Suara jangkrik masih
saja terdengar. Nampak laron
beterbangan dan menari kesana kemari tiada henti di tiang pal listrik dan di
bola lampu yang menyala dengan terangnya. Seakan berpesta
merayakan kemenangannnya, mereka terus saja memamerkan tarian nan energik
dengan kepakan sayap-sayapnya yang berwarna kecoklat-coklatan, mereka
beterbangan tiada henti entah sampai kapan. Walau baru pukul 18.00 WIB, namun kesunyian begitu terasa.
Dinginnya malam terasa menyentuh semua
warga yang tinggal di desa.
Malam itu seperti malam-malam
biasanya, Laila mengikuti
acara pengajian Yasinan di desanya. Banyak sekali jamaah di malam itu. Entah
apa yang menggerakkan hati ibu-ibu untuk menghadiri pengajian atau hanya suatu
kebetulan saja. Laila datang agak terlambat dari biasanya, sebab masih
ada urusan yang harus dia bereskan sebelum berangkat ke
majlis taklim
tersebut.
“Ibu berangkat pengajian dulu ya nak?”
Dijawab koor oleh ketiga putrinya disertai anggukan serempak.
“Bawa oleh-oleh yang
banyak ya, Bu. Jangan lupa-jangan lupa!”
“Hush, pengajian kok minta dibawakan oleh-oleh. Ya, ntar Ibu belikan
jajanan di warung Mbok Tik di seberang sana. Semoga ada makanan yang
enak-anak.” Laila menjawabnya sambil tersenyum. Ketiga putrinya melanjutkan
aktivitas seperti sedia kala. Si Ismi sibuk utak-atik laptopnya, Si Hilmi
mengerjakan tugas dari gurunya sedang si bungsu Azzahra bermain lompat tali
sendirian.
***
“Assalamualaikum?”
suara Laila menguluk salam pada jamaah pengajian yang telah duduk berjejer rapi
sepanjang ruang tamu. Dijawab serempak oleh jamaah yang telah hadir duluan.
Ada beberapa ibu yang
sibuk antre membayar uang arisan. Ada juga ibu-ibu yang mengumpulkan uang infak
rutin setiap kali pertemuan. Nampak ibu-ibu sudah siap memulai acara di malam
itu, walau masih terdengar suara kicauan
dari beberapa balita dan tingkah polahnya yang tidak bisa diam, yang ikut
ibunya juga di acara tersebut.
Bapak Turmudi selaku pengasuh segera memulai muqoddimah dengan membaca Asmaul Husna secara bersama-sama dan
selanjutnya jamaah melafalkan surat Yasin. Terdengar suara
bacaan Yasin yang kompak dan menyentuh kalbu. Kegiatan ini sudah berlangsung
bertahun-tahun dan merupakan ajang silaturrahim antar warga, disamping ajang tholabul ilmi, mencari ilmu dalam rangka
liibtighoi mardhatillah, mencari
keridhaan Allah.
Dengan suara sedang, nampak beberapa ibu sudah hafal sehingga tak ada buku kecil di pangkuannya.
Acara diakhiri dengan shalat Isya’ berjamaah dan tentu saja doa bersama. Laila
melihat ke samping kiri dan kanan. Nampak tuan rumah mulai mengeluarkan air teh
hangat serta nasi bungkus. Itulah kebiasaan di penghujung acara. Yang bagi
anak-anak merupakan event yang sangat ditunggu-tunggu.
Ada yang aneh di malam itu. Laila melihat ada seseorang yang asing baginya. Orang
tersebut sungguh sama sekali belum
pernah dilihatnya. Dia memang seseorang yang berasal dari luar daerah. Tubuhnya subur, kira-kira berusia 40-an, matanya agak terpejam, mungkin hanya bisa terbuka 20
derajat saja. Namun, dia begitu ramah dengan sisi
kanan kirinya. Laila baru pertama kali bertemu dengannya, sebelum berpisah,
mereka bersalaman dengannya. Laila menyapanya dengan halus.
“Siapa ya?” Dia
menjawab dengan cekatan dan percaya
diri.
“Saya Mbah Ju.” Walau belum tua, namun dia memperkenalkan diri dengan
panggilan Mbah Ju. Entah siapa nama lengkapnya, Laila tidak bertanya lebih
lanjut. Yang diingat Laila tentang orang asing tersebut adalah bahwa seseorang
tersebut bernama Mbah Ju.Menurut informasi dari beberapa sumber mengatakan
bahwa dia seorang tukang pijat dari desa tetangga. Akhirnya,Acara
pengajian di malam itu diakhiri dengan doa kifaratul majlis. Jamaah berhamburan
ke rumah masing-masing setelah sebelumnya saling bersalaman pada sesama jamaah
dan tuan rumah.
***
Langit mendung pertanda akan turun hujan. Awan hitam berarak dan
berkejar-kejaran di langit nun jauh disana. Gumpalan hitamnya
semakain pekat dan siap untuk turun di muka bumi. Pepohonan
berlenggak lenggok tertiup angin yang berhembus. Sesekali halilintar dan
kilat menampakkan suara dan kilatannya.
Ada rasa takut juga menyaksikan gejala alam di hari itu. Betul adanya,
beberapa saat kemudian, hujan turun
deras sekali, sepertinya semua air dari langit tertumpah di hari itu. Laila tidak bergeming
dari tempat duduknya. Dia masih setia
di ruang kerjanya sambil mengerjakan tugas yang masih tersisa.
Hitung-hitung sambil menanti hujan reda.
Akhirnya waktu yang dinantipun tiba juga,
berangsur-angsur hujan berhenti.
Bergegas Laila meninggalkan tempat kerjanya, meluncur menuju rumahnya. Bayangan
putri-putrinya sudah menari-nari di pelupuk matanya. Dan ia ingin segera dapat
bertemu dengannya
untuk melepas rindu.
Sepeda melaju dengan
kecepatan sedang. Berkilo-kilo harus dia lalui setiap hari dengan segala suka
dukanya. Kurang 2 km dari rumahnya, ada sesuatu yang terjadi dengan sepedanya. Sepeda berjalan agak oleng, dan
setelah dicek ternyata benar.
“Yach
gembos dech...”
Itulah romantikanya bersepeda, kadangkala bisa membuatnya
tersenyum bahagia melanglang buana, namun kadang kala membuatnya bersedih.
”Cari bengkel dulu biar dapat diajak menemaniku lagi”
Dia mengajak bicara sepedanya. Kebetulan sekali, di dekatnya sudah ada bengkel sepeda
yang lagi sepi pelanggan. Si montir langsung sigap melakukan
aktivitasnya, demi melayani yang prima. Sementara
itu, untuk mengisi waktu luangnya,
Laila berbicang-bincang dengan sang pemilik bengkel, Mbak Tuti, namanya.
“Mbak Tuti tahu tukang pijat perempuan di sekitar sini?”
“Oh…kalau tukang pijat perempuan sich mending ke Mbah Ju saja Mbak” katanya. Mbah Ju... ya Mbah Ju… ingat sekarang. Dia adalah seseorang yang ikut pengajian di malam itu.
“Rumah mbah Ju itu dimana?”
“Mbak, langsung saja ke Desa Glawan, di perempatan ambil kekiri, kira-kira
500m dari perempatan, belok ke kiri lagi, disitulah Mbah Ju
tinggal.”
“Ya, terimakasih
infonya ya? Saya mau kesana ikutan sekalian nggak?”
“Nggak ah, saya baru
saja memijitkan si bungsu kok” jawab Mbak Tutik tanpa ekspresi.
***
Tempat yang sepi, hanya ada pohon bambu yang berjajar di samping rumah.
Pohon bambu yang tertiup angin,
menimbulkan suara-suara khasnya. Disamping kiri jalan ada sebuah makam, agak
serem juga ya, sepi, jalan becek suara bambu.
Ah… rasa takutnya
ditepisnya sendiri, demi mendapatkan pijatan yang dapat membuat dirinya fresh
kembali. Laila mencari seseorang untuk bertanya.
Kepalanya menoleh kekiri dan kenanan, namun tidak didapatinya apa yang dicari. Hingga ia
belok kanan dan masuk ke sebuah rumah, dan bertanya pada seseorang yang
ternyata si empunya rumah.
“Bu… mau nanya dimana ya rumah mbah Ju yang seorang pemijat?”
Ada 5 orang yang berada di dalam
rumah, salah satunya menjawab.
”Ya ini rumah Mbah Ju.”
”Alhamdulillah, ternyata tidak tersesat”, batinnya
“Mari masuk ...”
Suara khas Mbah Ju yang ramah mempersilahkan tamunya
yang baru tiba.
“Ibu dari mana, apa sudah pernah
kesini, dengan siapa, tadi kesasar tidak, becek ya bu?” Mbah Ju
memberondong beberapa pertanyaan sekaligus, tanda senang ada tamu datang.
Tamu berarti rejeki kan?
“Saya dari desa sebelah tidak jauh
dari sini, namun ini adalah kali pertama saya bertandang di rumah Mbah. Tadi saya diberitahu oleh mbak
Tuti yang pemilik bengkel putri dari Pak Zarnuji.”
“O begitu ya, apa pernah ketemu saya sebelumnya?”
“Ya, Mbah Ju,
kita memang pernah ketemu di pengajian Yasinan Belon saat itu. Allah telah
menggerakkan kaki saya untuk mengunjungi Mbah Ju.”
“ Ya ya... sambutnya. Anda beruntung bu, biasanya ada banyak antrean di
sini. Namun khusus hari Kamis, saya buka sampai jam 16.00 WIB.” Mbah Ju nerocos
mengajak bicara tiada henti. Saat itu Mbah Ju masih memijit bayi laki-laki yang
masih berusia sekitar enam
bulan didampingi kedua orang tuanya dan kakak perempuannya.
Waktu yang ditunggunya tiba juga. Setelah mempersiapakan segala sesuatunya,
Mbah Ju mempersilahkan Laila untuk memasuki ruangan yang
sudah disediakan. Satu setengah jam berjalan begitu cepat, sebab saat itu Laila
merasakan penat yang luar biasa. Tugas-tugasnya yang begitu banyak menguras
energi dan perhatiannya. Hingga badan terasa letih tak bertenaga.
“Mbah, apakah saya boleh bertanya tentang sesuatu?”
“ Boleh-boleh, ibu bisa bertanya tentang apa saja. Memangnya apa yang
mau ibu tanyakan”.
“Kok serius sekali,
memangnya mau nanya apa bu?”
“Ehm, gini Mbah, memangnya mbah itu buta mulai kapan? Maksud
saya pada usia
berapa? Dari lahir, kecil atau baru-baru saja?”
“Oalah masalah itu to,Gini bu, ketika orang tuaku melahirkanku, aku dalam
keadaan normal. Namun, kalau ibu kandungku buta bawaan.” Sejenak suasana hening
tanpa kata. Sambil mengingat-ingat kejadian kala itu. Mbah Ju menjelaskan lebih
lanjut. “Hingga suatu ketika, tahun 1977 silam, ketika aku berusia delapan tahun sakit panas menimpaku.
Suhu panasku saat itu sangat tinggi, hingga akhirnya orang tuaku membawaku ke seorang dukun.
Itulah awal mula aku tidak bisa melihat dunia lagi sampai dengan sekarang. Apa
penyebabnya, aku tidak tahu persis, mungkin sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa kali
ya?”
“Sekarang tanya yang lain mbah,
bolehkah?”
“Kalau masalah
cinta boleh Mbah,” Nampak mbah Ju tersenyum dan bersemangat ketika diajak bicara masalah
cinta. Dia tersenyum dan sesekali tertawa lepas...
“Awal mula
temu bapak ( suami ) kapan dan dimana ya?”
“Wah ... wah ... kalau itu sih namanya jodoh, Bu. Dimanapun bisa saja bertemu. Kami bertemu saat sekolah. Dia yang juga berstatus buta mencariku di
desa dan langsung meminangku dan
mengajak untuk menikah. Dahulu pihak keluarganya menolak pernikahan kami. Orang
buta menikah dengan orang buta, siapa dan bagaimana dengan anak-anak yang akan
dilahirkannya kelak. Itulah alasan utamanya. Rasa khawatir dan was-was dari keluarganya sangat
besar. Namun, cinta kami juga sangat kuat hingga tidak ada yang mampu memisahkan. Kami
tetap akan bersatu sampai ajal menjemput kelak. Kami resmi menikah secara agama
dan negara. Kini, dua buah hati kami telah menghiasi rumah tangga yang kami
bina.”
Mbah Ju melanjutkan ceritanya
dengan penuh semangat. Dia seperti habis minum extra joss saja, tenaganya kuat
luar biasa.
“Alhamdulillah, oleh dinas sosial, saya
disekolahkan. Saya diajari macam-macam ketrampilan agar dapat hidup mandiri dan
tidak tergantung dengan orang lain. Ketrampilan yang diajarkan antara lain
memijat, membuat sulak, sapu, dan memasak. yang saya tekuni sekarang hanya ketrampilan memijat saja.
ini saja sudah tidak bisa istirahat kok. Rata-rata perhari sekarang ada 20-an yang datang kesini untuk dipijat.” Mbah
Ju terus saja bercerita tanpa henti di sepanjang pijatannya itu.
“Alhamdulllah, Subhanallah
ya Mbah, diberi kemudahan, kesehatan dan rejeki yang melimpah
oleh Allah SWT.”
“Ya,
makanya, dalam menjalani hidup itu yang penting semangat
dan khusnudhon
pada Allah, pasti ada jalan keluar kok” Mbah Ju menjawab sambil terus bercerita bahwa dia memulai
hidup di desa Glawan itu dari nol. Dia seorang pendatang yang tidak punya
apa-apa. Dia dan suami yang sama-sama buta dan berprofesi sebagai pemijat
bekerja keras , bahu membahu dan bekerja sama untuk mengumpulkan uang. Uang itu
selanjutnya untuk membeli lahan tanah yang kini sudah didirikan rumah.
Kami kumpulkan sedikit demi sedikit uang tersebut, bahkan kami dapat
meminjami uang pada saudara yang membutuhkan.
“Baru-baru ada saudara yang meminjam untuk membayar biaya
sekolah anaknya ke saya, walau hanya dua setengah juta
imbuhnya. Kami baru saja membeli sepeda motor untuk anakku warna merah itu di
depan rumah dan menyekolahkan mereka. Saya akan bekerja terus agar mereka dapat
sekolah sampai setinggi-tingginya.”
Nampak Mbah Ju bersemangat ketika menceritakan kedua buah hatinya yang
sangat menyayangi orang tuanya dan tidak malu memiliki kedua orang tua yang
sama-sama buta. Ini merupakan hadiah terindah dalam hidupnya, diberi keturunan
yang sehat dan normal. Tidak
seperti dirinya yang tidak dapat melihat indahnya dunia dengan segala
perhiasannya. Di mata mbah Ju, hanya ada warna hitam saja. Walau buta, namun
Mbah Ju pantang menyerah dan pekerja keras.
“Lha terus kalau memasak bagaimana mbah, misalnya membedakan antara merica
dan ketumbar atau membedakan antara garam dan gula pasir?”
“ Ya biasa tow, kami kan dulu diajari di sekolahan” jawabnya.
Dia juga menjelaskan
bahwa semua pekerjaan dapat beliau kerjakan layaknya orang normal lainnya,
mencuci pakaian, memetik hasil panenan di sawah, ke pasar berbelanja. Dia juga
mengetahui kapan hujan dating, sehingga serta merta akan mengampil jemuran yang
ada di halaman rumahnya.
Di sela-sela pijitan dan cerita yang masih
mengalir dari mulutnya, listrik padam, sehingga ruangan menjadi gelap.
“wach, gelap ya bu,
bentar saya hidupkan dahulu” , ia berbicara sendiri. Ia meraba-raba saklar yang
ada disamping atas pintu masuk, kemudian menyentuhnya.
“Lha, sudah terang to
bu sekarang”. Lanjutnya. Bagi Laila berinteraksi dengan orang buta adalah
pengalaman pertamanya. Laila tidak menyangka bahwa pekerjaan apapun dapat dikerjakannya
dengan baik dan tuntas. “Subhanallah”. Laila masih belum bisa membayangkan
bagaimana saat mbah Ju menanak nasi di dapur, buat sayur, menggoreng tempe.
Mungkinkah gorengannya akan sesempurna seperti masakan orang normal. Belum lagi
membayangkan saat mbah Ju membesarkan anaknya dulu. Saat-saat si bayi masih
sangat imut, bagaimana memandikannya, membuatkan susu, mengjaknya bermain dan
segainya. Sungguh luar biasa.
Heran juga Laila mendengar cerita dari Mbah Ju. Ada pelajaran yang dapat
dipetik dari pertemuannya kali ini. Dia memang buta secara fisik, namun jiwanya
tidak buta. Bahkan semangatnya yang luar biasa patut mendapat acungan jempol.
Sikap mandiri, pekerja keras, pantang menyerah, hemat terpancar dari
kehidupannya dibalik keterbatasannya.
Melihat bangunan rumahnya yang luas, permanen dan bagus menandakan bahwa penghuninya itu
orang yang luar biasa. Sebuah rumah yang bersih dan
tertata rapi ternyata si empunya seorang yang buta. Subhanallah, luar biasa, dia sangat mensyukuri segala nikmat-nikmat-Nya dengan
berperilaku mulia. Sekali lagi Subhanallah.... Segala puji bagi Allah... Tuhan semesta alam.


0 komentar:
Posting Komentar