan bagi para walikelas di dalam memberikan pembinaan baik untuk pembinaan perkelas maupun individual. Tekniknya, siswa dapat menulis apa-apa yang terjadi di kelas tersebut meliputi kejadian  yang menyimpang dari teman sebayanya di kelas tersebut. Setiap murid di dalam satu kelas saling memonitor dan diharapkan hal ini akan mengurangi tindakan penyimpangan di kelas (mikro)  dan sekolah (makro). Selanjutnya pada saat perwalian, walikelas membuka kotak, lalu menganalisa dan memberikan jalan keluar maupun masukan positif kepada siswa maupun kelasnya demi untuk kebaikan. Disinilah fungsi guru ( walikelas)  semakin komplek, disamping sebagai pengajar, pendidik, juga sebagai bengkel pendidikan karakter di kelas. Disebut bengkel sebab guru bertanggung jawab atas pendidikan karakter di kelasnya masing-masing. Lebih jauh Sie pengembangn pendidikan karakter SMPN 5 Ambarawa  Ludi Hari Prihatini, S.Pd menjelaskan bahwa tujuan pengadaan kotak kejujuran adalah sebagai upaya pengendalian penyimpangan sosial sebaya. Inilah salah satu wujud kepedulian nyata sekolah terhadap kenakalan siswa-siswanya dewasa ini. Walau ini baru uji coba dan masih dalam taraf mencari format yang pas, diharapkan mempunyai efek jera siswa dalam mengurangi tindakan negatif yang dilakukannya. Semoga membawa suatu kebaikan bersama warga sekolah, masyarakat dan bangsa Indonesia.

                                                                                                           

SI BUTA BERHATI MULIA

Suara jangkrik masih saja terdengar. Nampak laron beterbangan dan menari kesana kemari tiada henti di tiang pal listrik dan di bola lampu yang menyala dengan terangnya. Seakan berpesta merayakan kemenangannnya, mereka terus saja memamerkan tarian nan energik dengan kepakan sayap-sayapnya yang berwarna kecoklat-coklatan, mereka beterbangan tiada henti entah sampai kapan. Walau baru pukul 18.00 WIB, namun kesunyian begitu terasa. Dinginnya malam  terasa menyentuh semua warga yang tinggal di desa.
 Malam itu seperti malam-malam biasanya, Laila mengikuti acara pengajian Yasinan di desanya. Banyak sekali jamaah di malam itu. Entah apa yang menggerakkan hati ibu-ibu untuk menghadiri pengajian atau hanya suatu kebetulan saja. Laila datang agak terlambat dari biasanya, sebab masih ada urusan yang harus dia bereskan sebelum berangkat ke majlis taklim tersebut.
“Ibu berangkat pengajian dulu ya nak?” Dijawab koor oleh ketiga putrinya disertai anggukan serempak.
“Bawa oleh-oleh yang banyak ya, Bu. Jangan lupa-jangan lupa!”
Hush, pengajian kok minta dibawakan oleh-oleh. Ya, ntar Ibu belikan jajanan di warung Mbok Tik di seberang sana. Semoga ada makanan yang enak-anak.” Laila menjawabnya sambil tersenyum. Ketiga putrinya melanjutkan aktivitas seperti sedia kala. Si Ismi sibuk utak-atik laptopnya, Si Hilmi mengerjakan tugas dari gurunya sedang si bungsu Azzahra bermain lompat tali sendirian.
***
“Assalamualaikum?” suara Laila menguluk salam pada jamaah pengajian yang telah duduk berjejer rapi sepanjang ruang tamu. Dijawab serempak oleh jamaah yang telah hadir duluan.
Ada beberapa ibu yang sibuk antre membayar uang arisan. Ada juga ibu-ibu yang mengumpulkan uang infak rutin setiap kali pertemuan. Nampak ibu-ibu sudah siap memulai acara di malam itu, walau masih terdengar  suara kicauan dari beberapa balita dan tingkah polahnya yang tidak bisa diam, yang ikut ibunya juga di acara tersebut.
Bapak Turmudi selaku pengasuh segera memulai muqoddimah dengan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama dan selanjutnya jamaah melafalkan surat Yasin. Terdengar suara bacaan Yasin yang kompak dan menyentuh kalbu. Kegiatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan merupakan ajang silaturrahim antar warga, disamping ajang tholabul ilmi, mencari ilmu dalam rangka liibtighoi mardhatillah, mencari keridhaan Allah.
Dengan suara sedang, nampak beberapa ibu sudah hafal sehingga tak ada buku kecil di pangkuannya. Acara diakhiri dengan shalat Isya’ berjamaah dan tentu saja doa bersama. Laila melihat ke samping kiri dan kanan. Nampak tuan rumah mulai mengeluarkan air teh hangat serta nasi bungkus. Itulah kebiasaan di penghujung acara. Yang bagi anak-anak merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu.
Ada yang aneh di malam itu. Laila melihat ada seseorang yang asing baginya. Orang tersebut sungguh sama sekali  belum pernah dilihatnya. Dia memang seseorang yang berasal dari luar daerah. Tubuhnya subur, kira-kira berusia 40-an, matanya agak terpejam, mungkin hanya bisa terbuka 20 derajat saja. Namun, dia begitu ramah dengan sisi kanan kirinya. Laila baru pertama kali bertemu dengannya, sebelum berpisah, mereka bersalaman dengannya. Laila menyapanya dengan halus.
“Siapa ya? Dia menjawab dengan cekatan dan percaya diri.
 “Saya Mbah Ju.” Walau belum tua, namun dia memperkenalkan diri dengan panggilan Mbah Ju. Entah siapa nama lengkapnya, Laila tidak bertanya lebih lanjut. Yang diingat Laila tentang orang asing tersebut adalah bahwa seseorang tersebut bernama Mbah Ju.Menurut informasi dari beberapa sumber mengatakan bahwa dia seorang tukang pijat dari desa tetangga. Akhirnya,Acara pengajian di malam itu diakhiri dengan doa kifaratul majlis. Jamaah berhamburan ke rumah masing-masing setelah sebelumnya saling bersalaman pada sesama jamaah dan tuan rumah.
***
Langit mendung pertanda akan turun hujan. Awan hitam berarak dan berkejar-kejaran di langit nun jauh disana. Gumpalan hitamnya semakain pekat dan siap untuk turun di muka bumi. Pepohonan  berlenggak lenggok tertiup angin yang berhembus. Sesekali halilintar dan kilat menampakkan suara dan kilatannya.

Ada rasa takut juga menyaksikan gejala alam di hari itu. Betul adanya, beberapa saat kemudian, hujan turun deras sekali, sepertinya semua air dari langit tertumpah di hari itu. Laila tidak bergeming  dari tempat duduknya. Dia masih setia  di ruang kerjanya sambil mengerjakan tugas yang masih tersisa. Hitung-hitung sambil menanti hujan reda.
 Akhirnya waktu yang dinantipun tiba juga, berangsur-angsur hujan berhenti. Bergegas Laila meninggalkan tempat kerjanya, meluncur menuju rumahnya. Bayangan putri-putrinya sudah menari-nari di pelupuk matanya. Dan ia ingin segera dapat bertemu dengannya  untuk melepas rindu.
Sepeda melaju dengan kecepatan sedang. Berkilo-kilo harus dia lalui setiap hari dengan segala suka dukanya. Kurang 2 km dari rumahnya, ada sesuatu yang terjadi dengan sepedanya. Sepeda berjalan agak oleng, dan setelah dicek ternyata benar.
 “Yach gembos dech...
 Itulah romantikanya bersepeda, kadangkala bisa membuatnya tersenyum bahagia melanglang buana, namun kadang kala membuatnya bersedih.
Cari bengkel dulu biar dapat diajak menemaniku lagi” Dia mengajak bicara  sepedanya. Kebetulan sekali, di dekatnya sudah ada bengkel sepeda yang lagi sepi pelanggan. Si montir langsung sigap melakukan aktivitasnya, demi melayani yang prima. Sementara itu, untuk mengisi waktu luangnya, Laila berbicang-bincang dengan sang pemilik bengkel, Mbak Tuti, namanya.
“Mbak Tuti tahu tukang pijat perempuan di sekitar sini?”
 “Ohkalau tukang pijat perempuan sich mending ke Mbah Ju saja Mbak” katanya. Mbah Ju... ya Mbah Ju ingat sekarang. Dia adalah seseorang yang ikut pengajian di malam itu.
“Rumah mbah Ju itu dimana?”
“Mbak, langsung saja ke Desa Glawan, di perempatan ambil kekiri, kira-kira 500m dari perempatan, belok ke kiri lagi, disitulah Mbah Ju tinggal.”
“Ya, terimakasih infonya ya? Saya mau kesana ikutan sekalian nggak?”
“Nggak ah, saya baru saja memijitkan si bungsu kok” jawab Mbak Tutik tanpa ekspresi.
***
Tempat yang sepi, hanya ada pohon bambu yang berjajar di samping rumah. Pohon bambu yang tertiup angin, menimbulkan suara-suara khasnya. Disamping kiri jalan ada sebuah makam, agak serem juga ya, sepi, jalan becek suara bambu.
Ah… rasa takutnya ditepisnya sendiri, demi mendapatkan pijatan yang dapat membuat dirinya fresh kembali.   Laila mencari seseorang untuk bertanya. Kepalanya menoleh kekiri dan kenanan, namun tidak didapatinya apa yang dicari. Hingga ia belok kanan dan masuk ke sebuah rumah, dan bertanya pada seseorang yang ternyata si empunya rumah.
 “Bu mau nanya dimana ya rumah mbah Ju yang seorang pemijat?
 Ada 5 orang yang berada di dalam rumah, salah satunya menjawab.
 Ya ini rumah Mbah Ju.
 Alhamdulillah, ternyata tidak tersesat”, batinnya
 “Mari masuk ...”
Suara khas Mbah Ju yang ramah mempersilahkan tamunya yang baru tiba.
 “Ibu dari mana, apa sudah pernah kesini, dengan siapa, tadi kesasar tidak, becek ya bu?”  Mbah Ju memberondong beberapa pertanyaan sekaligus, tanda senang ada tamu datang. Tamu berarti rejeki kan?
 “Saya dari desa sebelah tidak jauh dari sini, namun ini adalah kali pertama saya bertandang di rumah Mbah. Tadi saya diberitahu oleh mbak Tuti yang pemilik bengkel putri dari Pak Zarnuji.
“O begitu ya, apa pernah ketemu saya sebelumnya?”
“Ya, Mbah Ju, kita memang pernah ketemu di pengajian Yasinan Belon saat itu. Allah telah menggerakkan kaki saya untuk mengunjungi Mbah Ju.
“ Ya ya... sambutnya. Anda beruntung bu, biasanya ada banyak antrean di sini. Namun khusus hari Kamis, saya buka sampai jam 16.00 WIB.” Mbah Ju nerocos mengajak bicara tiada henti. Saat itu Mbah Ju masih memijit bayi laki-laki yang masih berusia sekitar enam bulan didampingi kedua orang tuanya dan kakak perempuannya.
Waktu yang ditunggunya tiba juga. Setelah mempersiapakan segala sesuatunya, Mbah Ju mempersilahkan Laila untuk memasuki ruangan yang sudah disediakan. Satu setengah jam berjalan begitu cepat, sebab saat itu Laila merasakan penat yang luar biasa. Tugas-tugasnya yang begitu banyak menguras energi dan perhatiannya. Hingga badan terasa letih tak bertenaga.
 “Mbah, apakah saya boleh bertanya tentang sesuatu?”
 “ Boleh-boleh, ibu bisa bertanya tentang apa saja. Memangnya apa yang mau ibu tanyakan”.
“Kok serius sekali, memangnya mau nanya apa bu?”
“Ehm, gini Mbah, memangnya mbah itu buta mulai kapan? Maksud saya pada usia berapa? Dari lahir, kecil atau baru-baru saja?”
 “Oalah masalah itu to,Gini bu, ketika orang tuaku melahirkanku, aku dalam keadaan normal. Namun, kalau ibu kandungku buta bawaan.” Sejenak suasana hening tanpa kata. Sambil mengingat-ingat kejadian kala itu. Mbah Ju menjelaskan lebih lanjut. “Hingga suatu ketika, tahun 1977 silam, ketika aku berusia delapan tahun sakit panas menimpaku. Suhu panasku  saat itu sangat tinggi, hingga akhirnya orang tuaku membawaku ke seorang dukun. Itulah awal mula aku tidak bisa melihat dunia lagi sampai dengan sekarang. Apa penyebabnya, aku tidak tahu persis, mungkin sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa kali ya?”
 “Sekarang tanya yang lain mbah, bolehkah?”
“Kalau masalah cinta boleh Mbah,” Nampak mbah Ju tersenyum dan bersemangat ketika diajak bicara masalah cinta. Dia tersenyum dan sesekali tertawa lepas...
“Awal mula temu bapak ( suami ) kapan dan dimana ya?”
“Wah ... wah ... kalau itu sih namanya jodoh, Bu. Dimanapun bisa saja bertemu. Kami bertemu saat sekolah.  Dia yang juga berstatus buta mencariku di desa dan langsung meminangku dan mengajak untuk menikah. Dahulu pihak keluarganya menolak pernikahan kami. Orang buta menikah dengan orang buta, siapa dan bagaimana dengan anak-anak yang akan dilahirkannya kelak. Itulah alasan utamanya. Rasa khawatir dan was-was dari keluarganya sangat besar. Namun, cinta kami juga sangat kuat hingga tidak ada yang mampu memisahkan. Kami tetap akan bersatu sampai ajal menjemput kelak. Kami resmi menikah secara agama dan negara. Kini, dua buah hati kami telah menghiasi rumah tangga yang kami bina.”
 Mbah Ju melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat. Dia seperti habis minum extra joss saja, tenaganya kuat luar biasa.
 “Alhamdulillah, oleh dinas sosial, saya disekolahkan. Saya diajari macam-macam ketrampilan agar dapat hidup mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Ketrampilan yang diajarkan antara lain memijat, membuat sulak, sapu, dan memasak. yang saya tekuni sekarang hanya ketrampilan memijat saja. ini saja sudah tidak bisa istirahat kok. Rata-rata perhari sekarang ada 20-an yang datang kesini untuk dipijat.” Mbah Ju terus saja bercerita tanpa henti di sepanjang pijatannya itu.
Alhamdulllah, Subhanallah ya Mbah, diberi kemudahan, kesehatan dan rejeki yang melimpah oleh Allah SWT.”
“Ya, makanya, dalam menjalani hidup itu yang penting semangat dan khusnudhon pada Allah, pasti ada jalan keluar kok” Mbah Ju menjawab sambil terus bercerita bahwa dia memulai hidup di desa Glawan itu dari nol. Dia seorang pendatang yang tidak punya apa-apa. Dia dan suami yang sama-sama buta dan berprofesi sebagai pemijat bekerja keras , bahu membahu dan bekerja sama untuk mengumpulkan uang. Uang itu selanjutnya untuk membeli lahan tanah yang kini sudah didirikan rumah.
Kami kumpulkan sedikit demi sedikit uang tersebut, bahkan kami dapat meminjami uang pada saudara yang membutuhkan.
Baru-baru ada saudara yang meminjam untuk membayar biaya sekolah anaknya ke saya, walau hanya dua setengah juta imbuhnya. Kami baru saja membeli sepeda motor untuk anakku warna merah itu di depan rumah dan menyekolahkan mereka. Saya akan bekerja terus agar mereka dapat sekolah sampai setinggi-tingginya.”
Nampak Mbah Ju bersemangat ketika menceritakan kedua buah hatinya yang sangat menyayangi orang tuanya dan tidak malu memiliki kedua orang tua yang sama-sama buta. Ini merupakan hadiah terindah dalam hidupnya, diberi keturunan yang sehat dan normal.  Tidak seperti dirinya yang tidak dapat melihat indahnya dunia dengan segala perhiasannya. Di mata mbah Ju, hanya ada warna hitam saja. Walau buta, namun Mbah Ju pantang menyerah dan pekerja keras.
“Lha terus kalau memasak bagaimana mbah, misalnya membedakan antara merica dan ketumbar atau membedakan antara garam dan gula pasir?”
“ Ya biasa tow, kami kan dulu diajari di sekolahan” jawabnya.
Dia juga menjelaskan bahwa semua pekerjaan dapat beliau kerjakan layaknya orang normal lainnya, mencuci pakaian, memetik hasil panenan di sawah, ke pasar berbelanja. Dia juga mengetahui kapan hujan dating, sehingga serta merta akan mengampil jemuran yang ada di halaman rumahnya.
 Di sela-sela pijitan dan cerita yang masih mengalir dari mulutnya, listrik padam, sehingga ruangan menjadi gelap.
“wach, gelap ya bu, bentar saya hidupkan dahulu” , ia berbicara sendiri. Ia meraba-raba saklar yang ada disamping atas pintu masuk, kemudian menyentuhnya.
“Lha, sudah terang to bu sekarang”. Lanjutnya. Bagi Laila berinteraksi dengan orang buta adalah pengalaman pertamanya. Laila tidak menyangka bahwa pekerjaan apapun dapat dikerjakannya dengan baik dan tuntas. “Subhanallah”. Laila masih belum bisa membayangkan bagaimana saat mbah Ju menanak nasi di dapur, buat sayur, menggoreng tempe. Mungkinkah gorengannya akan sesempurna seperti masakan orang normal. Belum lagi membayangkan saat mbah Ju membesarkan anaknya dulu. Saat-saat si bayi masih sangat imut, bagaimana memandikannya, membuatkan susu, mengjaknya bermain dan segainya. Sungguh luar biasa.
Heran juga Laila mendengar cerita dari Mbah Ju. Ada pelajaran yang dapat dipetik dari pertemuannya kali ini. Dia memang buta secara fisik, namun jiwanya tidak buta. Bahkan semangatnya yang luar biasa patut mendapat acungan jempol. Sikap mandiri, pekerja keras, pantang menyerah, hemat terpancar dari kehidupannya dibalik keterbatasannya.

Melihat bangunan rumahnya yang luas, permanen dan bagus menandakan bahwa penghuninya itu orang yang luar biasa. Sebuah rumah yang bersih dan tertata rapi ternyata si empunya seorang yang buta. Subhanallah, luar biasa, dia sangat mensyukuri segala nikmat-nikmat-Nya dengan berperilaku mulia. Sekali lagi Subhanallah.... Segala puji bagi Allah... Tuhan semesta alam.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan