Sabtu, 28 Juni 2014

SI BUTA BERHATI MULIA

Suara jangkrik masih saja terdengar. Nampak laron beterbangan dan menari kesana kemari tiada henti di tiang pal listrik dan di bola lampu yang menyala dengan terangnya. Seakan berpesta merayakan kemenangannnya, mereka terus saja memamerkan tarian nan energik dengan kepakan sayap-sayapnya yang berwarna kecoklat-coklatan, mereka beterbangan tiada henti entah sampai kapan. Walau baru pukul 18.00 WIB, namun kesunyian begitu terasa. Dinginnya malam  terasa menyentuh semua warga yang tinggal di desa.
 Malam itu seperti malam-malam biasanya, Laila mengikuti acara pengajian Yasinan di desanya. Banyak sekali jamaah di malam itu. Entah apa yang menggerakkan hati ibu-ibu untuk menghadiri pengajian atau hanya suatu kebetulan saja. Laila datang agak terlambat dari biasanya, sebab masih ada urusan yang harus dia bereskan sebelum berangkat ke majlis taklim tersebut.
“Ibu berangkat pengajian dulu ya nak?” Dijawab koor oleh ketiga putrinya disertai anggukan serempak.
“Bawa oleh-oleh yang banyak ya, Bu. Jangan lupa-jangan lupa!”
Hush, pengajian kok minta dibawakan oleh-oleh. Ya, ntar Ibu belikan jajanan di warung Mbok Tik di seberang sana. Semoga ada makanan yang enak-anak.” Laila menjawabnya sambil tersenyum. Ketiga putrinya melanjutkan aktivitas seperti sedia kala. Si Ismi sibuk utak-atik laptopnya, Si Hilmi mengerjakan tugas dari gurunya sedang si bungsu Azzahra bermain lompat tali sendirian.
***
“Assalamualaikum?” suara Laila menguluk salam pada jamaah pengajian yang telah duduk berjejer rapi sepanjang ruang tamu. Dijawab serempak oleh jamaah yang telah hadir duluan.
Ada beberapa ibu yang sibuk antre membayar uang arisan. Ada juga ibu-ibu yang mengumpulkan uang infak rutin setiap kali pertemuan. Nampak ibu-ibu sudah siap memulai acara di malam itu, walau masih terdengar  suara kicauan dari beberapa balita dan tingkah polahnya yang tidak bisa diam, yang ikut ibunya juga di acara tersebut.
Bapak Turmudi selaku pengasuh segera memulai muqoddimah dengan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama dan selanjutnya jamaah melafalkan surat Yasin. Terdengar suara bacaan Yasin yang kompak dan menyentuh kalbu. Kegiatan ini sudah berlangsung bertahun-tahun dan merupakan ajang silaturrahim antar warga, disamping ajang tholabul ilmi, mencari ilmu dalam rangka liibtighoi mardhatillah, mencari keridhaan Allah.
Dengan suara sedang, nampak beberapa ibu sudah hafal sehingga tak ada buku kecil di pangkuannya. Acara diakhiri dengan shalat Isya’ berjamaah dan tentu saja doa bersama. Laila melihat ke samping kiri dan kanan. Nampak tuan rumah mulai mengeluarkan air teh hangat serta nasi bungkus. Itulah kebiasaan di penghujung acara. Yang bagi anak-anak merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu.
Ada yang aneh di malam itu. Laila melihat ada seseorang yang asing baginya. Orang tersebut sungguh sama sekali  belum pernah dilihatnya. Dia memang seseorang yang berasal dari luar daerah. Tubuhnya subur, kira-kira berusia 40-an, matanya agak terpejam, mungkin hanya bisa terbuka 20 derajat saja. Namun, dia begitu ramah dengan sisi kanan kirinya. Laila baru pertama kali bertemu dengannya, sebelum berpisah, mereka bersalaman dengannya. Laila menyapanya dengan halus.
“Siapa ya? Dia menjawab dengan cekatan dan percaya diri.
 “Saya Mbah Ju.” Walau belum tua, namun dia memperkenalkan diri dengan panggilan Mbah Ju. Entah siapa nama lengkapnya, Laila tidak bertanya lebih lanjut. Yang diingat Laila tentang orang asing tersebut adalah bahwa seseorang tersebut bernama Mbah Ju.Menurut informasi dari beberapa sumber mengatakan bahwa dia seorang tukang pijat dari desa tetangga. Akhirnya,Acara pengajian di malam itu diakhiri dengan doa kifaratul majlis. Jamaah berhamburan ke rumah masing-masing setelah sebelumnya saling bersalaman pada sesama jamaah dan tuan rumah.
***
Langit mendung pertanda akan turun hujan. Awan hitam berarak dan berkejar-kejaran di langit nun jauh disana. Gumpalan hitamnya semakain pekat dan siap untuk turun di muka bumi. Pepohonan  berlenggak lenggok tertiup angin yang berhembus. Sesekali halilintar dan kilat menampakkan suara dan kilatannya.

Ada rasa takut juga menyaksikan gejala alam di hari itu. Betul adanya, beberapa saat kemudian, hujan turun deras sekali, sepertinya semua air dari langit tertumpah di hari itu. Laila tidak bergeming  dari tempat duduknya. Dia masih setia  di ruang kerjanya sambil mengerjakan tugas yang masih tersisa. Hitung-hitung sambil menanti hujan reda.
 Akhirnya waktu yang dinantipun tiba juga, berangsur-angsur hujan berhenti. Bergegas Laila meninggalkan tempat kerjanya, meluncur menuju rumahnya. Bayangan putri-putrinya sudah menari-nari di pelupuk matanya. Dan ia ingin segera dapat bertemu dengannya  untuk melepas rindu.
Sepeda melaju dengan kecepatan sedang. Berkilo-kilo harus dia lalui setiap hari dengan segala suka dukanya. Kurang 2 km dari rumahnya, ada sesuatu yang terjadi dengan sepedanya. Sepeda berjalan agak oleng, dan setelah dicek ternyata benar.
 “Yach gembos dech...
 Itulah romantikanya bersepeda, kadangkala bisa membuatnya tersenyum bahagia melanglang buana, namun kadang kala membuatnya bersedih.
Cari bengkel dulu biar dapat diajak menemaniku lagi” Dia mengajak bicara  sepedanya. Kebetulan sekali, di dekatnya sudah ada bengkel sepeda yang lagi sepi pelanggan. Si montir langsung sigap melakukan aktivitasnya, demi melayani yang prima. Sementara itu, untuk mengisi waktu luangnya, Laila berbicang-bincang dengan sang pemilik bengkel, Mbak Tuti, namanya.
“Mbak Tuti tahu tukang pijat perempuan di sekitar sini?”
 “Ohkalau tukang pijat perempuan sich mending ke Mbah Ju saja Mbak” katanya. Mbah Ju... ya Mbah Ju ingat sekarang. Dia adalah seseorang yang ikut pengajian di malam itu.
“Rumah mbah Ju itu dimana?”
“Mbak, langsung saja ke Desa Glawan, di perempatan ambil kekiri, kira-kira 500m dari perempatan, belok ke kiri lagi, disitulah Mbah Ju tinggal.”
“Ya, terimakasih infonya ya? Saya mau kesana ikutan sekalian nggak?”
“Nggak ah, saya baru saja memijitkan si bungsu kok” jawab Mbak Tutik tanpa ekspresi.
***
Tempat yang sepi, hanya ada pohon bambu yang berjajar di samping rumah. Pohon bambu yang tertiup angin, menimbulkan suara-suara khasnya. Disamping kiri jalan ada sebuah makam, agak serem juga ya, sepi, jalan becek suara bambu.
Ah… rasa takutnya ditepisnya sendiri, demi mendapatkan pijatan yang dapat membuat dirinya fresh kembali.   Laila mencari seseorang untuk bertanya. Kepalanya menoleh kekiri dan kenanan, namun tidak didapatinya apa yang dicari. Hingga ia belok kanan dan masuk ke sebuah rumah, dan bertanya pada seseorang yang ternyata si empunya rumah.
 “Bu mau nanya dimana ya rumah mbah Ju yang seorang pemijat?
 Ada 5 orang yang berada di dalam rumah, salah satunya menjawab.
 Ya ini rumah Mbah Ju.
 Alhamdulillah, ternyata tidak tersesat”, batinnya
 “Mari masuk ...”
Suara khas Mbah Ju yang ramah mempersilahkan tamunya yang baru tiba.
 “Ibu dari mana, apa sudah pernah kesini, dengan siapa, tadi kesasar tidak, becek ya bu?”  Mbah Ju memberondong beberapa pertanyaan sekaligus, tanda senang ada tamu datang. Tamu berarti rejeki kan?
 “Saya dari desa sebelah tidak jauh dari sini, namun ini adalah kali pertama saya bertandang di rumah Mbah. Tadi saya diberitahu oleh mbak Tuti yang pemilik bengkel putri dari Pak Zarnuji.
“O begitu ya, apa pernah ketemu saya sebelumnya?”
“Ya, Mbah Ju, kita memang pernah ketemu di pengajian Yasinan Belon saat itu. Allah telah menggerakkan kaki saya untuk mengunjungi Mbah Ju.
“ Ya ya... sambutnya. Anda beruntung bu, biasanya ada banyak antrean di sini. Namun khusus hari Kamis, saya buka sampai jam 16.00 WIB.” Mbah Ju nerocos mengajak bicara tiada henti. Saat itu Mbah Ju masih memijit bayi laki-laki yang masih berusia sekitar enam bulan didampingi kedua orang tuanya dan kakak perempuannya.
Waktu yang ditunggunya tiba juga. Setelah mempersiapakan segala sesuatunya, Mbah Ju mempersilahkan Laila untuk memasuki ruangan yang sudah disediakan. Satu setengah jam berjalan begitu cepat, sebab saat itu Laila merasakan penat yang luar biasa. Tugas-tugasnya yang begitu banyak menguras energi dan perhatiannya. Hingga badan terasa letih tak bertenaga.
 “Mbah, apakah saya boleh bertanya tentang sesuatu?”
 “ Boleh-boleh, ibu bisa bertanya tentang apa saja. Memangnya apa yang mau ibu tanyakan”.
“Kok serius sekali, memangnya mau nanya apa bu?”
“Ehm, gini Mbah, memangnya mbah itu buta mulai kapan? Maksud saya pada usia berapa? Dari lahir, kecil atau baru-baru saja?”
 “Oalah masalah itu to,Gini bu, ketika orang tuaku melahirkanku, aku dalam keadaan normal. Namun, kalau ibu kandungku buta bawaan.” Sejenak suasana hening tanpa kata. Sambil mengingat-ingat kejadian kala itu. Mbah Ju menjelaskan lebih lanjut. “Hingga suatu ketika, tahun 1977 silam, ketika aku berusia delapan tahun sakit panas menimpaku. Suhu panasku  saat itu sangat tinggi, hingga akhirnya orang tuaku membawaku ke seorang dukun. Itulah awal mula aku tidak bisa melihat dunia lagi sampai dengan sekarang. Apa penyebabnya, aku tidak tahu persis, mungkin sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa kali ya?”
 “Sekarang tanya yang lain mbah, bolehkah?”
“Kalau masalah cinta boleh Mbah,” Nampak mbah Ju tersenyum dan bersemangat ketika diajak bicara masalah cinta. Dia tersenyum dan sesekali tertawa lepas...
“Awal mula temu bapak ( suami ) kapan dan dimana ya?”
“Wah ... wah ... kalau itu sih namanya jodoh, Bu. Dimanapun bisa saja bertemu. Kami bertemu saat sekolah.  Dia yang juga berstatus buta mencariku di desa dan langsung meminangku dan mengajak untuk menikah. Dahulu pihak keluarganya menolak pernikahan kami. Orang buta menikah dengan orang buta, siapa dan bagaimana dengan anak-anak yang akan dilahirkannya kelak. Itulah alasan utamanya. Rasa khawatir dan was-was dari keluarganya sangat besar. Namun, cinta kami juga sangat kuat hingga tidak ada yang mampu memisahkan. Kami tetap akan bersatu sampai ajal menjemput kelak. Kami resmi menikah secara agama dan negara. Kini, dua buah hati kami telah menghiasi rumah tangga yang kami bina.”
 Mbah Ju melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat. Dia seperti habis minum extra joss saja, tenaganya kuat luar biasa.
 “Alhamdulillah, oleh dinas sosial, saya disekolahkan. Saya diajari macam-macam ketrampilan agar dapat hidup mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain. Ketrampilan yang diajarkan antara lain memijat, membuat sulak, sapu, dan memasak. yang saya tekuni sekarang hanya ketrampilan memijat saja. ini saja sudah tidak bisa istirahat kok. Rata-rata perhari sekarang ada 20-an yang datang kesini untuk dipijat.” Mbah Ju terus saja bercerita tanpa henti di sepanjang pijatannya itu.
Alhamdulllah, Subhanallah ya Mbah, diberi kemudahan, kesehatan dan rejeki yang melimpah oleh Allah SWT.”
“Ya, makanya, dalam menjalani hidup itu yang penting semangat dan khusnudhon pada Allah, pasti ada jalan keluar kok” Mbah Ju menjawab sambil terus bercerita bahwa dia memulai hidup di desa Glawan itu dari nol. Dia seorang pendatang yang tidak punya apa-apa. Dia dan suami yang sama-sama buta dan berprofesi sebagai pemijat bekerja keras , bahu membahu dan bekerja sama untuk mengumpulkan uang. Uang itu selanjutnya untuk membeli lahan tanah yang kini sudah didirikan rumah.
Kami kumpulkan sedikit demi sedikit uang tersebut, bahkan kami dapat meminjami uang pada saudara yang membutuhkan.
Baru-baru ada saudara yang meminjam untuk membayar biaya sekolah anaknya ke saya, walau hanya dua setengah juta imbuhnya. Kami baru saja membeli sepeda motor untuk anakku warna merah itu di depan rumah dan menyekolahkan mereka. Saya akan bekerja terus agar mereka dapat sekolah sampai setinggi-tingginya.”
Nampak Mbah Ju bersemangat ketika menceritakan kedua buah hatinya yang sangat menyayangi orang tuanya dan tidak malu memiliki kedua orang tua yang sama-sama buta. Ini merupakan hadiah terindah dalam hidupnya, diberi keturunan yang sehat dan normal.  Tidak seperti dirinya yang tidak dapat melihat indahnya dunia dengan segala perhiasannya. Di mata mbah Ju, hanya ada warna hitam saja. Walau buta, namun Mbah Ju pantang menyerah dan pekerja keras.
“Lha terus kalau memasak bagaimana mbah, misalnya membedakan antara merica dan ketumbar atau membedakan antara garam dan gula pasir?”
“ Ya biasa tow, kami kan dulu diajari di sekolahan” jawabnya.
Dia juga menjelaskan bahwa semua pekerjaan dapat beliau kerjakan layaknya orang normal lainnya, mencuci pakaian, memetik hasil panenan di sawah, ke pasar berbelanja. Dia juga mengetahui kapan hujan dating, sehingga serta merta akan mengampil jemuran yang ada di halaman rumahnya.
 Di sela-sela pijitan dan cerita yang masih mengalir dari mulutnya, listrik padam, sehingga ruangan menjadi gelap.
“wach, gelap ya bu, bentar saya hidupkan dahulu” , ia berbicara sendiri. Ia meraba-raba saklar yang ada disamping atas pintu masuk, kemudian menyentuhnya.
“Lha, sudah terang to bu sekarang”. Lanjutnya. Bagi Laila berinteraksi dengan orang buta adalah pengalaman pertamanya. Laila tidak menyangka bahwa pekerjaan apapun dapat dikerjakannya dengan baik dan tuntas. “Subhanallah”. Laila masih belum bisa membayangkan bagaimana saat mbah Ju menanak nasi di dapur, buat sayur, menggoreng tempe. Mungkinkah gorengannya akan sesempurna seperti masakan orang normal. Belum lagi membayangkan saat mbah Ju membesarkan anaknya dulu. Saat-saat si bayi masih sangat imut, bagaimana memandikannya, membuatkan susu, mengjaknya bermain dan segainya. Sungguh luar biasa.
Heran juga Laila mendengar cerita dari Mbah Ju. Ada pelajaran yang dapat dipetik dari pertemuannya kali ini. Dia memang buta secara fisik, namun jiwanya tidak buta. Bahkan semangatnya yang luar biasa patut mendapat acungan jempol. Sikap mandiri, pekerja keras, pantang menyerah, hemat terpancar dari kehidupannya dibalik keterbatasannya.

Melihat bangunan rumahnya yang luas, permanen dan bagus menandakan bahwa penghuninya itu orang yang luar biasa. Sebuah rumah yang bersih dan tertata rapi ternyata si empunya seorang yang buta. Subhanallah, luar biasa, dia sangat mensyukuri segala nikmat-nikmat-Nya dengan berperilaku mulia. Sekali lagi Subhanallah.... Segala puji bagi Allah... Tuhan semesta alam.

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan