Jumat, 14 Februari 2014

MENGGAPAI ASA, MERAIH MIMPI


Udara di siang itu begitu panas, walau  angin  berhembus sepoi-sepoi basah. Riuh rendah suara siswa yang bercengkrama di berbagai sudut sekolah menambah semaraknya suasana  kala itu. Bu Vina, demikian beliau dipanggil oleh murid-muridnya, sedang duduk-duduk di depan ruang Tata Usaha (TU) dikelilingi murid-murinya. Saat itulah terjadil dialog yang santai  serta penuh keakraban dengan beberapa siswanya tentang berbagi hal.Tiba-tiba ada suara dari salah satu siswanya yang sudah duduk disampingnya, " Buk... aku ingin sekolah..". Bu Guru Vina kurang merespon ucapan muridnya tersebut, sebab kata seperti itu kan biasa dan lumrah bagi siswa yang berada di kelas IX. Apalagi saat itu bukan hanya dia yang bercengkerama dengan beliau. Namun anehnya, ternyata  kata-kata itu terus terngiang-ngiang di telinga ibu guru Vina. Kata-kata polos yang keluar dari salah satu muridnya  menyita perhatiannya. Murid yang lugu, tawadlu dan selalu rendah hati serta berkemauan keras termasuk susah dicari di jaman ini. Dia memang termasuk langka untuk ukuran siswa masa kini. 
***
 Ada apa ini ya? Saya merasa biasa-biasa saja dengan anak itu, tidak ada yang istimewa dari dia, kecuali keluguan dan kepolosannya. Saya tidak dekat dan akrab dengannya, tetapi mengapa ia melontarkan keinginan hatinya padaku? Apakah ini hanya gurauan atau ucapan spontan ? Atau... atau... dan atau... banyak pertanyaan berkecamuk di hati Bu Vina. Apakah ia butuh bantuanku? Apa yang harus kulakukan? Mengingat hari itu adalah hari yang sangat bersejarah bagi siswa-siswi kelas IX. Pengumuman kelulusan siswa tahun 2006 silam, yang sangat dinanti-nanti oleh berbagai pihak, terutama siswa siswinya. Namun, tak disangka kata-kata dan bayangan wajahnya itu kembali hadir ketika beliau sudah berada di rumah. Sampai malampun tiba, kata-kata itu kembali hadir. Tatapan matanya yang tulus dan kata-katanya yang santun tidak dapat dilupakannya, seakan memohon bantuan dari seorang guru yang dianggap ibunya. Mana mungkin kau tega Vina... dia tulus memohon uluran tanganmu, begitu suara hati Bu Vina tentang siswa itu.  Tak tahulah... akhirnya Bu Vina memutuskan untuk mengajak bicara siswa tersebut keesokan harinya.
***
Hari yang dinantipun tiba juga, pagi yang cerah... sang surya memancarkan sinarnya. Menghangatkan suasana pada semua penghuni. Bunga warna-warni yang berbaris rapi di sepanjang  kelas menambah indahnya suasana pagi itu. Semua warga sekolah menyambut dengan penuh semangat dan optimis. Lalu lalang siswa siswi yang berseragam putih biru menuju kelasnya masing-masing. Bel belum berbunyi. Semua sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba.... siswa itu melintas di halaman. Secara spontan Bu Vina Memanggilnya.
Albab... Albab... kesinilah, ibu ingin bicara padamu.
Dengan senyum mengembang Albab membalas panggilan Bu  Guru Vina.
"Ya Bu Vina...",  Ada apa bu Vina?”
 Albab... Ibu ingin bincang-bincang padamu bisa tidak? Bu Vina melanjutkan pembicaraannya.
“Bisa Bu… bisa ada apa ya Bu Vina?” Saya jadi penasaran sendiri mengapa Bu Vina mau berbincang-bincang denganku. Wach, pasti ada kejutan darinya, batinnya.
 "Ya... Alhamdulillah kalau Ibu berkenan bincang-bincang dengan saya ".
Kita ke Musholla saja ya... sekalian nanti sholat Dhuha”.  baik bu...”. Albab mengiyakan ucapan Bu Vina sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.  Sebagai ibu guru yang baik, beliau menanyakan kabar hari ini serta memberi ucapan selamat atas kelulusannya. Walau dia bukan anak yang istimewa di bidang akademik, namun dia termasuk kriteria murid yang tidak nakal. Ketaatannya kepada bapak ibu guru serta tingkah lakunya yang baik merupakan perilaku yang perlu diteladani oleh siswa lain. Dan itulah kelebihannya.
“ Apa yang sebenarnya terjadi Albab? Ibu ingin mendengar sejujurnya tentang kau dan harapan ke depan . “Kau mau melanjutkan sekolah dimana?”
Sejenak keduanya terdiam terbawa oleh pikiran masing-masing yang terbang entah kemana. Albab terdiam dan menunduk, seakan ada beban yang ada di hati dan pikirannya. Dia menghela nafas dalam-dalam seakan menata hati sebelum berbicara.
 “ Bu... bolehkah saya sedikit cerita tentang keadaan saya yang sebenarnya?” “Tentu saja Albab... bukankah tadi ibu sudah bilang, bahwa ibu ingin mendengarkan keinginanmu ke depan, mau sekolah dimana atau mungkin masuk Pondok Pesantren untuk memperdalam ilmu agama atau mungkin mau bekerja saja?”
Kali ini pandangan mata Albab merunduk, tidak berani memandang ke depan apalagi memandang Bu Vina.  Kelihatannya ada beban yang ditanggungnya, dan ini butuh solusi. Berkali-kali Albab menghela nafas untuk menata hati sebelum bicara.
“ Ayo bicaralah terus terang Albab,mungkin ibu dapat membantumu”.
  Begini Bu, sejujurnya   saya memang ingin sekolah seperti teman-teman yang lain, namun kelihatannya tidak mungkin,  Bapak saya kecelakaan dan menyebabkan tulang kakinya remuk seperti dipress. Demi menyelamatkan nyawanya, tulang kaki sebelah kirinya harus dipotong. Sekarang memang sudah sembuh dan sehat seperti sedia kala, namun untuk dapat mencangkul di sawah dan ladang,  beliau harus melakukannya dengan duduk, sebab tulang kakinya tidak mungkin menyangganya”.
Sambil menerawang jauh, Albab berkali-kali menghela nafas panjang. Kemudian dia mengutarakan keinginannya isi hatinya dengan jujur dan berterus terang.
 “ Saya punya tabungan Rp.500.000,-. Uang itu saya kumpulkan sejak sekolah di Sekolah Dasar ( SD ) sampai dengan sekarang, namun kelihatannya uang sekecil itu tidak mungkin cukup untuk mendaftar di SMA.” Saya bingung bu, Saya harus bagaimana dan harus berbuat apa?” Saya ingin sekali bersekolah seperti teman-teman lainnya.
 Begitu mendengar cerita itu, hati Bu Vina trenyuh dan bergetar. Sejenak keduanya terdiam dan berfikir keras, sekiranya apa yang dapat dilakukan untuk membantu Albab agar dapat sekolah di SMA seperti keinginannya. Dia butuh bantuan, yaitu ingin melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.
Duh Gusti Allah... Yang Maha Tahu, Yang Maha Kaya, Yang Maha Adil dan Maha  segalanya berikan jalan terbaikMu untuknya, muridku yang satu ini”. Doa  Bu Vina mengiringi langkah Albab dalam meraih mimpinya.
  Apakah kau betul-betul ingin sekolah”?
“Ya Bu, betul, saya ingin sekali bersekolah.”
Apakah Ibu punya jalan keluar?” 
Ibu Vina tersenyum sambil menepuk pundak Albab. Albab bisa merasakan rasa kasih sayang  seorang Ibu guru. Albab hanya  terdiam.
“Bagus Albab, kau memang harus sekolah. Mencari ilmu itu wajib bagi seorang muslim dan muslimat. Kau harus semangat dalam meraih mimpi.” Orang yang beriman dan berilmu itu akan diangkat derajatnya oleh Allah sampai beberapa derajat. Bahkan para malaikatpun akan tunduk dan menghormati bagi para pencari ilmu. Ibu setuju sekalidan mendukung sepenuhnya.  Ibu akan berusaha cari eguh pratikel, kebetulan ibu punya kenalan seorang Kepala Sekolah di kota ini, semoga kau bisa sekolah lagi. Ibu  akan ceritakan kondisimu apa adanya, semoga beliau terketuk hatinya. Tapi janji ya, kalau nanti usaha ini berhasil dank au bisa benar-benar melanjutkan sekolah,  tolong jaga nama baik diri sendiri dan sekolah. Jangan sampai mengecewakan banyak orang. Kepercayaan datangnya hanya sekali. Ibu tidak bisa membantu secara materi, tapi ibu berjanji membantu secara moral dan doa.”
“Ya bu, terimakasih, terimakasih. Terima kasih banyak bu.”
Albab mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda setuju,  dan nampak ada guratan kegembiraan yang luar biasa memancar di wajahnya nan lugu.
Walau ini baru ide dan ikhtiar, namun semoga dapat menjadi suatu kenyataan.
***
 Albab dapat melanjutkan pendidikannya di sebuah  Kota kecil. Setiap pagi dia jalan kaki dari kampungnya menuju ke sekolahan. Panas terik mentari serta dinginnya hujan tidak menyurutkan niatnya untuk tholabul ‘ilmi,  mencari ilmu. Dia berbeda dari teman-teman lainnya, ketika teman seusianya sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, dia sibuk di organisasi. Sungguh tidak diduga, ternyata dia mempunyai kemampuan leadership juga. Dia menjadi pengurus OSIS di sekolahannya. Bahkan dialah ketuanya. Wow, ternyata semua sangat mungkin bagi Allah untuk memberikan jalan keluar. Setiap lebaran tiba Albab selalu mengunjungi rumah Bu Vina di desa. Walau bersepeda ontel, tidak menyurutkan niatnya untuk selalu menjaga tali silaturrahim diantaranya. Masih ingat kejadian di siang itu, dengan keringat yang membasahi badannya, dia tiba di rumah Bu Vina yang terletak di desa dengan jarak tempuh puluhan kilometer.
“ Assalamualaikum, Bu Vinanya ada?”
“ Ada, sebentar saya panggilkan. Silahkan duduk dulu mas.”
“ Ya, terimakasih.”
Jihan dan Ima kembali bermain-main dengan temannya di halaman. Mereka bercengkerama sambil main bekelan dan loncat tali. Mereka asik dengan dunianya sendiri sementara Albab bercakap dan berbincang dengan Bu Vina dan Pak Fuad suaminya.
***
Selepas dari SMA, Albab melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang ada di Salatiga. Setiap hari, sepeda ontel itu menemaninya kemanapun dia pergi, kuliah memberikan layanan les privat sampai dengan pergi ke pengajian dan ke pasar. Dia rajin mengumpulkan rupiah demi rupiah yang dia peroleh dari memberikan layanan les privat dan juga mengajar anak-anak TPQ di sela-sela kesibukannya. Alhamdulillah juga, dia menerima beasiswa dari perguruan tinggi di manadia kuliah. Sungguh dia mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah padanya. Dimudahkan usahanya mencari ilmu dan rizki serta dimudahkan di dalam memahami mata kuliah yang harus dikuasanya. Allah betul-betul Maha Kaya dan Maha Adil. Dia memberikan pertolongan pada hamba-hambaNya yang mau memohon dan berusaha dengan keras. Dia memberikan rezeki dari berbagai jalan yang tidak pernah disangka oleh hambaNYa. Dia member jalan keluar bagi hamba-hambaNya yang mau berusaha dan berdoa. Tiada keraguan hati Albab pada Allah , Rabb dan sesembahannya. Hanya kepadaNyalah tempat berlindung dan memohon.
***
Tidak disangka, pada hari Senin, tanggal 9 September 2013, Bu Vina melihatnya di Jalan Kamboja, dengan sepeda ontelnya, dia berangkat kuliah di Salatiga.
”Bu Vina, Assalamualaikum, mau kemana Bu”
“Ini tadi ibu dari home visit pa kabar mas?
“ Baik, mohon doa restunya, mau kuliah Bu. Hampir selesai, sebentar lagi Sarjana bu”.
 Siapa yang mengira kalau dia diberi kemudahan untuk mengejar impiannya sampai ke Perguruan Tinggi. Kalau bukan atas kekuasaan-Nya, rasanya tidak mungkin. Ya Rabb... mudahkanlah langkah-langkahnya,  semoga ilmunya bermanfaat, bermanfaat bagi sesama.  Sepeda ontel itu menjadi saksi atas perjuangan dan kegigihannya untuk merubah nasib.


0 komentar:

Posting Komentar

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Umi Basiroh. Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu

Popular Posts

Followers

 
Template designed by Liza Burhan