Sabtu, 28 Juni 2014

PUDARNYA PESONA KEMBANG DESA

Belum ada listrik. Adanya oncor yang dibawa oleh jamaah. Senter juga belum banyak dipakai pada saat itu. Suasana kelam, gelap dan sunyi. Hanya bunyi jangkrik, katak  dan burung hantu saja yang terdengar. Kadang keras, lirih dan mendayu bunyi-bunyian yang ada. Merinding juga kalau sedang berjalan sendirian menyusuri jalan setapak. Jalan berbatu dan terjal. Bahkan berlumpur jika musim hujan tiba.
Kira-kira seperti itulah gambaran kegiatan remaja di tahun 80-an. Kre.... ke..te...q...brug... suara dampar ( tempat duduk yang berukuran besar ) tiba-tiba ambrug. Sontak jamaah pengajian dzibaan dan Al-Barzanzi di rumah Nafiatun yang duduk di atasnya nampak ketakutan dan kaget sehingga berpindah lokasi di bawah. Beralas tanah demi menuntaskan sebuah acara. Walau ada sedikit halangan, namun acara tetap berlangsung sampai paripurna. Accident itu menimbulkan sedikit rasa takut dan kaget sekaligus kenangan sepanjang masa, bagi Nurma khususnya.
Dzibaan dan Al-Barzanzi memang kegiatan remaja yang sudah berlangsung secara turun temurun dari generasi ke generasi. Setiap Senin malam, remaja putri secara bergiliran mengadakan kegiatan itu secara rutin. Asyik juga ternyata, kegiatan ini memiliki manfaat yang banyak. Antara lain melafalkan makhraj bahasa Arab secara fasih, mengembangkan vokal, meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab syairnya berisi puji-pujian pada Nabi dan keluarganya serta tentu saja menjalin persaudaraan sesama muslim, sebab seminggu sekali dapat bertemu dan berbagi ilmu.
Di desa terpencil, Nafiatun tinggal. Nafiatun nama seorang gadis yang terkenal pandai mengaji dan bersuara bagus. Wajahnya cantik, tutur  katanya lembut, perangainya bagus. Dia disebut kembang desa pada masanya tumbuh remaja dulu. Dia tumbuh dan berkembang di sebuah desa yang terkenal sebagai desa santri. Semua penduduknya beragama Islam. Dan juga ada seorang Kyai kharismatik yang selalu mengayomi dan memberikan tausiah pada warganya. Tidak semua desa memiliki kegiatan seperti ini karena belum tentu memiliki sumber daya manusia yang handal.
***
Angkotan Kota berjalan dengan kecepatan sedang. Para penumpang duduk rapi di tempatnya masing-masing. Kadang-kadang, angkotan kota berhenti sejenak untuk memberi kesempatan bagi penumpang yang mau naik ataupun turun.
Nurma adalah salah satu penumpang yang ada di angkotan tersebut. Saat itu, Nurma pulang sekolah. Sepanjang perjalanan, Nurma memandang di luar jendela. Melihat pemandangan alam serta lalu lalang kesibukan orang. Dari balik jendela nampak Nafiatun berjalan tanpa alas kaki. Rambutnya kumal, pakaiannya lusuh mungkin sudah sebulan tidak ganti, badannya amat kotor, ada kotoran-kotoran hitam yang menempel di tubuhnya baik di wajahnya maupun anggota badan yang lain. Mulutnya komat kamit berbicara sendiri ataupun nyengir sendirian. Kadang tertawa lepas.... namun tatapan matanya kosong. Hati Nurma terkesiap.
Mana mungkin kembang desa berubah seperti itu? Apa penyebabnya? Beberapa pertanyaan berkecamuk di hatinya. Mungkinkah ia stres atau bahkan lebih dari itu? Entah apa yang dia rasakan saat itu batinnya. Semuanya menjadi teka-teki bagi Nurma.
Rumah kayunya  yang sebagian sudah termakan rayap, atap genting yang mulai rapuh dan berjatuhan, perabot rumah tangga yang sudah usang dan sebagainya menjadi pemikiran tersendiri bagi Nafiatun. Hal itulah yang memotivasinya untuk bekerja walau harus berpisah dengan sanak keluarganya. Bayangan akan dapat merubah nasib telah membulat di dada Nafiatun. Pergi bekerja menjadi Tenaga Kerja Wanita ( TKW ) di negeri seberang. Walaupun dia anak bungsu, tapi dia bukan tipe anak yang manja.
Tahun pertama dan kedua berjalan normal. Dia hanya menginginkan adanya perubahan pada rumah orang tuanya. Ia ingin rumahnya seimbang dengan rumah-rumah dari tetangganya. Dia kumpulkan hasil kerjanya tahunan di negeri seberang lalu dia kirimkan ke orang tuanya. Harapan merenovasi rumah orang tuanya begitu besar. Setelah itu ingin melangsungkan pernikahan dengan pemuda pujaannya. Kerja keras dan pantang menyerah telah mengantarkannya bekerja secara maksimal. Hingga dia sangat disayang oleh majikannya. Saat pulang tiba. Betapa gembiranya hati Nafiatun di hari itu. Segala persiapan dan peralatan telah dipersiapkan dengan teliti.
***
Apa yang diimpikan sangat jauh dari harapan. Rumahnya tidak berubah, masih seperti dulu ketika dia belum pergi empat tahun silam. Padahal hasil keringatnya sudah dikirim ke orang tuanya, yach semuanya tanpa sisa lagi. Hati Atun menjerit. Dia berontak dengan keadaan. Dia shock dengan segala keadaan yang terjadi.
“Kok bisa seperti ini ya? Apa yang salah? uang sudah aku kirim, tinggal beli material, undang tukang selesai. Tapi... tapi... oh...
Kenyataan memang tidak selalu seperti apa yang diimpikan. Berhari-hari dia merenungi nasib. Rasa lelah dan kerja keras di negeri seberang masih teringat dan terekam jelas di lubuk hatinya. Hatinya hancur dan sakit. Sakit bukan karena tingkah polah majikan tapi oleh karena sikap orang tuanya sendiri.
Lalu uang itu sekarang dimana? Untuk apa? Kalau dulu aku tahu akan seperti ini jadinya, tidak mungkin aku mau bekerja keras yang beresiko tinggi. Seandainya... ya seandainya... mungkin demikian apa yang ada di benaknya...
“Kembalikan uangku… kembalikan uangku… kau tahu kan? Uang itu akan kubuat bangun rumah…biar cantik, indah dan sedap dipandang mata. Lalu… aku mau nikah dengan mas Ilham… Uangku mana? Mana uangku?”  Nafiatun masih bicara sendiri tanpa seorangpun tahu apa maksudnya. Orang yang memandangnya merasa aneh dengan penampilannya yang nganeh-anehi. Dia stress berat bahkan dikatakan sebagai orang gila oleh sebagian orang.
"Hi hi hi..., ha ha ha ...." tawanya lepas. Namun, ada kalanya menangis meraung-raung tak ketulungan sambil berlari ke sana ke mari tak karuan.

***
Hari berganti hari, keadaan Atun bukanlah membaik tetapi sebaliknya. Dia diam... dengan tatapan kosong. Semakin lama semakin menjadi. Tertawa cekikikan sendiri dan bicara sendiri. Walau tidak mengamuk, namun sempat menggegerkan dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi warga kampung. Melihat kondisi yang demikian pihak perangkat desa membawanya ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ ) di Magelang. Namun, ternyata, dia bisa keluar dari RSJ dan jalan-jalan entah kemana. Lelah juga pihak perangkat mengurus dirinya.
Dengan harapan Atun akan membaik dan pulih seperti sedia kala. Sebab apabila ditilik dari sejarah, dia tidak memiliki saudara yang punya penyakit seperti itu. Dia lahir dan tumbuh dari keluarga baik-baik, tidak ada masalah dan semuanya normal. Hanya satu penyebabnya yaitu rasa kecewa yang mendalam atas gagalnya dia dalam merenovasi rumah orang tuanya. Sementara orang tuanya terutama ayahnya sangat keras dan tidak mau tahu dengan kondisi anaknya yang seperti itu.
***
Semuanya dapat dijadikan pelajaran. Tentang sikap orang tua yang otoriter tentunya tidak baik bagi perkembangan jiwa anak. Pentingnya keterbukaan dalam memecahkan suatu masalah. Kalau sudah begini. Siapa yang salah? Nasi sudah menjadi bubur. Atun sekarang sudah tidak diketahui lagi dimana rimbanya. Sudah puluhan tahun menghilang tidak berbekas. Sayang sekali sang kembang desa mengalami nasib yang tragis. Pesona sang kembang desa telah pudar, seiring waktu yang terus berjalan.
***
Siang itu masyarakat di gegerkan dengan kembalinya Atun dari Yogya. Ternyata selama ini dia berjalan kaki sampai di Yogya. Disana, ada petugas dari Dinas Sosial yang peduli padanya. Dia dirawat dan dibimbing untuk kembali sehat seperti sedia kala. Berkat ketelatenan, kesabaran dan keikhlasan dari berbagai pihak, akhirnya Atun bisa pulih. Tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Alhamdulillah… semua warga ikut berbahagia atas kembali dan pulihnya Atun. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Aku genggan tangannya usai shalat Tarawih pertama di Masjid Mujahidin di tahun 2014 ini. Subhanallah... Dialah yang mengatur segalanya, semua kehidupan manusia.

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan