“Wah, panas dan gerah banget ya?” Zahra mengipasi tubuh mungilnya dengan buku
kecilnya. Keringatnya yang besar-besar bak biji jagung membasahi kemeja lusuh
putihnya. Zahra melihat peserta tes Ujian Kemampuan Awal (UKA) yang berjibun,
datang dari seluruh penjuru Jawa Tengah. Barisan peserta berkostum hitam putih,
duduk berjejer siap berjibaku. Ruangan yang di desain bak stadion olah raga
yang elok nan artistik, kini penuh oleh lautan manusia. Mereka datang bagaikan
gelombang air bah yang dengan cepat memenuhi lokasi tanpa terkendali. Membludak, sumpek dan penuh sesak.
Ribuan peserta hadir.
Kok
ada ya,
acara segede dan semegah
ini tanpa AC. Zahra bicara sendiri sambil
memelototi sudut ruangan.
“Wow,
ada AC besar
menggantung di sana,” ucapannya meluncur spontan tatkala beradu pandang dengan AC yang
tergantung persis di atas kepalanya. Bising sekali ocehan peserta yang
bersahut-sahutan bak grup paduan suara sedang beraksi mempertontonkan olah
vokalnya. Sayangnya, grup vokal ini mempresentasikan talentanya tanpa irama dan
birama yang pas, sehingga menimbulkan rasa jengah, resah dan menambah gerah.
Ada juga, banyolan-banyolan spontan dari para komedian dadakan di ruangan, yang menyulut hadirin
untuk tersenyum ataupun tertawa lepas.
Acara inti tes UKA,
sudah molor hampir satu jam dari
undangan yang tersebar. Itu berarti para peserta harus merelakan diri
berlama-lama menikmati suasana panas plus
aroma parfum alami yang prengus bak
bau wedhus, serta produk parfum
pabrik dari berbagai merek yang baunya mengguncang dunia.
Zahra,
peserta yang berperawakan kecil dan lincah menebar senyum dengan teman kiri kanannya. Selang beberapa baris darinya,
ada laki-laki berkepala botak, bertubuh gemuk dengan wajah bulat, berkulit sawo matang
duduk berkaca mata tebal. Zahra sempat meliriknya membaca latihan soal-soal ujian dengan jarak pandang dekat sekali.
Buku yang dipegangnya menyentuh
kaca matanya. Jarak pandangnya
sungguh tidak normal. Ekstrim dekat. Zahra merinding melihat aktivitas
membacanya.
“Wach, kasihan laki-laki itu,
kaca matanya tebal amat, memangnya dia minus berapa?Bagaimana mungkin dia
seorang guru yang memiliki tugas administrasi seabreg bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik
dengan kondisi mata seperti itu? Bagaimana bisa, dia harus
menyelesaikan 100 soal di aula nan megah ini”
hatinya terketuk.
Percikan ingatan Zahra kini ke salah satu
saudaranya yang tinggal di kota Lumpia. Ia kehilangan mata kanannya karena ulah
kakaknya. Sore itu, kakak beradik, yang berusia 10 tahun dan 9 tahun, sedang
bersendau gurau, main jitak-jitakkan dan jotos-jotosan di ruang keluarga.
Tak disangka, permainan jotos-jotosannya
kali ini mengakibatkan cidera. Adiknya mengalami putus saraf di mata kanannya.
Betapa kecewa hatinya
dan kedua orang tuanya, dunia gelap, bumi runtuh. Ketika mengetahui buah hatinya
harus merelakan mata kanannya diambil dan diganti dengan mata palsu. Kata
Dokter, kalau tidak diambil, matanya, akan membusuk.
Kini, sang Sarjana
Hukum yang bermata palsu tinggal di
rumah menemani ayahandanya. Laki-laki jangkung nan ganteng di masa mudanya, kini hanya menghabiskan
hari-harinya dengan aktivitas di rumah.
Masih terlintas jelas
di pikirannya, pertemuannya terakhir saat lebaran tahun 2012 silam. Zahra
terkesiap. Mata kanan saudaranya, mengeluarkan kotoran putih yang lumayan
banyak secara terus menerus. Orang Jawa bilang, ”lodok”. Benar-benar kasihan dia, mata kanannya tidak berfungsi
sama sekali.
***
Bel keras
mengagetkannya. Lamunannya tentang saudaranya hilang seketika. Bel juga
berarti, pertarungan menjawab 100 soal dimulai. Hadirin berkonsentrasi dengan
tugas masing-masing. Namun, jangan
heran, bisik-bisik antar peserta tidak dapat terelakkan lagi. Jangan tanya
kenapa? Alasannya klasik: “sudah pikun dan sering lupa,” sebuah penyakit khas
manula. Maklum, peserta tes kali ini tahun kelahirannya berkisar antara tahun
70-an ke atas. Usia yang cukup sepuh untuk menyelesaikan 100 soal.
Jam 12.00 siang, acara
purna. Panas terik khas kota Semarang begitu menggelegak. Peserta segera bergegas ke luar ruangan sekedar untuk mencari udara
segar.
Zahra dan rombongan melanjutkan wisata religi ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk
menunaikan Shalat Dhuhur dan sekaligus makan siang rame-rame.
***
Suasana lebaran masih
menyelimuti hati dan pikiran. Bertemu dengan sanak saudara tercinta, makan
ketupat plus opor ayam kampungnya,
camilan-camilan khas lebaran dan tentunya saling memaafkan segala kesalahan dan
kekhilafan. Di hari ketujuh di bulan Syawal tahun ini atau tepatnya tanggal 27
Agustus sampai dengan 4 Septembar 2012, Zahra mendapat tugas pelatihan selama 9
hari di hotel Candi Indah. Disana, dia digembleng
untuk memperoleh predikat “Guru Profesional.” Acara ini merupakan tindak lanjut
dari tes UKA.
Materi-materi yang beraneka ragam
dari para pembicara ia ikuti dengan senang hati. Walau kadang jenuh juga, namun dapat dilalui dengan aman
terkendali. Senangnya saat
itu karena
dapat bertemu dengan teman-teman lamanya
dari berbagai daerah yang sudah puluhan tahun tidak
bertemu.
Bak reuni saja rasanya. Allah
mempertemukannya dengan teman sewaktu tes yang berkaca mata tebal.
”Mbak, punya materi reproduksi menurut Al-Qur’an?”
“Ya, aku punya dua versi. Ada apa, Mas?
“Boleh aku memintanya, Mbak?”
“Tentu saja, Mas, sesama teman dan saudara kita harus saling membantu.”
“Baiklah, terimakasih banyak sebelumnya.”
“ Sama-sama.”
“Masih ingat aku, Mbak?” tiba-tiba temannya yang berkacamata
tebal bertanya padanya. Zahra hanya
terdiam.
“Aku ingat kamu adalah Zahra yang dulu kuliah di Salatiga. Aku ingat suara
emasmu. Kita dari satu almameter,
namun beda angkatan.”
“Oo… maaf , saya lupa mungkin karena sudah tua dan kebanyakan
makan brutu.” Jawab Zahra sekenanya saja.
“Nggak juga, Mbak masih muda kok.”
“Betul, Mas, aku memang masih muda kalau dilihat dari Hongkong” kata
Zahra, sambil tersenyum lepas. Zahra memindahkan materi-materi ke flashdisk, sementara,
temannya yang bernama Zaen itu menceritakan keadaan
matanya.
“Mbak, sebenarnya,
aku iri dengan teman-teman di kelas kita, aku ingin seperti mereka, pingin bisa belajar laptop, power point, menulis dan sebagainya.
Namun,
aku takut dengan mataku.” Zahra
tertegun, sebenarnya apa yang terjadi dengan teman ini.
“Memangnya ada apa dengan matamu,
Mas Zaen?” itulah sebutan untuk temannya yang berkaca mata, Zaen Mustafa lengkapnya. Kini dia terdiam,
namun ada gumpalan kesedihan yang tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya
yang bulat. Dia termenung, mencoba mengingat kejadian yang nyaris membuat
dirinya frustasi. Untung saja keluarga dan sahabat-sahabatnya selalu
menguatkannya untuk bangkit.
“Beberapa tahun yang lalu, aku naik sepeda motor, sebab ada suatu urusan yang harus
aku selesaikan. Sepanjang
perjalanan, aku merasa tegang, gatal dan lelah sekali. Hingga tiba-tiba, mataku
terasa sakit yang luar biasa.” Zahra berhenti dari aktivitasnya dan mulai
memperhatikan cerita Zaen dengan seksama. Zahra ingin menguak
misteri mata sahabatnya itu.
“Dua hari aku di rumah, karena tidak kuat merasakan sakit, pihak Puskesmas
merujukku ke RS Kariadi untuk melanjutkan pengobatan mataku. Sungguh tak
kukira, aku harus menjalani operasi . Mata sebelah kiriku dioperasi,
dikeluarkan lalu dimasukkan lagi, dan itu berlangsung empat kali.” Deg!
hati Zahra bergetar kencang seolah ikut merasakan
penderitaannya. Namun, dia berusaha tetap tenang, walau jujur, kasihan rasa meluncur deras
dari hatinya terdalam. Zaen masih
saja melanjutkan lakon hidupnya.
“Ternyata hasil akhir diagnosa dokter menyatakan bahwa syaraf mata kiriku
putus. Sekarang,
aku tidak punya mata lagi. Aku sangat sedih. Otomatis, mata kiriku tidak bisa melihat sejak saat itu.
Sedang ini tinggal satu mata, aku rawat dia dengan sungguh-sungguh, walau
kondisiku seperti ini aku tetap bersyukur. Mata kananku minus 20, Mbak.
Jarak pandangku sangat dekat. Mbak tahu,
ketika para pembicara mempresentasikan materi via power point, walau aku duduk di baris pertama, aku tidak bisa melihat
layar LCD. Aku hanya mendengarkan saja.” Zahra terpaku mendengarkan
cerita Zaen Mustafa. Zahra tidak bisa membayangkan betapa
berat cobaan yang menimpanya selama ini.
“Kalau aku paksakan untuk belajar laptop, takutnya, mata
kananku akan bernasib sama dengan mata kiriku, sehingga kuurungkan saja niat
untuk mempelajarinya.”
Zaen masih saja
menceritakan keadaan matanya. Kini, teka-teki tentang lelaki berkaca mata tebal
itu telah terungkap. Padahal
semua orang tahu betapa pentingnya mata bagi manusia. Mata adalah jendela
dunia. Darinya, manusia dapat belajar apapun yang ada jagad raya serta melihat
keindahan alam yang beraneka rupa cantiknya.
Mata manusia berbentuk bulat dengan garis tengah kurang lebih
2,5 sentimeter. Bola mata berupa cairan kental atau dengan nama lain vitreus
humor , sedangkan pada bagian depannya terdapat cairan bening dengan
nama lain aqueus humor. Mata juga dilindungi cekungan
bertulang di depan tengkorak dan bisa bergerak bebas di dalam cekungan tersebut
dengan bantuan seperangkat otot. Sedangkan tengkorak yang ada di belakang alis
berfungsi untuk melindungi mata.
Sungguh, Allah menciptakan mata bagi manusia yang
memiliki cara kerja otomatis yang sempurna. Mata dibentuk dengan 40 unsur utama
yang berbeda dan ke semua bagian ini memiliki fungsi penting dalam proses
melihat. Kerusakan atau ketiadaan salah satu fungsi bagiannya saja, menjadikan
mata mustahil dapat melihat. Ada kornea, lensa, retina yang semuanya punya
andil besar dalam penglihatan manusia. Zahra teringat pelajaran Biologi yang
disukainya lengkap dengan gurunya yang selalu mengajarnya dengan semangat
membara.
“Sabar teman, semua diuji dengan
bentuk dan tingkatannya masing-masing. Selalu berusahalah menjadi insan yang
pandai mensyukuri nikmat-Nya, Insya Allah akan ditambahi nikmatNya.”
”Ya,
Mbak,
kita memang harus selalu bersyukur walau dalam kondisi
seperti apapun.
Ibarat wayang, kita adalah lakonnya, kita ikuti saja sutradara tunggal kita
Allah SWT,
yang penting kita selalu optimis dan husnudhon
pada-Nya.”
Tak terasa tugas memindahkan banyak
materi selesai sudah, kini saatnya Zaen dan temannya undur diri.
“Makasih ya, Mbak? Senang bertemu dengan Mbak di acara ini. Assalamualaikum”
“Ya, sama-sama, waalaikum salam.”
Ada kejadian luar biasa
yang membuat Zahra bergidik dengan kelebihan Zaen. Saat sesi tanya jawab
tentang penghitungan zakat, dengan cepat dan tepat dan sigap dia dapat menjawab
5 soal dengan betul. Semua hadirin dibuat
melongo dengan kelebihan yang
dipunyainya mengalahkan orang yang bermata normal. Sungguh, Allah melebihkan
hamba-Nya di luar batas akal manusia.
Walau secara kasat
mata, Zaen memiliki kekurangan. Namun, Allah melebihkan dia dengan sesuatu yang
lain. Dia sangat jago dengan hitung menghitung. Memang kelihatannya tidak masuk
akal. Namun, itulah kenyataannya. Orang awam dibuat berdecak kagum padanya.
Subhanallah…
Tidak terasa waktu pelatihannya
selama 9 hari selesai sudah,
semua tinggal kenangan. Kenangan dari teman-teman yang bisa memberi inspirasi untuk bersyukur, maju
dan senantiasa menjadi hamba-hamba yang optimis dalam menjalani kehidupan. Mata
sahabatnya, mengingatkan
perjuangan dalam melawan
keterbatasannya. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan terbaik-Nya. Mengguyurkan kebaikan dan berkah padanya
dan keluarganya. Amien…


0 komentar:
Posting Komentar