Sabtu, 28 Juni 2014

MATA MUTIARA TIADA TARA

Wah, panas dan gerah banget ya?” Zahra mengipasi tubuh mungilnya dengan buku kecilnya. Keringatnya yang besar-besar bak biji jagung membasahi kemeja lusuh putihnya. Zahra melihat peserta tes Ujian Kemampuan Awal (UKA) yang berjibun, datang dari seluruh penjuru Jawa Tengah. Barisan peserta berkostum hitam putih, duduk berjejer siap berjibaku. Ruangan yang di desain bak stadion olah raga yang elok nan artistik, kini penuh oleh lautan manusia. Mereka datang bagaikan gelombang air bah yang dengan cepat memenuhi lokasi tanpa terkendali. Membludak, sumpek dan penuh sesak. Ribuan peserta hadir.
Kok ada ya, acara segede dan semegah ini tanpa AC. Zahra bicara sendiri sambil memelototi  sudut ruangan.
Wow, ada AC besar menggantung di sana,” ucapannya meluncur  spontan tatkala beradu pandang dengan AC yang tergantung persis di atas kepalanya. Bising sekali ocehan peserta yang bersahut-sahutan bak grup paduan suara sedang beraksi mempertontonkan olah vokalnya. Sayangnya, grup vokal ini mempresentasikan talentanya tanpa irama dan birama yang pas, sehingga menimbulkan rasa jengah, resah dan menambah gerah. Ada juga, banyolan-banyolan spontan dari para komedian  dadakan di ruangan, yang menyulut hadirin untuk tersenyum ataupun tertawa lepas.
Acara inti tes UKA, sudah molor hampir satu jam dari undangan yang tersebar. Itu berarti para peserta harus merelakan diri berlama-lama menikmati suasana panas plus aroma parfum alami yang prengus bak bau wedhus, serta produk parfum pabrik dari berbagai merek yang baunya mengguncang dunia.
 Zahra, peserta yang berperawakan kecil dan lincah menebar senyum dengan teman kiri kanannya. Selang beberapa baris darinya, ada laki-laki berkepala botak, bertubuh gemuk dengan wajah bulat, berkulit sawo matang duduk berkaca mata tebal. Zahra sempat meliriknya membaca latihan soal-soal ujian dengan jarak pandang dekat sekali. Buku yang dipegangnya menyentuh kaca matanya. Jarak pandangnya sungguh tidak normal. Ekstrim dekat. Zahra merinding melihat aktivitas membacanya.
“Wach, kasihan laki-laki itu, kaca matanya tebal amat, memangnya dia minus berapa?Bagaimana mungkin dia seorang guru yang memiliki tugas administrasi seabreg  bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik dengan kondisi mata seperti itu? Bagaimana bisa, dia harus menyelesaikan 100 soal di aula nan megah ini” hatinya terketuk.
 Percikan ingatan Zahra kini ke salah satu saudaranya yang tinggal di kota Lumpia. Ia kehilangan mata kanannya karena ulah kakaknya. Sore itu, kakak beradik, yang berusia 10 tahun dan 9 tahun, sedang bersendau gurau,  main jitak-jitakkan dan jotos-jotosan di ruang keluarga. Tak disangka, permainan jotos-jotosannya kali ini mengakibatkan cidera. Adiknya mengalami putus saraf di mata kanannya.
Betapa kecewa hatinya dan kedua orang tuanya, dunia gelap, bumi runtuh. Ketika mengetahui buah hatinya harus merelakan mata kanannya diambil dan diganti dengan mata palsu. Kata Dokter, kalau tidak diambil, matanya, akan membusuk.
Kini, sang Sarjana Hukum yang bermata palsu  tinggal di rumah menemani ayahandanya. Laki-laki jangkung nan ganteng  di masa mudanya, kini hanya menghabiskan hari-harinya dengan aktivitas di rumah.
Masih terlintas jelas di pikirannya, pertemuannya terakhir saat lebaran tahun 2012 silam. Zahra terkesiap. Mata kanan saudaranya, mengeluarkan kotoran putih yang lumayan banyak secara terus menerus. Orang Jawa bilang, ”lodok”. Benar-benar kasihan dia, mata kanannya tidak berfungsi sama sekali.
***
Bel keras mengagetkannya. Lamunannya tentang saudaranya hilang seketika. Bel juga berarti, pertarungan menjawab 100 soal dimulai. Hadirin berkonsentrasi dengan tugas masing-masing.  Namun, jangan heran, bisik-bisik antar peserta tidak dapat terelakkan lagi. Jangan tanya kenapa? Alasannya klasik: “sudah pikun dan sering lupa,” sebuah penyakit khas manula. Maklum, peserta tes kali ini tahun kelahirannya berkisar antara tahun 70-an ke atas. Usia yang cukup sepuh untuk menyelesaikan 100 soal.
Jam 12.00 siang, acara purna. Panas terik khas kota Semarang begitu menggelegak. Peserta segera bergegas ke luar ruangan sekedar untuk mencari udara segar. Zahra dan rombongan melanjutkan wisata religi ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menunaikan Shalat Dhuhur dan sekaligus makan siang rame-rame.
***
Suasana lebaran masih menyelimuti hati dan pikiran. Bertemu dengan sanak saudara tercinta, makan ketupat plus opor ayam kampungnya, camilan-camilan khas lebaran dan tentunya saling memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan. Di hari ketujuh di bulan Syawal tahun ini atau tepatnya tanggal 27 Agustus sampai dengan 4 Septembar 2012, Zahra mendapat tugas pelatihan selama 9 hari di hotel Candi Indah. Disana, dia digembleng untuk memperoleh predikat “Guru Profesional.” Acara ini merupakan tindak lanjut dari tes UKA.  
 Materi-materi yang beraneka ragam dari para pembicara ia ikuti dengan senang hati. Walau kadang jenuh juga, namun dapat dilalui dengan aman terkendali. Senangnya saat itu karena dapat bertemu dengan teman-teman lamanya dari berbagai daerah yang sudah puluhan tahun tidak bertemu. Bak reuni saja rasanya. Allah mempertemukannya dengan teman sewaktu tes yang berkaca mata tebal.
”Mbak,  punya materi reproduksi menurut Al-Qur’an?
 Ya, aku punya dua versi. Ada apa, Mas?
Boleh aku memintanya, Mbak?
Tentu saja, Mas, sesama teman dan saudara kita harus saling membantu.”
Baiklah, terimakasih banyak sebelumnya.
Sama-sama.”
“Masih ingat aku, Mbak?” tiba-tiba temannya yang berkacamata tebal bertanya padanya. Zahra hanya terdiam.
“Aku ingat kamu adalah Zahra yang dulu kuliah di Salatiga. Aku ingat suara emasmu. Kita dari satu almameter, namun beda angkatan.”
 “Oo… maaf , saya lupa mungkin karena sudah tua dan kebanyakan makan brutu.” Jawab Zahra sekenanya saja.
“Nggak juga, Mbak masih muda kok.”
 “Betul, Mas, aku memang masih muda kalau dilihat dari Hongkong” kata Zahra, sambil tersenyum lepas. Zahra memindahkan materi-materi ke flashdisk, sementara, temannya yang bernama Zaen itu menceritakan keadaan matanya.
“Mbak, sebenarnya, aku iri dengan teman-teman di kelas kita, aku ingin seperti mereka, pingin bisa belajar laptop, power point, menulis dan sebagainya. Namun, aku takut dengan mataku.” Zahra tertegun, sebenarnya apa yang terjadi dengan teman ini.
“Memangnya ada apa dengan matamu, Mas Zaen? itulah sebutan untuk temannya yang berkaca mata, Zaen Mustafa lengkapnya. Kini dia terdiam, namun ada gumpalan kesedihan yang tidak dapat disembunyikan dari raut wajahnya yang bulat. Dia termenung, mencoba mengingat kejadian yang nyaris membuat dirinya frustasi. Untung saja keluarga dan sahabat-sahabatnya selalu menguatkannya untuk bangkit.
Beberapa tahun yang lalu, aku naik sepeda motor, sebab ada suatu urusan yang harus aku selesaikan. Sepanjang perjalanan, aku merasa tegang, gatal dan lelah sekali. Hingga tiba-tiba, mataku terasa sakit yang luar biasa.” Zahra berhenti dari aktivitasnya dan mulai memperhatikan cerita Zaen dengan seksama. Zahra ingin menguak misteri mata sahabatnya itu.
“Dua hari aku di rumah, karena tidak kuat merasakan sakit, pihak Puskesmas merujukku ke RS Kariadi untuk melanjutkan pengobatan mataku. Sungguh tak kukira, aku harus menjalani operasi . Mata sebelah kiriku dioperasi, dikeluarkan lalu dimasukkan lagi, dan itu berlangsung empat kali.” Deg! hati Zahra  bergetar kencang seolah ikut merasakan penderitaannya. Namun, dia berusaha tetap tenang, walau jujur, kasihan rasa meluncur deras dari hatinya terdalam. Zaen masih saja melanjutkan lakon hidupnya.
“Ternyata hasil akhir diagnosa dokter menyatakan bahwa syaraf mata kiriku putus. Sekarang, aku tidak punya mata lagi. Aku sangat sedih. Otomatis, mata kiriku tidak bisa melihat sejak saat itu. Sedang ini tinggal satu mata, aku rawat dia dengan sungguh-sungguh, walau kondisiku seperti ini aku tetap bersyukur. Mata kananku minus 20, Mbak.  Jarak pandangku sangat dekat. Mbak tahu, ketika para pembicara mempresentasikan materi via power point, walau aku duduk di baris pertama, aku tidak bisa melihat layar LCD. Aku hanya mendengarkan saja.” Zahra terpaku mendengarkan cerita Zaen Mustafa. Zahra tidak bisa membayangkan betapa berat cobaan yang menimpanya selama ini.
“Kalau aku paksakan untuk belajar laptop, takutnya, mata kananku akan bernasib sama dengan mata kiriku, sehingga kuurungkan saja niat untuk mempelajarinya.”
Zaen masih saja menceritakan keadaan matanya. Kini, teka-teki tentang lelaki berkaca mata tebal itu telah terungkap. Padahal semua orang tahu betapa pentingnya mata bagi manusia. Mata adalah jendela dunia. Darinya, manusia dapat belajar apapun yang ada jagad raya serta melihat keindahan alam yang beraneka rupa cantiknya.
Mata manusia berbentuk bulat dengan garis tengah kurang lebih 2,5 sentimeter. Bola mata berupa cairan kental atau dengan nama lain vitreus humor , sedangkan pada bagian depannya terdapat cairan bening dengan nama lain  aqueus humor. Mata juga dilindungi cekungan bertulang di depan tengkorak dan bisa bergerak bebas di dalam cekungan tersebut dengan bantuan seperangkat otot. Sedangkan tengkorak yang ada di belakang alis berfungsi untuk melindungi mata.
Sungguh, Allah menciptakan mata bagi manusia yang memiliki cara kerja otomatis yang sempurna. Mata dibentuk dengan 40 unsur utama yang berbeda dan ke semua bagian ini memiliki fungsi penting dalam proses melihat. Kerusakan atau ketiadaan salah satu fungsi bagiannya saja, menjadikan mata mustahil dapat melihat. Ada kornea, lensa, retina yang semuanya punya andil besar dalam penglihatan manusia. Zahra teringat pelajaran Biologi yang disukainya lengkap dengan gurunya yang selalu mengajarnya dengan semangat membara.
 “Sabar teman,  semua diuji dengan bentuk dan tingkatannya masing-masing. Selalu berusahalah menjadi insan yang pandai mensyukuri nikmat-Nya, Insya Allah akan ditambahi nikmatNya.”
”Ya, Mbak, kita memang harus selalu bersyukur walau dalam kondisi seperti apapun. Ibarat wayang, kita adalah lakonnya, kita ikuti saja sutradara tunggal kita Allah SWT, yang penting kita selalu optimis dan husnudhon pada-Nya.
 Tak terasa tugas memindahkan banyak materi selesai sudah, kini saatnya Zaen dan temannya undur diri.
“Makasih ya, Mbak? Senang bertemu dengan Mbak di acara ini. Assalamualaikum”
 “Ya, sama-sama, waalaikum salam.”
Ada kejadian luar biasa yang membuat Zahra bergidik dengan kelebihan Zaen. Saat sesi tanya jawab tentang penghitungan zakat, dengan cepat dan tepat dan sigap dia dapat menjawab 5 soal  dengan betul. Semua hadirin dibuat melongo dengan kelebihan yang dipunyainya mengalahkan orang yang bermata normal. Sungguh, Allah melebihkan hamba-Nya di luar batas akal manusia.
Walau secara kasat mata, Zaen memiliki kekurangan. Namun, Allah melebihkan dia dengan sesuatu yang lain. Dia sangat jago dengan hitung menghitung. Memang kelihatannya tidak masuk akal. Namun, itulah kenyataannya. Orang awam dibuat berdecak kagum padanya. Subhanallah…
 Tidak terasa waktu pelatihannya selama 9 hari selesai sudah, semua tinggal kenangan. Kenangan dari teman-teman yang bisa memberi inspirasi untuk bersyukur, maju dan senantiasa menjadi hamba-hamba yang optimis dalam menjalani kehidupan. Mata sahabatnya, mengingatkan perjuangan  dalam melawan keterbatasannya. Semoga Allah senantiasa memberikan jalan terbaik-Nya. Mengguyurkan kebaikan dan berkah padanya dan keluarganya. Amien…





0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan