Belum ada listrik. Adanya oncor yang dibawa oleh jamaah. Senter juga belum banyak dipakai pada
saat itu. Suasana kelam, gelap dan sunyi. Hanya bunyi jangkrik, katak dan burung hantu saja yang terdengar. Kadang
keras, lirih dan mendayu bunyi-bunyian yang ada. Merinding juga kalau sedang berjalan sendirian menyusuri
jalan
setapak. Jalan
berbatu dan terjal. Bahkan berlumpur jika musim hujan tiba.
Kira-kira seperti itulah gambaran kegiatan remaja di tahun 80-an. Kre.... ke..te...q...brug... suara dampar ( tempat duduk yang berukuran besar )
tiba-tiba ambrug. Sontak jamaah pengajian dzibaan
dan Al-Barzanzi di rumah Nafiatun
yang duduk di atasnya nampak ketakutan dan kaget sehingga berpindah lokasi di
bawah. Beralas tanah demi menuntaskan sebuah acara. Walau ada sedikit halangan, namun acara tetap berlangsung sampai
paripurna. Accident
itu menimbulkan sedikit rasa takut dan kaget sekaligus kenangan sepanjang masa, bagi Nurma khususnya.
Dzibaan dan Al-Barzanzi
memang kegiatan remaja yang sudah berlangsung secara
turun temurun dari generasi ke generasi. Setiap Senin malam, remaja putri
secara bergiliran mengadakan kegiatan itu secara rutin. Asyik juga ternyata,
kegiatan ini memiliki manfaat yang banyak. Antara lain melafalkan makhraj bahasa Arab secara fasih,
mengembangkan vokal, meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab syairnya berisi puji-pujian pada Nabi dan
keluarganya serta tentu saja menjalin persaudaraan sesama muslim, sebab
seminggu sekali dapat bertemu dan berbagi ilmu.
Di desa
terpencil, Nafiatun tinggal.
Nafiatun nama seorang gadis yang terkenal pandai mengaji dan bersuara bagus.
Wajahnya cantik, tutur katanya lembut,
perangainya bagus. Dia disebut kembang desa pada masanya tumbuh remaja dulu.
Dia tumbuh dan berkembang di sebuah desa yang terkenal sebagai desa santri.
Semua penduduknya beragama Islam. Dan juga ada seorang Kyai kharismatik yang
selalu mengayomi dan memberikan tausiah pada warganya. Tidak semua desa
memiliki kegiatan seperti ini karena belum tentu memiliki sumber daya manusia
yang handal.
***
Angkotan Kota berjalan dengan kecepatan sedang. Para penumpang duduk rapi
di tempatnya masing-masing. Kadang-kadang, angkotan kota berhenti sejenak untuk memberi kesempatan bagi penumpang yang mau naik
ataupun turun.
Nurma adalah salah satu penumpang yang ada di angkotan tersebut. Saat itu,
Nurma pulang sekolah. Sepanjang perjalanan, Nurma memandang di luar jendela.
Melihat pemandangan alam serta lalu lalang kesibukan orang. Dari balik jendela
nampak Nafiatun berjalan tanpa alas kaki. Rambutnya kumal, pakaiannya lusuh
mungkin sudah sebulan tidak ganti, badannya amat kotor, ada kotoran-kotoran
hitam yang menempel di tubuhnya baik di wajahnya maupun anggota badan yang
lain. Mulutnya komat kamit berbicara sendiri ataupun nyengir sendirian. Kadang
tertawa lepas.... namun tatapan matanya kosong. Hati Nurma terkesiap.
Mana mungkin kembang desa
berubah seperti itu? Apa penyebabnya? Beberapa pertanyaan berkecamuk di
hatinya. Mungkinkah ia stres atau bahkan lebih dari itu? Entah apa yang dia
rasakan saat itu batinnya. Semuanya menjadi teka-teki bagi Nurma.
Rumah kayunya yang sebagian sudah
termakan rayap, atap genting yang mulai rapuh dan berjatuhan, perabot rumah
tangga yang sudah usang dan sebagainya menjadi pemikiran tersendiri bagi
Nafiatun. Hal itulah yang memotivasinya untuk bekerja walau harus berpisah
dengan sanak keluarganya. Bayangan akan dapat merubah nasib telah membulat di
dada Nafiatun. Pergi bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita ( TKW ) di negeri
seberang. Walaupun dia anak bungsu, tapi dia bukan tipe anak yang manja.
Tahun pertama dan kedua berjalan normal. Dia hanya menginginkan adanya
perubahan pada rumah orang tuanya. Ia ingin rumahnya seimbang dengan
rumah-rumah dari tetangganya. Dia kumpulkan hasil kerjanya tahunan di negeri
seberang lalu dia kirimkan ke orang tuanya. Harapan merenovasi rumah orang
tuanya begitu besar. Setelah itu ingin melangsungkan pernikahan dengan pemuda
pujaannya. Kerja keras dan pantang menyerah telah mengantarkannya bekerja
secara maksimal. Hingga dia sangat disayang oleh majikannya. Saat pulang tiba.
Betapa gembiranya hati Nafiatun di hari itu. Segala persiapan dan peralatan
telah dipersiapkan dengan teliti.
***
Apa yang diimpikan sangat jauh dari harapan. Rumahnya tidak berubah, masih
seperti dulu ketika dia belum pergi empat tahun silam. Padahal hasil
keringatnya sudah dikirim ke orang tuanya, yach semuanya tanpa sisa lagi. Hati
Atun menjerit. Dia berontak dengan keadaan. Dia shock dengan segala keadaan yang
terjadi.
“Kok bisa seperti ini ya? Apa yang salah?
uang sudah aku kirim, tinggal beli material, undang tukang selesai.
Tapi... tapi... oh...”
Kenyataan memang tidak selalu seperti apa yang diimpikan.
Berhari-hari dia merenungi nasib. Rasa lelah dan kerja keras di negeri seberang
masih teringat dan terekam jelas di lubuk hatinya. Hatinya hancur dan sakit.
Sakit bukan karena tingkah polah majikan tapi oleh karena sikap orang tuanya
sendiri.
Lalu uang itu sekarang dimana? Untuk apa? Kalau dulu aku tahu akan seperti
ini jadinya, tidak mungkin aku mau bekerja keras yang beresiko tinggi.
Seandainya... ya seandainya... mungkin demikian apa yang ada di benaknya...
“Kembalikan uangku…
kembalikan uangku… kau tahu kan? Uang itu akan kubuat bangun rumah…biar cantik,
indah dan sedap dipandang mata. Lalu… aku mau nikah dengan mas Ilham… Uangku
mana? Mana uangku?” Nafiatun masih bicara sendiri
tanpa seorangpun tahu apa maksudnya. Orang yang memandangnya merasa aneh dengan
penampilannya yang nganeh-anehi. Dia
stress berat bahkan dikatakan sebagai orang gila oleh sebagian orang.
"Hi hi hi..., ha ha ha ...." tawanya lepas. Namun, ada kalanya menangis meraung-raung tak ketulungan sambil berlari ke sana ke mari tak karuan.
"Hi hi hi..., ha ha ha ...." tawanya lepas. Namun, ada kalanya menangis meraung-raung tak ketulungan sambil berlari ke sana ke mari tak karuan.
***
Hari berganti hari, keadaan Atun bukanlah membaik tetapi sebaliknya. Dia diam...
dengan tatapan kosong. Semakin lama semakin menjadi. Tertawa cekikikan sendiri dan bicara sendiri. Walau tidak
mengamuk, namun sempat menggegerkan dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri
bagi warga kampung. Melihat kondisi yang demikian pihak perangkat desa
membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ ) di Magelang. Namun, ternyata, dia bisa keluar dari RSJ
dan jalan-jalan entah kemana. Lelah juga pihak perangkat mengurus dirinya.
Dengan harapan Atun akan membaik dan pulih seperti sedia kala. Sebab
apabila ditilik dari sejarah, dia tidak memiliki saudara yang punya penyakit
seperti itu. Dia
lahir dan tumbuh dari keluarga baik-baik, tidak ada masalah dan semuanya
normal. Hanya satu penyebabnya yaitu rasa kecewa yang mendalam atas gagalnya
dia dalam merenovasi rumah orang tuanya. Sementara orang tuanya terutama
ayahnya sangat keras dan tidak mau tahu dengan kondisi anaknya yang seperti
itu.
***
Semuanya dapat dijadikan pelajaran. Tentang sikap orang tua yang otoriter
tentunya tidak baik bagi perkembangan jiwa anak. Pentingnya keterbukaan dalam
memecahkan suatu masalah. Kalau sudah begini. Siapa yang salah? Nasi sudah
menjadi bubur. Atun sekarang sudah tidak diketahui lagi dimana rimbanya. Sudah
puluhan tahun menghilang tidak berbekas. Sayang sekali sang kembang desa
mengalami nasib yang tragis. Pesona sang kembang desa telah pudar,
seiring waktu yang terus berjalan.
***
Siang itu masyarakat di gegerkan dengan
kembalinya Atun dari Yogya. Ternyata selama ini dia berjalan kaki sampai di
Yogya. Disana, ada petugas dari Dinas Sosial yang peduli padanya. Dia dirawat
dan dibimbing untuk kembali sehat seperti sedia kala. Berkat ketelatenan,
kesabaran dan keikhlasan dari berbagai pihak, akhirnya Atun bisa pulih. Tidak
ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
Alhamdulillah… semua warga ikut
berbahagia atas kembali dan pulihnya Atun. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta
alam. Aku genggan tangannya usai shalat Tarawih pertama di Masjid Mujahidin di tahun 2014 ini. Subhanallah... Dialah yang mengatur segalanya, semua kehidupan manusia.


0 komentar:
Posting Komentar