Jumat, 04 Juli 2014

REFLEKSI HARI IBU

Begitu penting kedudukan wanita di dalam masyarakat. Oleh karena itulah Islam menempatkan wanita dalam posisi yang terhormat. Wujud kongritnya, adanya satu surah yang membahas tentang  bab wanita, yaitu surat An-Nisaa’. Di samping itu, Islam juga sangat menghormati kedudukan ibu, buktinya yaitu penghormatan tiga banding satu dibanding ayah.
Sebagai wanita Indonesia, tentunya tidak lupa bahwa pada tanggal 22 Desember kita memperingatinya sebagai Hari Ibu. ( Belum ada hari bapak, bahkan mungkin tidak akan pernah ada, hari anak tanggal 23 Juli, Red).  Hari ibu terhitung mulai 22 Desember tahun 1928 yang lalu. Dalam teori, para wanita boleh bernafas lega atas segala bentuk penghormatan tersebut. Baik dari segi agama maupun legalitas pemerintah. Pada hari itu, idealnya para ibu diberi kesempatan untuk menikmati hari yang indah dengan menikmati hari ibunya. Para bapak pada hari tersebut gantian terjun ke dapur mempersiapkan keperluan rumah tangga yang jarang dilakoninya. Apakah bapak-bapak mau melakoninya? Banyak jawaban tentunya! Banyak variabel yang melingkupinya. Dari jawaban itu bukan tugasnya, tidak terbiasa, sampai kesibukan yang beraneka ragam. Bahkan kenyataannya pada hari tersebut, para ibu tetap saja berperan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, sebab jarang anak-anak dan suami yang sekedar mengucapkan kata “ Selamat hari ibu, mama”. Padahal itu sebenarnya penting juga. Sekedar memberikan perhatian pada pasangan hidup walau kecil dan terkesan tidak penting. Bukankah cinta dapat dibangun dari hal-hal yang kecil.
Selama tiga dasawarsa terakhir, wanita lebih berperan di masyarakat. Kalau dahulu kala peran wanita hanya sebatas peran domestik ( di dalam rumah tangga) saja, kini merambah ke peran publik ( di luar rumah tangga). Benar prediksi dari John Naisbit dan Patricia Aburdence di dalam buku “ Megatrend 2000” bahwa abad ini merupakan “ Women leadership”, era kepemimpinan wanita.  Kini kita saksikan para wanita yang ikut andil membangun bangsa di hampir semua ranah kehidupan. Ada yang berprofesi sebagai guru, dokter, polisi, perawat, penulis, bahkan sebagai pilot. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan yang sempat dienyamnya dan faktor-faktor lain yang memicunya, antara lain perkembangan informasi yang begitu deras diprediksi menjadi salah satu faktor penyebab. Disamping faktor ekonomi tentunya. Dengan dalih membantu suami dan meningkatkan kesejahteraan, wanita ikut bekerja sesuai dengan bidangnya. Tentunya akan berbeda apabila suatu rumah tangga ditanggung berdua semua kebutuhannya dengan apabila ditanggung sendirian. Ibarat kata pepatah: Berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Wanita yang bekerja juga akan memiliki kepercayaan diri yang lebih dibanding yang hanya mengurusi rumah tangga saja.
Bagi yang berpendidikan cukup, untuk dapat bekerja  kiranya tidak akan menjadi masalah, sebab memiliki modal pengetahuan yang cukup sesuai dengan ketrampilan yang dimilikinya. Namun, kenyataan di lapangan banyak wanita yang harus merelakan bekerja jauh dari keluarnya. Bahkan sampai keluar negeri untuk menjadi Tenaga  Kerja Wanita (TKW) atau Tenaga Kerja Indonesia ( TKI). Miris juga apabila mendengar berita tentang TKW atau TKI yang bekerja di luar negeri. Ada yang harus kehilangan kehormatan, menerima perlakuan kasar dari majikan atau anggota keluarga majikan, tidak menerima gaji bahkan sampai pembunuhan.
 Melihat tayangan RCTI tanggal 20 Desember 2012, memaparkan bahwa TKW yang bernama Indarti binti Haryo Mungin, berasal dari Grobogan meninggal di tempat tugasnya. Pihak majikan mengklaim bahwa kematian Indarti disebabkan oleh penyakit. Namun, ternyata setelah dicek, ada pendarahan otak yang disebabkan oleh kekerasan dan penganiayaan. Ditambah lagi selama dua tahun bekerja, Indarti tidak menerima gaji yang sudah seharusnya dia terima. Astaghfirullah... ternyata masih banyak masalah yang membutuhkan perhatian dan jalan keluar dari warga dan pemerintah. Masih banyak kasus-kasus serupa yang hingga saat ini belum dapat diselesaikan secara manusiawi. Sungguh sedih, negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi, ternyata keropos tidak memilik sumber daya manusia yang dapat dihandalkan. Rasanya PJTKI tidak bergeming dan tidak kuasa memberikan bantuan dan solusi  atas segala permasalahan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Masalah pendidikan dan kesejahteraan lagi-lagi merupakan masalah yang rumit. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perlakuan TKI di negara manca. TKI yang berpendidikan rendah relatif rentan terhadap perlakuan yang kurang manusiawi. Hal ini disebabkan lemahnya penguasaan bahasa dan kemampuan lainnya. Benar kata pepatah : “ Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri seberang “. Hanya embel-embel pahlawan devisa saja yang melekat pada diri TKW ataupun TKI...

Para ibu dan calon ibu yang terhormat, sebagai tulisan akhir dari saya marilah kita emban tugas mulia kita dengan sebaik-baiknya. Wanita berperan sebagai ibu bagi anak-anak kita tersayang, sebagai istri bagi suami tercinta dan sebagai anggota masyarakat yang menjadi membawa perubahan positif. Semoga ... Amien Ya Rabb...

0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan