Islam amat menekankan betapa pentingnya makna “waktu”
bagi kehidupan. Namun ironisnya, justru umat Islamlah yang belum mempergunakan
waktu secara optimal dan benar. Menurut laporan, waktu efektif yang digunakan
oleh orang-orang Eropa masa kini lebih dari tujuh jam, sedang waktu efektif
yang dipergunakan oleh orang Muslim tidak lebih dari 30 menit.[1]
Dampaknya adalah timbul sinisme terhadap kinerja orang muslim Padahal semua
orang tahu bahwa hanya orang yang dapat mengatur waktunya dengan baik sajalah
yang dapat mencapai kesuksesan.
Jarang manusia yang mau bersusah payah untuk menggapai keberhasilan. Seperti yang dikatakan oleh Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin) seorang pemikir Islam dari Swiss, kontradiksi besar manusia ialah bahwa menghendaki hal yang banyak tetapi enggan bersusah payah, ia menghendaki kenisbian menuju kemutlakan, namun enggan menanggung penderitaan akibat tantangan-tantangan berat perjalanannya, ia menghendaki kekebasan tetapi menolak keterbatasan, seolah-olah kebebasan itu dapat terwujud tanpa pembatasan dan seakan-akan bidang datar yang luas yang terukur namun tanpa batas.[2]
Tak dapat dipungkiri bahwa mempersiapkan diri untuk memasuki masa depan sesungguhnya merupakan etos yang sangat dominan di kalangan umat Islam, sebab Islam memiliki dinamika yang sangat mengesankan. Seperti yang ditulis Robert n. Bellah : etos yang dominan pada komunitas (umat) ini (Islam) ialah giat di dunia ini, aktivitas, bersifat sosial dan politik... dan secara relatif dapat menerima etos yang dominan pada abad ke duapuluh dan seterusnya.[3] Manusia mempunyai peran besar dalam menentukan masa depannya, maka pembinaan SDM menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan-tantangan pembangunan bangsa di masa depan. Manusia yang berkualitas di masa depan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memiliki iman dan takwa serta moralitas, 2) memiliki tanggungjawab pribadi dan sikap jujur, 3) memiliki fisik atau jasmani yang sehat, 4) menghargai ketepatan waktu, 5) memiliki etos kerja yang tinggi, 6) memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya, dan 7) menghargai dan memiliki ilmu pengetahuan.[4]
Dari tujuh kriteria manusia berkualitas diatas, menghargai ketepatan waktu masuk di dalamnya, sehingga masalah manajemen waktu membutuhkan perhatian yang besar pada diri muslim, agar dapat mengembangkan potensi secara maksimal dan berkualitas. Rumusan ciri manusia yang berkualitas tersebut diatas, relevan dengan ciri manusia modern, yang dirumuskan oleh Alex Inkeles yaitu: 1) kecenderungan menerima gagasan-gagasan baru, 2) kesediaan menyatakan pendapat, 3) kepekaan pada waktu, dan lebih mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu tang telah lalu, 4) rasa ketepatan waktu yang lebih baik, 5) keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi, 6) kecenderungan memandang dunia sebagai suatu yang bisa dikalkulasi, 7) menghargai kekuatan ilmu dan teknologi, dan 8) keyakinan bahwa keadilan bisa diratakan.[5]
Jarang manusia yang mau bersusah payah untuk menggapai keberhasilan. Seperti yang dikatakan oleh Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin) seorang pemikir Islam dari Swiss, kontradiksi besar manusia ialah bahwa menghendaki hal yang banyak tetapi enggan bersusah payah, ia menghendaki kenisbian menuju kemutlakan, namun enggan menanggung penderitaan akibat tantangan-tantangan berat perjalanannya, ia menghendaki kekebasan tetapi menolak keterbatasan, seolah-olah kebebasan itu dapat terwujud tanpa pembatasan dan seakan-akan bidang datar yang luas yang terukur namun tanpa batas.[2]
Tak dapat dipungkiri bahwa mempersiapkan diri untuk memasuki masa depan sesungguhnya merupakan etos yang sangat dominan di kalangan umat Islam, sebab Islam memiliki dinamika yang sangat mengesankan. Seperti yang ditulis Robert n. Bellah : etos yang dominan pada komunitas (umat) ini (Islam) ialah giat di dunia ini, aktivitas, bersifat sosial dan politik... dan secara relatif dapat menerima etos yang dominan pada abad ke duapuluh dan seterusnya.[3] Manusia mempunyai peran besar dalam menentukan masa depannya, maka pembinaan SDM menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan-tantangan pembangunan bangsa di masa depan. Manusia yang berkualitas di masa depan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) memiliki iman dan takwa serta moralitas, 2) memiliki tanggungjawab pribadi dan sikap jujur, 3) memiliki fisik atau jasmani yang sehat, 4) menghargai ketepatan waktu, 5) memiliki etos kerja yang tinggi, 6) memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya, dan 7) menghargai dan memiliki ilmu pengetahuan.[4]
Dari tujuh kriteria manusia berkualitas diatas, menghargai ketepatan waktu masuk di dalamnya, sehingga masalah manajemen waktu membutuhkan perhatian yang besar pada diri muslim, agar dapat mengembangkan potensi secara maksimal dan berkualitas. Rumusan ciri manusia yang berkualitas tersebut diatas, relevan dengan ciri manusia modern, yang dirumuskan oleh Alex Inkeles yaitu: 1) kecenderungan menerima gagasan-gagasan baru, 2) kesediaan menyatakan pendapat, 3) kepekaan pada waktu, dan lebih mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu tang telah lalu, 4) rasa ketepatan waktu yang lebih baik, 5) keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi, 6) kecenderungan memandang dunia sebagai suatu yang bisa dikalkulasi, 7) menghargai kekuatan ilmu dan teknologi, dan 8) keyakinan bahwa keadilan bisa diratakan.[5]
Pengertian Manajemen Waktu
Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.[6] Manajemen berasal dari bahasa Inggris,dari kata to manage yang sinonimnya antara lain to hand berarti ‘mengurus’, to control ‘ memeriksa’ to guide ‘ memimpin. Jadi, apabila hanya dilihat dari asal katanya, manajemen berarti pengurusan, pengendalian, memimpin atau membimbing.[7] Sebagai ilmu pengetahuan, manajemen juga bersifat universal dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang cenderung benar dalam semua situasi manajerial.[8]
Sedangkan arti waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.[9] Menurut filsafat waktu yaitu ukuran atau gerak,[10] Dan pergerakan selalu berada waktu yang terukur, sementara kehidupan sebagai adanya gerakan selalu berada dan dapat diukur dengan waktu. Waktu pada dirinya bersifat absolut seperti hitungan satu jam adalah 60 menit. Namun waktu dalam kaitannya dengan eksistensi manusia dapat bersifat relatif. Pengertian waktu menurut Nurul Mubin adalah seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang maupun yang akan datang, sebagaimana dalam kajian bahasa Arab, ada masa lalu atau disebut dengan al-madzi, masa kini yang disebut al-aan, dan masa depan atau masa yang akan datang yang disebut mustaqbal.[11]
Manajemen adalah proses penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran.[6] Manajemen berasal dari bahasa Inggris,dari kata to manage yang sinonimnya antara lain to hand berarti ‘mengurus’, to control ‘ memeriksa’ to guide ‘ memimpin. Jadi, apabila hanya dilihat dari asal katanya, manajemen berarti pengurusan, pengendalian, memimpin atau membimbing.[7] Sebagai ilmu pengetahuan, manajemen juga bersifat universal dan mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis mencakup kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan konsep-konsep yang cenderung benar dalam semua situasi manajerial.[8]
Sedangkan arti waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.[9] Menurut filsafat waktu yaitu ukuran atau gerak,[10] Dan pergerakan selalu berada waktu yang terukur, sementara kehidupan sebagai adanya gerakan selalu berada dan dapat diukur dengan waktu. Waktu pada dirinya bersifat absolut seperti hitungan satu jam adalah 60 menit. Namun waktu dalam kaitannya dengan eksistensi manusia dapat bersifat relatif. Pengertian waktu menurut Nurul Mubin adalah seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang maupun yang akan datang, sebagaimana dalam kajian bahasa Arab, ada masa lalu atau disebut dengan al-madzi, masa kini yang disebut al-aan, dan masa depan atau masa yang akan datang yang disebut mustaqbal.[11]
Waktu dalam Perspektif Islam
Begitu pentingnya keberadaan waktu, sehingga seseorang dikatakan merugi akibat menyia-nyiakannya. Demikian juga Allah SWT sebagai pencipta waktu juga bersumpah atas nama waktu. Maka, waktu tentu menjadi hal yang sangat penting bagi allah SWT, terlebih bagi hamba-Nya, yang mau berfikir dan merenungkan kesaksian Allah SWT atas nama waktu...[12] Penyebutan kata “waktu dengan sebutan al-waqtu banyak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Sebagai contohnya arti dari QS. Al-A’raf (7): 187
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku: tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang dilangit dan di bumi, kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[13]
Beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata al-waqtu adalah QS. Al-Hijr (15): 38 “ Ila yaumil waqtil ma’lum” yang artinya sampai hari ( suatu) waktu yang telah ditentukan.[14]Untuk menjelaskan akan pentingnya waktu, Allah telah bersumpah dalam permulaan surat-surat Makkiyah, dengan beberapa hal yang berkaitan dengan waktu, seperti waktu pagi, siang, sore, karena waktu mengandung berbagai kemuliaan dan waktu juga mengandung berbagai bencana bagi umat manusia. Sumpah-sumpah Allah atas nama waktu dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: QS.Al-Lail (92):1-2, QS. Al-Fajr (89): 1-2, QS. Adh-Dhuha (93): 1-2 dan QS. Al-Ashr (103): 1-3.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa karakteristik waktu adalah: 1) cepat berlalu dan tidak akan kembali, 2) menjadi kekuatan bagi orang bijak, 3) kekayaan yang bernilai tinggi.[15]Waktu merupakan kekayaan yang nilainya sangat tinggi dibandingkan dengan segala benda dan harta kekayaan yang banyak sekalipun, belum tentu seseorang akan mendapatkan banyak kesempatan, karena waktu tidak dapat dibeli dengan emas dan perak. Hasan Al-Bana mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan, seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan menggunakan waktu tersebut.
Dalam Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf Qordhowi, disebutkan ada dua situasi saat manusia merasakan penyesalan karena kehilangan waktu, pertama: ketika pencabutan ruh dari jasad ( kematian), tatkala manusia berpindah dari kehidupan di dunia dan menyongsong kehidupan akhirat. Seandainya diberikan masa pengunduran atau waktu penundaan ajal barang sebentar, ia berjanji akan memperbaiki apa-apa yang telah ia rusak selama ini. Ia akan mengejar kembali apa yang telah ia lewatkan, kedua: manusia akan menyesal ketika ia mendapatkan balasan atas apa yang telah ia lakukan di muka bumi. Kewajiban seorang muslim terhadap waktu adalah memanfaatkan waktu, membunuh waktu dan memanfaatkan waktu luang.[16]
Dapat disebutkan kendala-kendala efisiensi waktu adalah sebagai berikut : 1) lalai, 2) menunda-nunda, 3) kekosongan hati. Dari kendala-kendala yang ada tersebut diatas, solusinya adalah 1) harakah ( pergerakan) terarah, 2) bergaul dengan masyarakat, 3) suka membantu orang lain, 4) membaca, 5) berdiskusi dan 6) bertamasya.[17]Dari paparan mengenai kendala-kendala mengefiesiensikan waktu, cara mengefektifkan waktu tersebut diatas, diharapkan dapat merubah mindset umat Islam. Dengan demikian kejayaan yang pernah diraih oleh para pendahulu akan dapat terulang kembali.
Begitu pentingnya keberadaan waktu, sehingga seseorang dikatakan merugi akibat menyia-nyiakannya. Demikian juga Allah SWT sebagai pencipta waktu juga bersumpah atas nama waktu. Maka, waktu tentu menjadi hal yang sangat penting bagi allah SWT, terlebih bagi hamba-Nya, yang mau berfikir dan merenungkan kesaksian Allah SWT atas nama waktu...[12] Penyebutan kata “waktu dengan sebutan al-waqtu banyak dijumpai dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Sebagai contohnya arti dari QS. Al-A’raf (7): 187
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku: tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang dilangit dan di bumi, kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “ Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.[13]
Beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an yang menyebutkan kata al-waqtu adalah QS. Al-Hijr (15): 38 “ Ila yaumil waqtil ma’lum” yang artinya sampai hari ( suatu) waktu yang telah ditentukan.[14]Untuk menjelaskan akan pentingnya waktu, Allah telah bersumpah dalam permulaan surat-surat Makkiyah, dengan beberapa hal yang berkaitan dengan waktu, seperti waktu pagi, siang, sore, karena waktu mengandung berbagai kemuliaan dan waktu juga mengandung berbagai bencana bagi umat manusia. Sumpah-sumpah Allah atas nama waktu dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: QS.Al-Lail (92):1-2, QS. Al-Fajr (89): 1-2, QS. Adh-Dhuha (93): 1-2 dan QS. Al-Ashr (103): 1-3.
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa karakteristik waktu adalah: 1) cepat berlalu dan tidak akan kembali, 2) menjadi kekuatan bagi orang bijak, 3) kekayaan yang bernilai tinggi.[15]Waktu merupakan kekayaan yang nilainya sangat tinggi dibandingkan dengan segala benda dan harta kekayaan yang banyak sekalipun, belum tentu seseorang akan mendapatkan banyak kesempatan, karena waktu tidak dapat dibeli dengan emas dan perak. Hasan Al-Bana mengatakan bahwa waktu adalah kehidupan, seseorang dapat menjalani kehidupannya dengan menggunakan waktu tersebut.
Dalam Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan oleh Yusuf Qordhowi, disebutkan ada dua situasi saat manusia merasakan penyesalan karena kehilangan waktu, pertama: ketika pencabutan ruh dari jasad ( kematian), tatkala manusia berpindah dari kehidupan di dunia dan menyongsong kehidupan akhirat. Seandainya diberikan masa pengunduran atau waktu penundaan ajal barang sebentar, ia berjanji akan memperbaiki apa-apa yang telah ia rusak selama ini. Ia akan mengejar kembali apa yang telah ia lewatkan, kedua: manusia akan menyesal ketika ia mendapatkan balasan atas apa yang telah ia lakukan di muka bumi. Kewajiban seorang muslim terhadap waktu adalah memanfaatkan waktu, membunuh waktu dan memanfaatkan waktu luang.[16]
Dapat disebutkan kendala-kendala efisiensi waktu adalah sebagai berikut : 1) lalai, 2) menunda-nunda, 3) kekosongan hati. Dari kendala-kendala yang ada tersebut diatas, solusinya adalah 1) harakah ( pergerakan) terarah, 2) bergaul dengan masyarakat, 3) suka membantu orang lain, 4) membaca, 5) berdiskusi dan 6) bertamasya.[17]Dari paparan mengenai kendala-kendala mengefiesiensikan waktu, cara mengefektifkan waktu tersebut diatas, diharapkan dapat merubah mindset umat Islam. Dengan demikian kejayaan yang pernah diraih oleh para pendahulu akan dapat terulang kembali.
[2]
Nurkholis Madjid, Masyarakat Religius Membumikan Nilai-nilai
Islam dalam Kehidupan Masyarakat ( Jakarta: Paramadina,20, hlm. 21.00)
[3]
Shahrin Harahap, Islam Dinamis Menegakkan Nilai-nilai Ajaran
Al-Qur’an dalam Kehidupan Modern di Indonesia ( Yogyakarta: PT.Tiara Wacana
Yogyakarta, 1007), hlm. 90.
[5]
Myron Weiner, Modernisasi Dinamika Pertumbuhan ( Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1980 ), hlm. 29.
[6]
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia
( Jakarta: Balai Pustaka, 1994), hlm. 623.
[7]
Ek. Mochtar effendy, Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan
Ajaran Islam ( Jakarta: Brataya Karya, 1986), hlm. 9.
[8]
Handoko, Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia ( Yogyakarta: BPFE,
1996), hlm. 6.
[9]
Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Kamus ...hlm. 1123.
[10]
Musa Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual ( Yogyakarta:
LESFI,2002), hlm.47.
[11]
Nurul Mubin, “ Wal ‘Ashr” Menyingkap Tirai Rahasia Sumpah Allah SWT Terhadap Masa (
Waktu) ( Yogyakarta: Diva Press, 2007), hlm. 16.
[13]
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya ( Surabaya:
CV. Pustaka Agung Harapan, 2006), hlm. 235.
[15]
Yusuf Al-Qardhawi, Manajemen... hlm. 14-17.
[17]
Jasiem M. Badr al-Muthowi’, Efisiensi Waktu Konsep Islam, terj. M.
Azhari Hatim, Lc, Rofi Munawar, Lc, Cet.3. ( Surabaya: Risalah Gusti, 2004),
hlm. 73-77.


0 komentar:
Posting Komentar