Begitu penting kedudukan wanita
di dalam masyarakat. Oleh karena itulah Islam menempatkan wanita dalam posisi
yang terhormat. Wujud kongritnya, adanya satu surah yang membahas tentang bab wanita, yaitu surat An-Nisaa’. Di samping
itu, Islam juga sangat menghormati kedudukan ibu, buktinya yaitu penghormatan
tiga banding satu dibanding ayah.
Sebagai wanita Indonesia,
tentunya tidak lupa bahwa pada tanggal 22 Desember kita memperingatinya sebagai
Hari Ibu. ( Belum ada hari bapak, bahkan mungkin tidak akan pernah ada, hari
anak tanggal 23 Juli, Red). Hari ibu
terhitung mulai 22 Desember tahun 1928 yang lalu. Dalam teori, para wanita
boleh bernafas lega atas segala bentuk penghormatan tersebut. Baik dari segi
agama maupun legalitas pemerintah. Pada hari itu, idealnya para ibu diberi
kesempatan untuk menikmati hari yang indah dengan menikmati hari ibunya. Para
bapak pada hari tersebut gantian terjun ke dapur mempersiapkan keperluan rumah
tangga yang jarang dilakoninya. Apakah bapak-bapak mau melakoninya? Banyak jawaban
tentunya! Banyak variabel yang melingkupinya. Dari jawaban itu bukan tugasnya,
tidak terbiasa, sampai kesibukan yang beraneka ragam. Bahkan kenyataannya pada
hari tersebut, para ibu tetap saja berperan seperti biasanya. Tidak ada yang
istimewa, sebab jarang anak-anak dan suami yang sekedar mengucapkan kata “
Selamat hari ibu, mama”. Padahal itu sebenarnya penting juga. Sekedar
memberikan perhatian pada pasangan hidup walau kecil dan terkesan tidak
penting. Bukankah cinta dapat dibangun dari hal-hal yang kecil.
Selama tiga dasawarsa terakhir,
wanita lebih berperan di masyarakat. Kalau dahulu kala peran wanita hanya
sebatas peran domestik ( di dalam rumah tangga) saja, kini merambah ke peran
publik ( di luar rumah tangga). Benar prediksi dari John Naisbit dan Patricia
Aburdence di dalam buku “ Megatrend 2000” bahwa abad ini merupakan “ Women
leadership”, era kepemimpinan wanita.
Kini kita saksikan para wanita yang ikut andil membangun bangsa di
hampir semua ranah kehidupan. Ada yang berprofesi sebagai guru, dokter, polisi,
perawat, penulis, bahkan sebagai pilot. Hal ini disebabkan oleh tingkat
pendidikan yang sempat dienyamnya dan faktor-faktor lain yang memicunya, antara
lain perkembangan informasi yang begitu deras diprediksi menjadi salah satu
faktor penyebab. Disamping faktor ekonomi tentunya. Dengan dalih membantu suami
dan meningkatkan kesejahteraan, wanita ikut bekerja sesuai dengan bidangnya.
Tentunya akan berbeda apabila suatu rumah tangga ditanggung berdua semua
kebutuhannya dengan apabila ditanggung sendirian. Ibarat kata pepatah: Berat
sama dipikul ringan sama dijinjing”. Wanita yang bekerja juga akan memiliki
kepercayaan diri yang lebih dibanding yang hanya mengurusi rumah tangga saja.
Bagi yang berpendidikan cukup,
untuk dapat bekerja kiranya tidak akan
menjadi masalah, sebab memiliki modal pengetahuan yang cukup sesuai dengan
ketrampilan yang dimilikinya. Namun, kenyataan di lapangan banyak wanita yang
harus merelakan bekerja jauh dari keluarnya. Bahkan sampai keluar negeri untuk
menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau
Tenaga Kerja Indonesia ( TKI). Miris juga apabila mendengar berita tentang TKW
atau TKI yang bekerja di luar negeri. Ada yang harus kehilangan kehormatan,
menerima perlakuan kasar dari majikan atau anggota keluarga majikan, tidak
menerima gaji bahkan sampai pembunuhan.
Melihat tayangan RCTI tanggal 20 Desember
2012, memaparkan bahwa TKW yang bernama Indarti binti Haryo Mungin, berasal
dari Grobogan meninggal di tempat tugasnya. Pihak majikan mengklaim bahwa
kematian Indarti disebabkan oleh penyakit. Namun, ternyata setelah dicek, ada
pendarahan otak yang disebabkan oleh kekerasan dan penganiayaan. Ditambah lagi
selama dua tahun bekerja, Indarti tidak menerima gaji yang sudah seharusnya dia
terima. Astaghfirullah... ternyata masih banyak masalah yang membutuhkan
perhatian dan jalan keluar dari warga dan pemerintah. Masih banyak kasus-kasus
serupa yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan secara manusiawi. Sungguh
sedih, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, ternyata keropos tidak
memilik sumber daya manusia yang dapat dihandalkan. Rasanya PJTKI tidak
bergeming dan tidak kuasa memberikan bantuan dan solusi atas segala permasalahan yang seharusnya
menjadi tanggung jawabnya. Masalah pendidikan dan kesejahteraan lagi-lagi
merupakan masalah yang rumit. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan
dengan perlakuan TKI di negara manca. TKI yang berpendidikan rendah relatif
rentan terhadap perlakuan yang kurang manusiawi. Hal ini disebabkan lemahnya
penguasaan bahasa dan kemampuan lainnya. Benar kata pepatah : “ Hujan batu di
negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri seberang “. Hanya
embel-embel pahlawan devisa saja yang melekat pada diri TKW ataupun TKI...
Para ibu dan calon ibu yang
terhormat, sebagai tulisan akhir dari saya marilah kita emban tugas mulia kita
dengan sebaik-baiknya. Wanita berperan sebagai ibu bagi anak-anak kita
tersayang, sebagai istri bagi suami tercinta dan sebagai anggota masyarakat
yang menjadi membawa perubahan positif. Semoga ... Amien Ya Rabb...


0 komentar:
Posting Komentar